Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Budi Mulia Dua (BMD) Culinary School resmi menutup program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) Platinum Street Food yang berlangsung sejak awal Oktober 2025. Program ini meluluskan 26 peserta setelah menjalani pendidikan selama 44 hari.
Pimpinan LKP BMD Culinary School, Ani Syafaatun, menyampaikan bahwa program PKW Platinum Street Food hanya tersedia di empat lokasi di Indonesia, termasuk Yogyakarta. Karena kuota terbatas, peserta yang berjumlah 26 orang tersebut dinilai telah melalui proses seleksi yang panjang, yakni lebih dari satu bulan.
“Kami bersyukur bisa ikut menjadi bagian dari upaya untuk meningkatkan kompetensi adik-adik di bidang kuliner,” kata Ani dalam acara penutupan yang digelar di gedung Budi Mulia Dua Culinary School, Sleman, Rabu (10/12/2025).
Menurut Ani, rangkaian pendidikan melibatkan pakar dan praktisi, termasuk pengusaha kuliner Shinta Catering yang hadir untuk memotivasi peserta. Selain keterampilan kuliner, peserta juga memperoleh pembekalan terkait manajemen usaha kuliner, manajemen keuangan, pemasaran daring dan luring, hingga teknik memotret produk.
Ani menambahkan, peserta didorong untuk memanfaatkan aplikasi Sibakul milik Pemerintah Daerah DIY agar dapat mengakses berbagai program untuk UMKM, termasuk fasilitas tertentu seperti ongkos kirim gratis. “Jadi kami mengajari peserta tidak hanya membuat produknya tetapi juga bagaimana memasarkan sampai menjual produk tersebut,” ujarnya.
Ia berharap para lulusan dapat mulai berjualan meski dari skala kecil. Ani mencontohkan, alumni PKW 2024 ada yang berhasil mengembangkan usaha dimsum dengan omzet mencapai Rp80 juta per bulan. “Harapannya di angkatan 2025 ini bisa meniru,” kata Ani.
Perwakilan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Sleman, Listiana Rahmawati, mengapresiasi LKP BMD yang dinilai konsisten melahirkan pemuda yang menekuni bidang kuliner. Ia menjelaskan, PKW merupakan program dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk meningkatkan kompetensi lulusan atau pemuda agar selaras dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.
Listiana juga menyinggung data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan jumlah wirausaha muda Indonesia mengalami penurunan pada Februari 2024 menjadi 51,55 juta. Angka tersebut, menurutnya, masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan total jumlah penduduk Indonesia.
Dalam kesempatan itu, Listiana menyebut pemerintah bersama mitra, termasuk LKP BMD, akan terus memfasilitasi, membimbing, dan memberikan bekal kepada para peserta. Ia menambahkan, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan di bidang kuliner, tetapi juga bantuan peralatan produksi dan berjualan sesuai standar sebagai modal awal untuk mengembangkan bisnis.

