Jakarta — Tren dessert ubi cream cheese belakangan ramai diperbincangkan di media sosial dan diburu pengunjung di pusat perbelanjaan. Camilan manis berbahan dasar ubi ini kerap dianggap sebagai pilihan yang lebih sehat dibanding dessert manis lainnya karena menggunakan bahan yang dinilai lebih alami.
Namun, dokter spesialis gizi klinik dr. Raissa E Djuanda, SpGK, mengingatkan bahwa tambahan topping tinggi gula dan lemak tetap dapat meningkatkan kandungan kalori pada dessert tersebut. Ia menilai persepsi “lebih sehat” bisa membuat orang lengah dan mengonsumsinya secara berlebihan.
Menurut dr. Raissa, ubi memang mengandung karbohidrat kompleks dan serat yang baik untuk tubuh. Meski begitu, olahan ubi yang dipadukan dengan topping kekinian belum tentu menjadi camilan sehat, terutama bila porsi dan frekuensi konsumsinya tidak dikendalikan.
“Karena bahan utamanya ubi, jadi seakan-akan ini dessert atau snack sehat,” ujar dr. Raissa, dikutip Jumat (15/5/2026). Ia menambahkan, penggunaan topping yang terlalu banyak seperti cream cheese dapat membuat kandungan kalori dan lemak menjadi lebih tinggi.
“Yang perlu diperhatikan, jangan sampai makan berlebihan karena dianggap ‘sehat’. Padahal total kalori, gula, dan lemaknya mungkin sama saja dengan dessert lain pada umumnya,” katanya.
Peringatan serupa disampaikan dokter spesialis gizi klinik dr. Tjandraningrum, SpGK. Ia menjelaskan, ubi memiliki nilai gizi yang baik karena termasuk karbohidrat kompleks yang dicerna lebih lambat oleh tubuh.
“Sebenarnya kalau ubinya bagus ya, dia merupakan karbohidrat kompleks, jadi lambat diserap di dalam saluran cerna,” ujarnya.
Meski demikian, dr. Tjandraningrum menilai manfaat ubi dapat berkurang ketika dipadukan dengan topping tinggi lemak seperti cream cheese. Ia menyebut kandungan lemak jenuh pada cream cheese cukup tinggi sehingga konsumsinya perlu dibatasi.

