BERITA TERKINI
Delapan Cara Membantu Anak Mengatasi Rasa Takut saat Naik Pesawat

Delapan Cara Membantu Anak Mengatasi Rasa Takut saat Naik Pesawat

Perjalanan udara kerap menjadi bagian dari momen liburan keluarga. Namun, bagi sebagian anak, pengalaman naik pesawat bisa memicu rasa takut dan cemas, terutama ketika berhadapan dengan pesawat berukuran besar, ketinggian, suara mesin, hingga situasi yang terasa di luar kendali mereka.

Menurut paparan yang dirujuk dari laman Travel and Leisure, kecemasan anak saat terbang sering muncul karena mereka belum memahami apa yang sedang terjadi. Guncangan ringan akibat turbulensi atau perubahan tekanan udara pada telinga dapat ditafsirkan sebagai tanda bahaya oleh imajinasi anak. Karena itu, orang tua memegang peran penting dalam memberi penjelasan yang logis, hangat, dan menenangkan agar rasa takut tidak berkembang menjadi pengalaman traumatis.

Berikut delapan langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu anak lebih siap dan nyaman saat naik pesawat.

1. Beri edukasi visual secara rutin
Orang tua dapat memanfaatkan buku cerita atau video animasi yang menjelaskan proses naik pesawat dengan cara yang mudah dipahami anak. Jelaskan bahwa suara mesin yang keras dan sensasi melayang saat lepas landas adalah hal yang normal dan aman. Paparan informasi yang positif dapat membantu mengurangi ruang bagi rasa takut.

2. Lakukan permainan peran
Role play dapat menjadi cara sederhana untuk membiasakan anak dengan situasi penerbangan. Orang tua bisa berperan sebagai pramugari dan anak sebagai penumpang, termasuk mencontohkan pemakaian sabuk pengaman serta kebiasaan duduk tenang saat tanda sabuk pengaman menyala. Dengan cara ini, anak mengenal instruksi keselamatan tanpa merasa tertekan.

3. Libatkan anak menyiapkan tas kabin
Biarkan anak memilih barang yang ingin dibawa, seperti mainan favorit atau buku gambar. Benda yang familiar dapat memberi rasa nyaman ketika anak berada di lingkungan baru. Orang tua juga dapat menyiapkan kejutan kecil, misalnya stiker atau camilan kesukaan, sebagai bentuk penghargaan atas keberaniannya.

4. Jelaskan soal perubahan tekanan udara pada telinga
Rasa tidak nyaman pada telinga sering menjadi pemicu anak menangis, terutama saat lepas landas dan mendarat. Beri penjelasan sederhana bahwa telinga bisa terasa “tersumbat”, lalu ajarkan cara mengatasinya, seperti menelan, minum air, atau mengunyah camilan.

5. Pilih posisi duduk yang strategis
Jika memungkinkan, orang tua dapat memilih kursi di bagian depan atau di atas sayap, area yang biasanya membuat guncangan turbulensi terasa lebih minim. Kursi dekat jendela bisa membantu anak menikmati pemandangan awan, tetapi bagi anak yang takut ketinggian, kursi lorong dapat menjadi pilihan yang lebih menenangkan.

6. Siapkan distraksi yang menghibur
Rancang aktivitas yang berganti, misalnya mewarnai, bermain puzzle kecil, hingga menonton film favorit melalui hiburan di pesawat. Pergantian aktivitas membantu mencegah kebosanan yang dapat memicu anak kembali memikirkan rasa takut. Bila menggunakan gawai, pastikan daya baterai mencukupi.

7. Praktikkan teknik relaksasi bersama
Saat anak mulai panik—misalnya napas cepat atau tangan gemetar—ajak ia melakukan latihan napas dalam bersama. Orang tua juga dapat menyampaikan kalimat menenangkan, seperti memastikan bahwa anak aman dan didampingi. Ketenangan orang tua dapat membantu anak lebih stabil secara emosional.

8. Manfaatkan fasilitas untuk anak di pesawat
Orang tua dapat meminta bantuan pramugari jika anak membutuhkan sesuatu. Sejumlah maskapai menyediakan perlengkapan khusus anak atau hal kecil yang membuat anak merasa diperhatikan. Pengalaman positif ini dapat membantu anak memandang pesawat sebagai tempat yang ramah.

Selain delapan langkah tersebut, suasana perjalanan juga dapat dibuat lebih nyaman dengan menanamkan ekspektasi positif sejak sebelum hari keberangkatan. Datang lebih awal ke bandara membantu ritme perjalanan lebih tenang sehingga anak tidak ikut terbawa stres. Selama menunggu boarding, membawa aktivitas favorit dan camilan dapat menjaga suasana hati anak tetap stabil.

Saat turbulensi terjadi, orang tua disarankan tetap tenang dan memberi penjelasan sederhana bahwa guncangan adalah hal wajar, seperti kendaraan yang melewati jalan bergelombang. Jika anak terlihat takut, dengarkan kekhawatirannya dan alihkan perhatian dengan cara yang lembut. Pendekatan yang hangat dan empatik dapat membantu anak memahami bahwa terbang adalah pengalaman yang aman dan bisa dinikmati bersama keluarga.