Dirty Soda, minuman berbasis soda yang dicampur krim, sirup, dan buah, kembali mencuri perhatian pada 2026. Racikan yang memadukan rasa manis, creamy, segar, dan sedikit asam ini ramai diperbincangkan di media sosial, sekaligus mulai dilirik oleh industri minuman besar sebagai inspirasi inovasi produk.
Meski populer di TikTok dan platform lain, Dirty Soda bukan tren baru. Konsep minuman ini telah berkembang sejak lebih dari satu dekade lalu di Utah, Amerika Serikat, dan kini kembali mendapatkan momentum seiring perubahan selera konsumen serta menguatnya minat terhadap minuman yang dapat dipersonalisasi.
Secara sederhana, Dirty Soda adalah soda karbonasi yang dimodifikasi dengan tambahan sirup aneka rasa dan krim atau creamer, lalu dapat dilengkapi perasan lemon atau jeruk nipis, puree buah, serta es batu. Berbeda dari soda kemasan yang diminum langsung, Dirty Soda mengusung konsep racikan yang bisa disesuaikan: konsumen bebas menentukan jenis soda, pilihan sirup, tingkat kemanisan, hingga karakter rasa yang diinginkan.
Jenis soda yang umum digunakan antara lain Coca-Cola, Diet Coke, Sprite, Dr Pepper, atau soda lain. Sirupnya bervariasi, seperti kelapa, vanila, stroberi, karamel, hingga raspberry. Untuk memberi tekstur creamy, beberapa racikan memakai coconut cream, half-and-half, sweet cream, atau coffee creamer. Salah satu kombinasi klasik yang dikenal adalah Diet Coke dengan sirup kelapa, perasan jeruk nipis, dan coconut cream.
Istilah “dirty” pada Dirty Soda tidak merujuk pada sesuatu yang kotor atau tidak higienis. Sebutan itu digunakan untuk menggambarkan soda yang telah “dikotori” dalam arti dimodifikasi dengan tambahan bahan, sehingga rasa dan tampilannya berbeda dari soda aslinya.
Popularitas Dirty Soda modern disebut berawal dari Utah. Pada 2010, Nicole Tanner mendirikan gerai minuman Swig di St. George yang memperkenalkan soda dengan beragam tambahan sirup, krim, dan bahan perasa. Konsep ini berkembang di masyarakat setempat, termasuk komunitas Latter-day Saints atau anggota Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir. Di lingkungan yang sebagian anggotanya menghindari kopi dan teh, gerai soda dengan banyak pilihan racikan menjadi alternatif minuman yang diminati.
Tren tersebut kemudian meluas ke audiens yang lebih besar. Unggahan penyanyi Olivia Rodrigo yang menampilkan gelas Swig pada akhir 2021 memicu perhatian, disusul perbincangan di TikTok pada 2022. Gelombang popularitas berikutnya turut dipengaruhi acara televisi The Secret Lives of Mormon Wives pada 2024. Dengan demikian, TikTok dinilai bukan tempat lahirnya Dirty Soda, tetapi menjadi salah satu faktor yang mempercepat penyebarannya.
Pada 2026, Dirty Soda kembali viral dengan beberapa pendorong utama. Salah satunya adalah daya tarik personalisasi: satu jenis soda dapat menghasilkan banyak variasi hanya dengan mengganti sirup atau krim. Dari sisi visual, perpaduan warna soda dengan krim putih menciptakan kontras yang menarik untuk konten foto dan video, termasuk efek saat krim dituangkan ke dalam soda.
Faktor lain datang dari industri. Sejumlah merek seperti Mountain Dew, McDonald’s, dan Dunkin’ disebut mulai mengadaptasi konsep Dirty Soda melalui inovasi produk maupun menu racikan. PepsiCo juga dikabarkan melihat peluang dari kategori ini dan mengembangkan produk siap minum yang terinspirasi Dirty Soda. Perkembangan tersebut menunjukkan Dirty Soda mulai dipertimbangkan sebagai peluang inovasi komersial, bukan sekadar eksperimen rumahan.
Di Indonesia, Dirty Soda dinilai berpotensi masuk sebagai kategori baru di tengah pasar minuman kekinian yang akrab dengan inovasi rasa dan tampilan—mulai dari kopi susu, minuman berbasis teh, boba, hingga racikan buah dan susu. Dirty Soda menawarkan kombinasi karakter soda, sensasi creamy, dan nuansa minuman pencuci mulut.
Sejumlah variasi rasa juga dianggap mudah dibayangkan untuk selera lokal, misalnya Sprite dengan sirup leci dan coconut cream, Coca-Cola dengan vanila dan krim, atau soda jeruk dengan tambahan strawberry puree. Dari sisi ketersediaan, bahan baku seperti soda kemasan, sirup, krim, buah, dan es relatif mudah ditemukan melalui ritel maupun pemasok bahan minuman.
Namun, peluang tersebut tidak otomatis menjadikan Dirty Soda sebagai tren besar di Indonesia. Tingkat penerimaan konsumen, harga jual, kesesuaian rasa, serta kemampuan pelaku usaha berinovasi disebut akan menentukan perkembangannya. Artikel ini juga menyoroti tantangan kandungan gula dan kalori yang dapat meningkat karena kombinasi soda, sirup, dan krim, sehingga pelaku usaha perlu mempertimbangkan opsi rendah gula, ukuran sajian, kualitas bahan, dan konsistensi rasa.
Di balik viralitasnya, Dirty Soda memiliki beberapa catatan menarik. Konsep modernnya telah berkembang sejak 2010 melalui Swig di Utah. Racikannya tidak selalu menggunakan susu karena tekstur creamy bisa berasal dari coconut cream, half-and-half, atau berbagai creamer. Salah satu racikan klasik justru menggunakan Diet Coke. Dirty Soda juga disebut memiliki kemiripan dengan Italian Soda yang memadukan air soda dan sirup, termasuk versi dengan krim, tetapi memiliki identitas tersendiri melalui penggunaan soda kemasan dan variasi kombinasi yang lebih luas.
Pada akhirnya, daya tarik Dirty Soda terletak pada pengalaman meracik dan memilih kombinasi rasa. Jika mampu beradaptasi dengan selera lokal serta memperhatikan aspek harga dan komposisi, Dirty Soda berpeluang menjadi warna baru dalam industri minuman kekinian di Indonesia.