BERITA TERKINI
Dialog Kebijakan di Kemenko PMK Dorong Penguatan Gizi Seimbang untuk Anak Usia Sekolah

Dialog Kebijakan di Kemenko PMK Dorong Penguatan Gizi Seimbang untuk Anak Usia Sekolah

Tahap perkembangan anak usia sekolah dasar dinilai menjadi fase krusial yang perlu mendapat perhatian, termasuk dari sisi pemenuhan gizi untuk mendukung perkembangan kognitif. Perhatian terhadap kelompok usia ini antara lain diatur dalam Rencana Aksi Nasional Peningkatan Kesejahteraan Anak Usia Sekolah dan Remaja (RAN PIJAR) yang ditetapkan melalui Permenko PMK Nomor 1 Tahun 2022.

Untuk menjawab tantangan gizi pada anak usia sekolah, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menilai diperlukan pendekatan yang lebih sistematis dan holistik, serta kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Dalam konteks itu, Kemenko PMK bersama World Food Programme (WFP), Cargill, dan SEAMEO-RECFON menggelar Dialog Kebijakan Strategis tentang Gizi Anak Usia Sekolah di Kemenko PMK, Selasa (8/11).

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK Agus Suprapto mengatakan pelaksanaan RAN PIJAR menekankan peran program Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah (UKS/M) serta kolaborasi multisektoral untuk mendukung terwujudnya praktik gizi yang baik oleh siswa.

“Tahap perkembangan usia sekolah dasar merupakan salah satu tahap perkembangan krusial yang seringkali kurang diperhatikan, maka dari itu peran multi sektor pada dialog ini sebaiknya bisa mengarah pada sasaran,” ujar Agus saat memberi sambutan.

Ia merujuk data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang mencatat 23,6% anak usia 5–12 tahun mengalami stunting, 9,2% wasting, 10,8% kelebihan berat badan, dan 9,2% obesitas.

Sementara itu, Statistik Pendidikan Kemendikbudristek 2020/2021 menunjukkan dari 148.743 sekolah dasar, baru 63.665 sekolah atau 42,80% yang memiliki UKS.

Agus menekankan pentingnya pembiasaan perilaku hidup sehat pada anak usia sekolah, terutama terkait kebersihan dan jajanan sekolah. Menurutnya, sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan dalam perkembangan anak usia sekolah mencakup kesehatan fisik, kesehatan mental, dan tantangan sosial.

“Dari hasil survei di beberapa sekolah juga terjadi disparitas gizi dan konsumsi baik dari segi kualitas maupun kuantitas di Indonesia. Sudah seharusnya kita semua hadir di sana, di lapangan,” tuturnya.

Agus juga menyampaikan harapan agar dialog tersebut menjadi langkah awal dalam penentuan kebijakan strategis perbaikan gizi anak sekolah yang dilakukan secara terintegrasi dan bersinergi lintas sektor.

Dalam kesempatan yang sama, Asisten Deputi Ketahanan Gizi dan Promosi Kesehatan Kemenko PMK Jelsi Natalia Marampa mengatakan peran dan dukungan kementerian/lembaga serta lintas sektor diperlukan untuk meningkatkan status gizi anak usia sekolah dan remaja.

“RAN PIJAR diharapkan menjadi acuan dalam menyusun kebijakan, program dan target kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan Anak Usia Sekolah dan Remaja di Indonesia,” kata Jelsi.

Dialog kebijakan tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan implementasi RAN PIJAR dan UKS/M, memperkuat komitmen pemerintah dan pihak terkait dalam perbaikan gizi anak sekolah dasar, serta merumuskan rekomendasi strategi multisektor. Rekomendasi yang dibahas meliputi penguatan intervensi pendidikan gizi berbasis sekolah dan keluarga untuk membangun kebiasaan diet sehat, serta penguatan lingkungan makanan sehat di sekolah dan akses terhadap makanan bergizi dan aman di sekolah maupun di rumah.

Sejumlah pihak hadir dalam dialog itu, antara lain Perwakilan WFP Christa Räder, Analis Kebijakan Ahli Madya Direktorat Sekolah Dasar Kemendikbudristek Kurniawan, perwakilan SEAMEO-RECFON Dr. Luh Ade Ari Wiradnyani, Ketua Umum PERGIZI PANGAN Indonesia Prof. Hardinsyah, Direktur Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan Kemenag Dr. Riska Puspitasari, serta perwakilan kementerian/lembaga lainnya.