Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 tumbuh 5,47 persen. Angka ini meningkat dibanding kuartal sebelumnya yang tercatat 5,29 persen. Pertumbuhan tersebut disebut didorong oleh belanja pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Rilis itu segera memunculkan optimisme bahwa kondisi ekonomi berada di jalur positif. Namun, di sisi lain, keluhan warga mengenai harga pangan yang terus naik masih mengemuka. Kontras ini memunculkan pertanyaan mengapa pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi tidak selalu sejalan dengan perbaikan yang dirasakan langsung di tingkat rumah tangga.
Sejumlah pengamatan menilai lonjakan pertumbuhan pada periode ini tidak sepenuhnya mencerminkan menguatnya daya beli masyarakat. Peningkatan PDB dinilai banyak ditopang oleh kucuran belanja negara, mulai dari belanja birokrasi hingga program makan gratis yang memerlukan anggaran besar. Dalam pencatatan ekonomi, belanja pemerintah memang dapat langsung mendorong angka pertumbuhan.
Namun, ketergantungan pada dorongan fiskal dinilai memiliki batas. Ketika ruang anggaran menyempit atau kebijakan penghematan diberlakukan, laju pertumbuhan berisiko melemah. Karena itu, sebagian pihak mengingatkan agar pembacaan atas angka PDB tidak berhenti pada besaran persentase, melainkan juga melihat sumber pertumbuhan dan daya tahannya.
Di tingkat rumah tangga, tekanan paling nyata dirasakan melalui kenaikan harga bahan pangan. Bagi banyak keluarga, ukuran “ekonomi membaik” bukan terutama angka makro, melainkan kemampuan uang belanja untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti beras, cabai, dan lauk pauk tanpa harus berutang. Ketika harga kebutuhan pokok meningkat lebih cepat daripada kenaikan pendapatan, daya beli dapat tergerus.
Kondisi ini juga terkait dengan persoalan ketenagakerjaan. Meski pertumbuhan tercatat tinggi, masih ada kekhawatiran mengenai terbatasnya pekerjaan formal yang menawarkan kepastian pendapatan dan jaminan sosial. Dalam situasi seperti itu, banyak orang memilih atau terpaksa masuk ke sektor informal untuk bertahan hidup, seperti berdagang keliling, menjadi pengemudi ojek online, atau bekerja serabutan.
Dominasi pekerjaan informal membuat sebagian pekerja berada dalam posisi rentan karena penghasilan cenderung tidak tetap dan minim perlindungan. Kelompok ini kerap paling terdampak ketika harga kebutuhan pokok meningkat.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa capaian pertumbuhan ekonomi perlu dibaca bersama kondisi biaya hidup dan kualitas pekerjaan. Pertumbuhan yang tinggi dapat menjadi sinyal positif, tetapi bagi masyarakat, perbaikan ekonomi akan lebih terasa ketika kebutuhan pokok terjangkau dan lebih banyak pekerjaan yang layak tersedia.