Rasa kesal, emosi, dan stres saat menghadapi anak kerap dialami orangtua. Namun, kebiasaan marah terus-menerus dinilai tidak baik bagi perkembangan anak maupun kesehatan mental orangtua. Karena itu, orangtua perlu belajar mengontrol emosi untuk mencegah stres berkepanjangan.
Berikut sejumlah cara yang dapat dilakukan orangtua untuk mengelola stres dan mengendalikan rasa marah ketika menghadapi anak.
1. Dukungan suami untuk istri
Suami disarankan menyediakan waktu untuk mendengarkan istri dan memberi semangat. Theresa Pong, konselor utama di Focus on the Keluarga Singapura, menyebutkan bahwa praktik sederhana selama 10 hingga 15 menit dalam sepekan dapat mulai mengubah keadaan emosional ibu dan berdampak pada suasana rumah secara keseluruhan. Dukungan ini juga dinilai dapat membantu meningkatkan keharmonisan rumah tangga.
2. Menyisihkan waktu untuk diri sendiri
Orangtua perlu menyisihkan waktu khusus untuk diri sendiri di tengah jadwal keluarga. Dr Lim Boon Leng, psikiater di Dr BL Lim Center for Psychological Wellness, menyarankan agar orangtua bergantian mengasuh anak dengan pasangan dalam periode tertentu. Selain itu, orangtua dapat menetapkan batasan pada anak agar memiliki waktu beristirahat. Guru yoga Kundalini, Tina Chugani-Nair, mencontohkan penerapan “mommy time” kepada kedua putrinya, yakni waktu tertentu ketika anak tidak boleh mengganggu. Menurutnya, batasan seperti ini penting agar permintaan anak tidak terus-menerus datang tanpa jeda.
3. Berbuat baik pada diri sendiri
Secara kognitif, orangtua perlu memahami bahwa mereka tidak harus menjadi sempurna dan selalu memperhatikan anak setiap saat, kata Dr Lim. Terlebih bila kondisi tersebut tidak diimbangi dengan istirahat yang cukup karena keinginan untuk selalu ada bagi anak. Saat kondisi mental dan fisik orangtua terjaga, dampaknya dinilai lebih positif terhadap pola pengasuhan.
4. Berkomitmen menjaga komunikasi yang baik
Christine Wong, pendiri sekaligus pelatih psikotrauma utama RhemaWorks International, menyarankan keluarga mengatur obrolan keluarga agar setiap orang dapat berbagi perasaan tanpa disela atau dihakimi. Ia juga mengingatkan orangtua agar tidak selalu marah ketika ingin menyampaikan sesuatu kepada anak. Salah satu contoh komunikasi yang dapat digunakan adalah menyampaikan permintaan waktu untuk menenangkan diri, seperti mengatakan bahwa orangtua sedang marah dan membutuhkan waktu sendiri sementara anak bermain di kamar terlebih dahulu.
5. Mencari bantuan profesional bila diperlukan
Orangtua disarankan memeriksa kondisi emosi dengan mengunjungi psikolog atau psikiater jika dibutuhkan. Langkah ini dapat dipertimbangkan ketika orangtua merasa sudah terlalu stres menghadapi anak dan emosinya tidak lagi bisa dikontrol.