Perjalanan Abah Umar membangun usaha kuliner di Arab Saudi dimulai dari masa-masa sulit saat merantau ke Jakarta. Ia pertama kali mengenal dunia kuliner ketika warung Tegal (warteg) sedang ramai di Jakarta pada akhir 1980-an. Saat itu, Umar yang masih remaja bekerja membantu di warteg-warteg sederhana dengan penghasilan yang disebutnya tidak lebih dari Rp30 ribu per bulan.
Kondisi ekonomi yang serba kekurangan membuatnya pernah tidur di kolong jembatan di kawasan Kebayoran Lama. Dalam periode itu, ia mengaku menjalani hari-hari dengan keterbatasan: tidur beralaskan kardus, makan seadanya, hingga mengandalkan belas kasih orang lain. Di tengah kesulitan, Umar mulai mengamati cara memasak, menyajikan makanan, dan melayani pelanggan—pengalaman yang perlahan menumbuhkan minatnya untuk belajar lebih jauh.
Ia juga bercerita pernah tergoda mencari jalan pintas dengan mendatangi Banten untuk mencari ilmu pesugihan pada sekitar 1997, namun tidak membuahkan hasil. “Saking miskinnya, saya sampai dikira orang gila,” tuturnya.
Perubahan mulai terjadi ketika ia bertemu seorang guru agama yang mengajaknya nyantri dan memberi nasihat agar ia memperbaiki diri bila ingin berhasil. Ketekunan belajar agama sembari tetap berkecimpung di dunia kuliner disebutnya berpengaruh pada perbaikan ekonomi. Ia kemudian bekerja di sebuah restoran di Jakarta, dan kemampuan memasaknya semakin terasah.
Pada 2011, Abah Umar mengikuti ajang MasterChef Indonesia musim pertama, meski tidak sampai selesai karena tidak mendapat izin dari bos tempatnya bekerja. Setelah itu, ia melanjutkan perantauan ke luar negeri, termasuk ke Singapura dan Abu Dhabi, hingga akhirnya berangkat ke Arab Saudi pada 2014.
Awal merintis di Makkah tidak berjalan mulus. Umar sempat bekerja serabutan dan mengaku nyaris putus asa hingga ingin kembali ke Indonesia. Ia kemudian pindah ke Madinah dan mulai merintis usaha dengan membuka warung makan kecil-kecilan, sebelum akhirnya berhasil mendirikan restoran.
Kini, Abah Umar disebut memiliki enam restoran yang tersebar di Makkah, Riyadh, dan Madinah. Di Madinah, ia memiliki dua restoran bernama Medina Asian Restaurant. Restoran pertama berada di kawasan Bukit Uhud, sementara restoran kedua berada dekat Masjid Nabawi dan disebut belum genap satu tahun beroperasi.
Selain menyajikan masakan khas Nusantara, salah satu menu favorit pelanggan adalah pisang goreng tanduk crispy. Abah Umar menyebut pisang tanduk diimpor dari India, sementara bumbu-bumbu khas Indonesia didatangkan langsung dari Tanah Air untuk menjaga kualitas rasa. “Pisang tanduk dari India lebih mudah dan murah,” katanya.
Dari sisi pendapatan, restoran di Madinah disebut bisa menghasilkan sekitar 300 ribu riyal per bulan atau setara Rp1,3 miliar. Namun, menurut Abah Umar, capaian itu tidak membuatnya berpuas diri. Ia justru mengaku semakin terdorong untuk berbagi, mengingat pengalaman hidupnya ketika tidak memiliki apa-apa.
Restorannya di Madinah juga kerap menjadi tempat makan gratis bagi warga Indonesia yang sedang mengalami kesulitan. Bagi Umar, nilai kesuksesan tidak semata diukur dari omzet, melainkan dari manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain. Ia menekankan dua hal yang menurutnya penting untuk menjaga pelanggan: rasa makanan dan pelayanan sepenuh hati. “Memperlakukan pelanggan seperti keluarga, melayani benar-benar dengan hati,” ujarnya.
Selain berbisnis di Arab Saudi, Abah Umar juga menjalankan usaha Pisang Goreng Tanduk Crispy di Bintaro, Jakarta Selatan, yang disebut berkembang hingga 26 outlet.
Di tengah kesibukan usaha, Abah Umar menyimpan sejumlah harapan. Salah satunya ingin menjadi penyedia katering bagi jemaah haji Indonesia. Ia mengaku telah mengamati seluk-beluknya dan bercita-cita menghadirkan makanan yang lebih layak, lebih nikmat, dan lebih manusiawi bagi jemaah. “Saya ingin bikin dapur sendiri, mudah-mudahan terlaksana,” katanya.
Ia juga menyampaikan keinginan untuk memboyong keluarganya ke Madinah, serta harapan untuk wafat di Tanah Suci. “Saya ingin wafat di sini,” ujarnya.
Di sisi lain, kehadiran Medina Asian Restaurant menjadi tempat melepas rindu masakan Nusantara bagi sebagian warga Indonesia di Madinah. Ahmad Wildan, mahasiswa Indonesia yang menempuh S1 di Universitas Islam Madinah, mengatakan ia dan teman-temannya hampir setiap pekan mendatangi restoran yang berjarak sekitar 5 kilometer dari Masjid Nabawi itu. Menu favoritnya adalah bebek goreng sambal hijau.
Menurut Wildan, rasa masakan di restoran tersebut mengingatkannya pada makanan Indonesia. “Makan di sini tuh nostalgia banget, karena citra rasanya gak beda jauh dengan masakan khas Nusantara,” ujarnya. Ia juga menilai hubungan Abah Umar dengan para pelanggan terasa dekat. “Kita sudah akrab banget dengan Abah Umar, setiap ada acara kita selalu diundang, termasuk pada saat launching restoran ini,” katanya.

