Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo menggelar edukasi gizi seimbang bagi remaja melalui program AKSI BERGIZI di lima sekolah selama Agustus 2026. Kegiatan bertema “Remaja Sehat untuk Generasi Emas Indonesia” ini menghadirkan narasumber Achmad Dzulkifli, S.Gz., M.Kes. dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) Cabang Kota Batu.
Rangkaian kegiatan dimulai di SMPN 1 Bantaran pada Selasa (4/8/2026), dilanjutkan ke SMPN 1 Dringu (5/8/2026) dan SMPN 4 Tongas (6/8/2026). Edukasi kemudian berlanjut di SMAN 1 Gending (21/8/2026) dan ditutup di SMPN 2 Gading (26/8/2026).
Selain siswa, kegiatan ini melibatkan guru, kepala sekolah, tim Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), serta puskesmas setempat. Materi disusun mengacu pada Pedoman Gizi Seimbang dan Gerakan Nasional Aksi Bergizi dari Kementerian Kesehatan RI.
Dalam paparannya, Dzulkifli menekankan bahwa remaja berada pada masa emas pertumbuhan kedua, ditandai lonjakan tinggi badan dan massa otot (growth spurt). Pada fase ini, otak juga berkembang pesat sehingga kebutuhan gizi meningkat. Ia mengingatkan kebiasaan makan yang terbentuk sejak remaja akan memengaruhi kesehatan saat dewasa. Menurutnya, remaja putri saat ini merupakan calon ibu yang berperan dalam melahirkan generasi bebas stunting.
Ia juga menyoroti kondisi gizi remaja di Indonesia yang dinilai masih menjadi tantangan. Mengutip Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, disebutkan 18% remaja putri mengalami anemia, stunting balita masih 21,5%, dan 23,4% penduduk dewasa mengalami kelebihan berat badan. Situasi tersebut menggambarkan beban gizi ganda, ketika kekurangan dan kelebihan gizi terjadi bersamaan.
Melalui AKSI BERGIZI, sekolah didorong membiasakan remaja menjalani pola hidup sehat. Program ini bertumpu pada tiga pilar, yakni sarapan dan minum Tablet Tambah Darah (TTD) bersama, edukasi gizi dan aktivitas fisik, serta komunikasi perubahan perilaku. Pelaksanaannya disebut terintegrasi dengan Trias UKS: pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan lingkungan sehat.
Salah satu materi yang ditekankan adalah pentingnya sarapan. Dzulkifli menyampaikan sekitar 65% remaja tidak selalu sarapan, padahal sarapan menjadi sumber energi dan membantu menjaga konsentrasi sejak jam pelajaran pertama. Ia menjelaskan sarapan sehat dapat berisi karbohidrat seperti nasi atau ubi, protein seperti telur dan tempe, sayur atau buah, serta segelas air putih.
Peserta juga dikenalkan pada panduan “Isi Piringku” dari Kemenkes RI. Dalam sekali makan, separuh piring diisi sayur dan buah, sepertiga piring makanan pokok, dan sisanya lauk-pauk dengan mengutamakan protein hewani.
Dzulkifli menjelaskan, protein hewani seperti ikan, telur, ayam, dan hati dinilai memiliki asam amino esensial yang lengkap serta kaya zat besi untuk membantu mencegah anemia. Sementara protein nabati seperti tempe, tahu, dan kacang-kacangan tetap dianjurkan karena kaya serat, relatif terjangkau, dan mudah didapat. Ia menganjurkan keduanya dikombinasikan setiap hari.
Khusus remaja putri, ia mengajak untuk rutin mengonsumsi TTD satu tablet per minggu sepanjang tahun. Disebutkan setiap tablet berisi 60 mg zat besi dan 0,4 mg asaolat. Ia juga meluruskan anggapan bahwa TTD dapat membuat gemuk, dengan penjelasan bahwa tubuh menyerap zat besi sesuai kebutuhan. Untuk meningkatkan efektivitas, TTD disarankan diminum dengan air putih atau air jeruk, dan tidak dikonsumsi bersamaan dengan teh, kopi, atau susu.
Materi lain yang disampaikan dalam rangkaian edukasi mencakup anjuran aktivitas fisik minimal 60 menit per hari, misalnya berjalan kaki ke sekolah, bersepeda, senam, atau menari. Peserta juga mendapat penjelasan batas konsumsi gula, garam, dan lemak (G4 G1 L5), yakni 4 sendok makan gula, 1 sendok teh garam, dan 5 sendok makan lemak per hari. Dalam pemaparan disebutkan satu gelas minuman manis kemasan dapat mengandung 5–7 sendok makan gula.
Selain itu, siswa diajak memilih jajanan sehat yang bersih, tertutup, dimasak matang, dan berlabel kedaluwarsa, serta menghindari jajanan dengan pewarna mencolok dan gorengan dari minyak jelantah. Edukasi juga memuat anjuran minum air putih 8 gelas atau sekitar 2 liter per hari untuk menjaga konsentrasi dan mencegah dehidrasi. Dalam kegiatan ini turut disampaikan penjelasan terkait pubertas remaja, serta sesi diskusi kasus, kuis, dan ikrar bersama.