Badan Gizi Nasional (BGN) mengusulkan agar materi pendidikan gizi diintegrasikan secara resmi ke dalam kurikulum sekolah. Usulan ini ditujukan agar peserta didik tidak hanya menerima program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi juga memahami pentingnya asupan nutrisi seimbang bagi kesehatan.
Kepala BGN Sudaryono menyampaikan bahwa pendidikan gizi idealnya dapat dilebur ke dalam struktur pembelajaran yang sudah ada, setara dengan mata pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan (Penjaskes). Materi yang diajarkan mencakup pemahaman tentang kebutuhan karbohidrat, sayuran, buah-buahan, vitamin, mineral, hingga perhitungan takaran kebutuhan protein bagi masing-masing individu.
“Diajarkan kenapa orang harus makan karbo, apa pentingnya karbohidrat, kenapa orang harus makan sayur, apa pentingnya buah, vitamin, mineral, kenapa mesti protein, satu orang tuh makan protein harus berapa, dan lain sebagainya,” kata Sudaryono dalam keterangan resmi di akun Instagram @sudaru_sudaryono, dikutip Senin (26/10).
Selain wacana pendidikan gizi, BGN juga tengah menguji coba skema pengaturan alokasi waktu untuk mendukung pelaksanaan MBG melalui konsep prasmanan. Untuk pelajar sekolah dasar kelas awal yang pulang lebih cepat, distribusi makanan diusulkan dilakukan sebelum mereka meninggalkan sekolah.
Sementara bagi sekolah dengan kegiatan belajar hingga siang hari, BGN mengusulkan adanya slot waktu khusus sekitar satu jam yang digunakan secara paralel untuk makan sekaligus mendapatkan edukasi gizi.
Menurut Sudaryono, simulasi uji coba MBG berkonsep prasmanan tersebut mendapat respons mayoritas positif. Berdasarkan rekapitulasi indeks survei kepuasan publik, uji coba itu meraih skor 4,56 dari skala maksimal 5.
BGN juga menilai pendekatan prasmanan efektif menekan jumlah sisa makanan. Dalam skema ini, siswa dapat mengambil porsi tambahan apabila persediaan makanan cadangan masih tersedia setelah pembagian utama sesuai standar takaran gizi.