BERITA TERKINI
Cimol Bojot AA Tumbuh dari Satu Gerobak Saat Pandemi hingga 500 Gerobak dan Produksi Lebih dari 1 Ton per Hari

Cimol Bojot AA Tumbuh dari Satu Gerobak Saat Pandemi hingga 500 Gerobak dan Produksi Lebih dari 1 Ton per Hari

Bisnis kuliner Cimol Bojot AA bermula dari satu gerobak di Bandung pada masa pandemi Covid-19. Seiring waktu, usaha yang dirintis Taufik Rustiadi bersama Syahid Irfan Mubarok itu berkembang menjadi jaringan penjualan dengan sekitar 500 gerobak, mempekerjakan sekitar 1.200 karyawan, dan memiliki kapasitas produksi lebih dari satu ton per hari.

Taufik mengisahkan, titik awal usaha ini muncul ketika bisnis fesyen yang ia jalankan terdampak pandemi. Di tengah ketidakpastian, ia mengambil keputusan berisiko dengan menjual cincin nikah untuk mendapatkan modal. Dana tersebut kemudian digunakan untuk memulai usaha makanan ringan berbahan aci, cimol, yang dikenal sebagai jajanan tradisional khas Jawa Barat.

“Saya jual cincin nikah. Karena bisnis fesyen di pandemi itu terpuruk banget. Akhirnya saya coba analisis bisnis, bagaimana peluang di masa pandemi ini,” ujar Taufik saat ditemui dalam taklimat media TikTok Food Fest 2026 di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dari gerobak pertama, Cimol Bojot AA berkembang dengan pendekatan produk yang lebih variatif. Taufik melihat cimol dapat ditawarkan tidak hanya dalam bentuk sederhana, tetapi juga dikembangkan melalui isian, bumbu, topping, dan saus. Saat ini, Cimol Bojot AA memiliki sejumlah varian, seperti mozzarella, beef, ayam, campur, hingga kuah keju. Varian mozzarella disebut menjadi salah satu yang paling diminati.

Meski begitu, pertumbuhan usaha tidak berjalan instan. Pada tahap awal, Taufik dan Syahid menjalankan bisnis secara sederhana sambil mempelajari berbagai persoalan operasional. Taufik menyebut periode 2020 hingga 2024 sebagai fase “belanja masalah”, yakni masa pembenahan kelemahan usaha, mulai dari standar operasional prosedur (SOP), sumber daya manusia, produksi, hingga pemasaran.

“Kita belanja masalah dulu. Kita benerin dulu SOP dan sebagainya. Akhirnya kita serius garap social media, marketing, di TikTok,” katanya.

Perusahaan sempat mengalami lonjakan perhatian pada 2022 setelah diperkenalkan oleh seorang content creator lokal dan menjadi viral. Namun, popularitas itu datang ketika kapasitas produksi belum siap, sehingga permintaan yang meningkat justru menimbulkan persoalan baru.

“Dulu sempat viral sama content creator lokal tahun 2022. Cuma dari situ kita nggak siap produksinya. Kita nggak nyangka bakal se-viral itu,” ujar Taufik.

Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa pemasaran perlu diimbangi dengan kesiapan operasional. Perusahaan menilai, ketika permintaan meningkat, kemampuan produksi, sistem distribusi, sumber daya manusia, dan standar layanan harus ikut ditingkatkan.

Momentum pertumbuhan kembali muncul pada 2024 melalui aktivitas digital dan dukungan konten kreator. Pada 2025, Cimol Bojot AA mulai melakukan ekspansi lebih masif ke Jakarta. Pada fase awal pembukaan gerai di Jakarta, antrean pelanggan disebut sempat mencapai tiga jam. Setelah itu, jaringan penjualan diperluas ke Bekasi, Depok, Bogor, Bandung, Tangerang, dan Tangerang Selatan.

Untuk menopang perluasan titik penjualan, perusahaan mengembangkan fasilitas produksi sendiri di Bandung. Produk dari fasilitas tersebut kemudian didistribusikan ke sejumlah hub sebelum dikirim ke titik penjualan. Proses produksi juga mulai beralih dari sistem manual ke penggunaan mesin semiotomatis dan otomatis.

“Dulu manual. Sekarang di pabrik ada semi manual, ada full mesin. Next -nya ke depan kita pengen mesin semua,” kata Taufik.

Kapasitas produksi yang kini mencapai lebih dari satu ton per hari disebut diperlukan untuk memenuhi permintaan dari ratusan titik penjualan. Namun, ekspansi juga menghadirkan tantangan, terutama dalam memastikan SOP diterapkan konsisten di seluruh gerobak. Dengan ratusan titik penjualan dan jumlah karyawan yang besar, pengawasan kualitas menjadi pekerjaan yang tidak sederhana.

Dari sisi model bisnis, Taufik menyebut Cimol Bojot AA bertumbuh secara organik tanpa investor eksternal maupun skema franchise. “Saya dan Kang Syahid sebagai founder. Kita organik, nggak ada investor, nggak ada franchise,” ujarnya. Pilihan itu membuat perusahaan membangun kapasitas dengan sumber daya sendiri sekaligus mempertahankan kendali atas arah pengembangan.

Dalam pembagian peran, Taufik berfokus pada marketing, branding, dan ekspansi. Syahid berperan sebagai CEO yang mengawasi bisnis secara menyeluruh, dengan dukungan direktur profesional yang menangani operasional dan penjualan.

Selain mengandalkan gerobak sebagai titik penjualan, Cimol Bojot AA juga memanfaatkan kanal digital untuk membangun kesadaran merek dan mendorong transaksi. Saluran yang digunakan antara lain TikTok Shop, konten digital, affiliate, kreator, iklan, dan live streaming. Taufik menggambarkan strategi ini sebagai kombinasi antara kehadiran fisik dan eksistensi di ruang digital.

“Kita itu dominasinya harus di udara dan di daerah. Di daerah itu titik, di udara itu konten,” katanya.

Ke depan, Taufik menyatakan Cimol Bojot AA tidak ingin berhenti sebagai bisnis cimol. Perusahaan menyiapkan sejumlah merek baru yang mengangkat makanan tradisional Indonesia. Selain membangun merek sendiri, perusahaan juga membuka peluang kerja sama dengan UMKM lokal melalui berbagai skema, termasuk kerja sama bisnis, investasi, dan akuisisi.

“Visi saya ingin membawa lebih banyak makanan lokal naik kelas dan memiliki pasar yang lebih luas,” ujar Taufik.

Perjalanan Cimol Bojot AA menunjukkan bagaimana usaha makanan ringan dapat berkembang ketika produk, distribusi, pemasaran, dan sistem operasional dibangun beriringan. Namun, fondasi awal pertumbuhan itu bermula dari keputusan personal di masa pandemi: menjual cincin nikah untuk membiayai satu gerobak cimol di Bandung.