Membangun bisnis kuliner di tengah tantangan ekonomi bukan hal mudah. Bagi Bella Arfidya, S.Pd., pelaku usaha kuliner di Kediri Raya sekaligus pemilik Dapur Ragil dan Bhells Cookies, situasi tersebut justru menjadi dorongan untuk bertahan, berinovasi, dan mengembangkan usaha.
Perjalanan usaha Bella bermula dari Bhells Cookies pada 2015. Saat itu, produksi dilakukan bersama sang ibu dengan sistem open order, dengan kapasitas maksimal sekitar 50 toples kue kering. Setahun berselang, usaha mulai berkembang setelah dibantu seorang karyawan di bagian produksi. Pesanan meningkat perlahan hingga sekitar 80 toples pada musim Lebaran.
Perkembangan berlanjut pada 2019 ketika Bhells Cookies mampu menerima sekitar 120 toples pesanan dengan dukungan dua karyawan. Namun, Bella mengakui perjalanan usaha tidak selalu mulus, terutama ketika harga bahan baku meningkat. “Membangun bisnis di era sekarang itu sangat susah, jadi kita mencoba bertahan walaupun memang sangat berat,” ujar Bella, Senin, 21 September 2026.
Seiring waktu, Bella memperluas lini usaha dengan mendirikan Dapur Ragil pada 2022. Jika Bhells Cookies berfokus pada kue kering, Dapur Ragil menghadirkan kebutuhan kuliner harian, mulai dari kukis, katering, kue basah, hingga nasi kotak. Saat ini, usahanya didukung lima karyawan, sementara produksi Bhells Cookies dapat mencapai sekitar 1.500 toples dalam satu musim. Sejak 2020, Bhells Cookies juga membuka tiga musim pemesanan, yakni Lebaran, pertengahan tahun, dan akhir tahun.
Sebagai lulusan Sarjana Pendidikan, keputusan Bella untuk menekuni usaha secara penuh menjadi bagian dari perjalanan kariernya. Ia mengembangkan produk dengan menekankan rasa dan kualitas. Beberapa menu yang diminati pelanggan antara lain nasi daun jeruk dan ayam bakar taliwang. Sementara dari Bhells Cookies, nastar—terutama nastar keju—menjadi salah satu produk andalan.
Untuk menyiasati kenaikan harga bahan baku seperti telur, tepung, dan mentega, Bella memilih melakukan penyesuaian secara hati-hati. Menurutnya, kualitas tetap dipertahankan, sementara penyesuaian lebih mungkin dilakukan pada gramasi produk. “Kualitas tetap kita pertahankan. Kalau ada penyesuaian, mungkin dari sisi gramasi produknya yang sedikit kita sesuaikan,” katanya.
Operasional Dapur Ragil yang berjalan setiap hari turut membantu menjaga keberlangsungan usaha di tengah perubahan pasar. Di sisi lain, kreativitas menjadi faktor penting dalam mempertahankan bisnis. Bella berupaya mengikuti tren dengan mencari inspirasi menu baru dan mengikuti kursus baking. Tantangannya, kata dia, adalah menghadirkan produk yang bisa diterima lintas generasi. “Kita harus pintar-pintar mencari inovasi baru, karena pembeli itu dari segala generasi,” ujarnya.
Bella juga melihat perubahan pola konsumsi masyarakat Kediri Raya, terutama ketika konsumen semakin selektif dalam membelanjakan uang. Produk makanan cepat saji dan lauk frozen disebut menjadi salah satu pilihan karena praktis, terutama bagi ibu yang bekerja.
Dalam memperluas pemasaran, Bella memanfaatkan media sosial, termasuk melakukan siaran langsung dan kegiatan OTR (on the road) ketika pesanan tidak terlalu ramai. Pada kegiatan tersebut, ia membawa sejumlah produk seperti donat, lumpia Semarang, tahu pedas, pisang ijo, ayam goreng pandan, hingga ayam bakar taliwang, dengan jangkauan pemasaran sampai wilayah Trenggalek dan Prigi.
Dari sisi pengelolaan keuangan, Bella menerapkan pemisahan rekening bisnis dan rekening pribadi. Keuntungan dihitung secara berkala, dan sebagian dialokasikan sebagai dana darurat usaha. “Rekening bisnis harus dibedakan, jangan dicampur. Untuk dana darurat, kita ambil lima persen dari keuntungan total,” ucapnya.
Menurut Bella, pengelolaan keuangan yang tertib penting agar perputaran modal tetap terjaga. Untuk mempertahankan pelanggan, ia menekankan tiga hal utama: rasa, kualitas, dan pelayanan. Ia mengingatkan, pengalaman pelanggan dapat memengaruhi citra usaha, terlebih ketika dibagikan di media sosial. “Service itu nomor satu, kita harus ramah. Bisnis kuliner itu bisa rusak karena pelayanan yang kurang oke,” katanya.
Ke depan, Bella menargetkan pembukaan restoran di kawasan antara Tulungagung dan Trenggalek, meski masih mencari lokasi yang sesuai. Ia juga berpesan kepada masyarakat yang ingin memulai usaha agar tidak gengsi memulai dari skala kecil. “Berani mempromosikan, bisa jadi reseller dulu. Banyak yang gengsi ketika jualan, padahal bisa mulai dari hal kecil. Yang penting konsisten,” tuturnya.