BERITA TERKINI
Cuaca Pancaroba Tingkatkan Risiko Infeksi pada Anak, Dokter Tekankan Gizi Seimbang dan Pola Hidup Sehat

Cuaca Pancaroba Tingkatkan Risiko Infeksi pada Anak, Dokter Tekankan Gizi Seimbang dan Pola Hidup Sehat

Perubahan cuaca yang tidak menentu belakangan ini dinilai dapat meningkatkan risiko anak terserang berbagai penyakit. Dokter spesialis gizi klinik dr. Joshua Asley, Sp.GK, menjelaskan bahwa cuaca bukan penyebab langsung anak jatuh sakit, tetapi dapat menjadi faktor yang mempermudah penyebaran virus dan bakteri.

Menurut dr. Joshua, kondisi cuaca yang berubah cepat—misalnya panas lalu tiba-tiba hujan—dapat mendukung penyebaran kuman. Situasi tersebut juga dapat diperburuk oleh polusi udara yang ikut memengaruhi daya tahan tubuh anak. Kombinasi berbagai faktor inilah yang meningkatkan risiko terjadinya infeksi.

Ia menambahkan, kerentanan anak terhadap penyakit tidak hanya dipengaruhi lingkungan, tetapi juga kondisi tubuh yang berkaitan dengan pola makan, pola asuh, kualitas istirahat, hingga kebersihan. Karena itu, menjaga pola hidup sehat menjadi kunci agar daya tahan tubuh anak tetap optimal, terutama saat musim pancaroba.

Sejumlah penyakit yang kerap muncul pada periode ini, kata dr. Joshua, antara lain infeksi saluran pernapasan seperti radang tenggorokan dan flu. Selain itu, demam berdarah juga berisiko meningkat seiring bertambahnya populasi nyamuk pada musim hujan, serta diare yang dapat terjadi akibat konsumsi makanan yang kurang higienis.

Untuk membantu meningkatkan sistem imun anak, dr. Joshua menyarankan orang tua menerapkan pola makan bergizi seimbang. Ia menekankan pentingnya asupan yang kaya protein, buah, dan sayuran. Sebaliknya, makanan tinggi lemak, makanan olahan, serta makanan dan minuman tinggi gula sebaiknya dibatasi karena dapat memicu peradangan dalam tubuh.

Dr. Joshua mengingatkan tidak ada satu jenis makanan yang bisa membuat anak langsung kebal penyakit. Yang dibutuhkan adalah konsistensi pola makan seimbang setiap hari, termasuk sumber karbohidrat, protein hewani maupun nabati, serta vitamin dan mineral dari buah dan sayur.

Untuk konsumsi buah, ia menyarankan agar anak lebih sering mengonsumsi buah dalam bentuk utuh atau potong dibandingkan dijadikan jus. Orang tua juga tidak perlu terpaku pada satu jenis buah karena tersedia banyak pilihan buah lokal yang kaya vitamin, seperti pepaya, jeruk, pisang, jambu, dan semangka.

Terkait suplemen, dr. Joshua menyebut vitamin A, vitamin C, zat besi, zinc, maupun kalsium terkadang diperlukan. Namun, ia menegaskan suplemen bukan pengganti pola makan sehat dan pemberiannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan, terutama bila anak terbukti mengalami kekurangan zat gizi atau menunjukkan gejala defisiensi vitamin dan mineral.

Bagi anak yang mengalami picky eater, dr. Joshua mengimbau orang tua tidak memaksa anak makan. Ia menyarankan orang tua terus mengenalkan variasi makanan sehat secara bertahap, sambil tetap menyajikan makanan yang disukai anak, agar prosesnya lebih menyenangkan dan anak terbiasa mengonsumsi makanan bergizi.

Selain asupan gizi, ia menekankan pentingnya aktivitas fisik, tidur yang cukup, paparan sinar matahari, serta membatasi penggunaan gawai hingga larut malam. Menurutnya, faktor-faktor tersebut saling mendukung dalam menjaga sistem kekebalan tubuh anak.

Orang tua juga diminta mewaspadai tanda-tanda penurunan daya tahan tubuh, seperti anak lebih sering sakit dibandingkan teman seusianya, nafsu makan menurun, berat badan turun, tubuh mudah lemas, hingga luka yang sulit sembuh. Jika gejala tersebut muncul, anak disarankan segera diperiksakan ke dokter untuk mengetahui penyebabnya.

Dr. Joshua menilai masih ada kekeliruan orang tua dalam mengatur pola makan anak. Sebagian terlalu membatasi sehingga anak takut mencoba makanan, sementara sebagian lainnya justru membebaskan anak mengonsumsi apa saja dengan alasan dapat ditutupi melalui pemberian vitamin. Ia menegaskan vitamin bukan solusi untuk pola makan yang buruk dan suplemen sebaiknya diberikan hanya bila dibutuhkan.

Ia juga mengingatkan agar konsumsi makanan dan minuman manis dibatasi. Menurutnya, makanan manis boleh dikonsumsi sesekali, tetapi tidak boleh menjadi kebiasaan karena berisiko menyebabkan obesitas dan kerusakan gigi. Mengacu pada anjuran Kementerian Kesehatan, konsumsi gula harian sebaiknya tidak berlebihan, sementara kebutuhan protein, vitamin, mineral, dan zat gizi lainnya tetap harus terpenuhi.

Menutup keterangannya, dr. Joshua menekankan bahwa menjaga daya tahan tubuh anak adalah proses jangka panjang yang membutuhkan konsistensi, bukan hanya dilakukan saat musim pancaroba. Ia mendorong kebiasaan sehat diterapkan setiap hari, mulai dari makan bergizi seimbang, cukup tidur, aktif bergerak, mendapat sinar matahari, serta melengkapi dengan suplemen bila ada indikasi.