Musim peralihan dari kemarau menuju hujan menjadi periode yang perlu diwaspadai karena anak-anak lebih rentan terserang berbagai penyakit. Pada masa ini, menjaga daya tahan tubuh anak menjadi salah satu langkah penting, termasuk melalui pemenuhan gizi dan pola hidup sehat.
Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembangan Obat Tradisional dan Jamu Indonesia, dr. Inggrid Tania, M.Si., memperkenalkan sejumlah ramuan tradisional berbahan alami yang dapat diracik dari bahan-bahan dapur. Menurutnya, cara membuatnya relatif sederhana dan bahan seperti jahe hingga bawang putih dikenal dapat membantu meredakan keluhan ringan pada anak selama musim peralihan.
Salah satu ramuan yang dikenalkan untuk membantu mengatasi batuk dan pilek pada anak usia 1–12 tahun adalah sirup madu bawang jahe. Bahan yang digunakan meliputi 30 mililiter madu murni, masing-masing satu siung bawang merah dan bawang putih, 10 gram jahe segar, serta perasan setengah buah jeruk nipis.
Proses pembuatannya dilakukan dengan mencampurkan seluruh bahan, lalu mendiamkannya selama delapan jam pada suhu ruang. Setelah itu, ramuan disaring dan disimpan dalam botol bersih di dalam kulkas.
Untuk anak yang mulai mengalami gejala seperti demam, meriang, atau batuk-pilek, Inggrid menyarankan konsumsi sebanyak 5 mililiter atau satu sendok teh per kali minum, dengan frekuensi tiga kali sehari. Sementara bagi anak yang masih sehat, ramuan dapat diberikan satu kali sehari untuk membantu memelihara kesehatan dan daya tahan tubuh.
Berbeda dengan anak usia 1–12 tahun, ramuan untuk balita di bawah satu tahun menggunakan bahan yang berbeda. Untuk bayi berusia enam bulan hingga satu tahun, Inggrid memperkenalkan ramuan berupa susu kunyit, yang dibuat dari seperdelapan hingga seperempat sendok kunyit bubuk dicampurkan ke ASI atau susu formula yang biasa dikonsumsi bayi.
Ramuan tersebut dapat diberikan satu kali sehari untuk bayi yang sehat. Adapun bagi bayi yang mengalami demam, meriang, atau batuk-pilek, dapat diberikan hingga tiga kali sehari.
Meski demikian, penggunaan ramuan herbal perlu memperhatikan usia, kondisi kesehatan, serta kecocokan bahan yang digunakan. Selain itu, upaya menjaga kesehatan anak selama musim peralihan juga didukung dengan pemenuhan gizi seimbang, istirahat cukup, menjaga kebersihan lingkungan, serta memastikan anak mendapat asupan cairan yang memadai.