BERITA TERKINI
Cara Mengurangi Rasa Takut Naik Pesawat: Bicara dengan Awak Kabin hingga Pahami Turbulensi

Cara Mengurangi Rasa Takut Naik Pesawat: Bicara dengan Awak Kabin hingga Pahami Turbulensi

Banyak orang merasa takut saat harus naik pesawat. Penyebabnya beragam, namun kecemasan tersebut disebut dapat dikurangi dengan pendekatan yang tepat selama berada di pesawat, termasuk melakukan persiapan sebelum penerbangan.

Seorang pilot American Airlines yang dikenal sebagai Kapten Steve menyarankan penumpang yang merasa cemas untuk berkomunikasi dengan awak kabin sebelum lepas landas. Menurutnya, penumpang dapat meminta kepada pramugari agar bisa bertemu pilot, lalu menanyakan rute penerbangan serta menyampaikan bahwa dirinya gugup saat terbang.

Kapten Steve meyakini komunikasi semacam itu dapat membantu menenangkan penumpang. Ia mengatakan, pilot umumnya bersedia menjelaskan rencana perjalanan, termasuk kemungkinan kendala yang dapat terjadi, sehingga penumpang merasa lebih yakin dan tenang selama penerbangan.

Selain komunikasi, Kapten Steve juga menjelaskan turbulensi dari sudut pandang pilot. Kepada pengikutnya di TikTok, ia menyebut turbulensi sebagai guncangan mendadak akibat perubahan tekanan udara dan kecepatan aliran. Ia mengibaratkannya seperti arus sungai yang kadang tenang seperti danau, kadang lebih cepat seperti arung jeram. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan bagian dari dinamika alam.

Meski demikian, turbulensi tetap menjadi sumber ketakutan bagi banyak penumpang, terutama ketika terjadi secara kuat. Dalam laporan yang disorot, penerbangan AirCanada rute Vancouver–Singapura disebut mengalami “benturan hebat” yang membuat penumpang terlempar di dalam kabin. Disebut pula seorang pramugari asal Inggris, Eden Garrity (31), mengalami patah kaki di tujuh tempat setelah pesawat yang ditumpanginya mengalami turbulensi hebat.

Contoh lain terjadi pada penerbangan Singapore Airlines SQ321 rute London (Heathrow)–Singapura yang mengalami turbulensi parah pada Senin, 20 Mei 2024. Pesawat Boeing 777-300ER tersebut mendarat darurat di Bandara Internasional Suvarnabhumi, Bangkok, pada 21 Mei 2024 pukul 17.45 waktu setempat. Dalam penerbangan itu terdapat 211 penumpang dan 18 awak, serta terkonfirmasi korban luka dan satu korban jiwa.

Salah satu penumpang, Andrew Davies, menggambarkan turbulensi terjadi secara tiba-tiba dengan sedikit peringatan dan memicu kekacauan di kabin. Ia menyebut banyak orang terluka, termasuk pramugari, dan menilai kejadian itu sebagai yang terburuk dalam 30 tahun pengalaman terbangnya.

Dari insiden tersebut, Davies menekankan pentingnya penggunaan sabuk pengaman selama pesawat mengudara. Ia menyatakan, menurut pengamatannya, mereka yang terluka tidak mengenakan sabuk pengaman, sementara yang tetap mengenakannya tidak mengalami cedera.

Di sisi lain, sejumlah peneliti menyebut gangguan penerbangan yang berpotensi membahayakan terjadi lebih sering akibat perubahan iklim. Sebuah studi pada 2023 menemukan bahwa di Atlantik Utara—salah satu rute penerbangan tersibuk—total durasi tahunan turbulensi parah meningkat 55 persen antara 1979 hingga 2020. Disebut pula turbulensi sedang meningkat 37 persen, dan turbulensi meningkat 17 persen.

Meski angka tersebut dapat memicu kekhawatiran, Kapten Steve menilai hal itu seharusnya tidak membuat orang mengurungkan niat untuk terbang. Ia menekankan bahwa rasa aman penumpang dapat terbantu lewat pemahaman yang lebih baik, komunikasi dengan awak, serta kesiapan menghadapi kemungkinan guncangan selama penerbangan.