BERITA TERKINI
Berawal dari Tugas Kuliah, Yen Yen Konsisten Jalankan Usaha Kuliner Clare Surabaya

Berawal dari Tugas Kuliah, Yen Yen Konsisten Jalankan Usaha Kuliner Clare Surabaya

Surabaya—Tugas kuliah yang semula dijalani sebagai bagian dari perkuliahan membawa Yen Yen, pemilik Clare Surabaya, menekuni bisnis kuliner hingga kini. Ia membagikan kisahnya dalam program Muda Kreatif Pro2 RRI Surabaya.

Usaha tersebut bermula pada 2021, ketika pandemi Covid-19 membatalkan rencana magangnya di sebuah hotel. Saat itu, Yen Yen masih menempuh pendidikan di jurusan kuliner bisnis dan mendapat tugas membuat usaha. Ia kemudian memilih menjual makanan.

Yen Yen mengawali usahanya dengan menjual spaghetti brulee, menu yang sudah sering ia buat selama masa kuliah. Menurutnya, produk itu memiliki konsep berbeda dari lasagna karena menggunakan saus bechamel dan keju, sehingga menghasilkan rasa yang lebih creamy.

Seiring berjalan waktu, Clare Surabaya menambah variasi produk. Selain spaghetti brulee, tersedia pula lasagna, tiramisu, spaghetti creamy katsu, dan taiyaki. Tiramisu termasuk produk yang relatif baru. Yen Yen mulai membuatnya tahun lalu karena melihat minat masyarakat, dan produk tersebut kemudian mendapat respons positif.

Dalam perjalanannya, Yen Yen mengakui tantangan terbesar pada masa awal usaha adalah menjaga konsistensi. Ia sempat mempertimbangkan untuk kembali bekerja ketika bisnisnya belum menunjukkan kepastian. Namun, pelanggan yang kembali membeli dan mencari produknya membuat ia memutuskan untuk tetap berjualan.

Setelah lulus kuliah, Yen Yen sempat kembali melamar pekerjaan dan mengikuti proses wawancara. Pada akhirnya, ia memilih melanjutkan usaha kuliner yang telah dirintis.

Di tengah menjalankan bisnis, Yen Yen juga menghadapi kenaikan harga bahan baku dan kemasan. Ia mencari cara agar harga produk tetap terjangkau, salah satunya dengan mengganti kemasan plastik menjadi kemasan berbahan kertas. Perubahan itu disebutnya membantu menjaga harga lebih stabil sekaligus membuat kemasan lebih praktis.

Dalam proses produksi, Yen Yen menyebut tidak menggunakan saus bolognese instan. Ia membuat saus sendiri dengan merebus tomat dan memasak daging, yang menurutnya dapat memakan waktu satu hingga dua jam. Clare Surabaya juga menerapkan sistem produksi berdasarkan pesanan harian untuk menjaga kesegaran makanan. Karena itu, waktu pemesanan perlu disesuaikan dengan proses memasak.

Selain mengelola Clare Surabaya, Yen Yen turut membantu usaha fashion milik keluarganya dengan menangani penjualan daring melalui siaran langsung. Ia biasanya melakukan siaran pada malam hari, sekitar pukul 18.00 hingga 20.00, karena dinilai lebih ramai seiring kebiasaan konsumen yang semakin mengarah ke platform daring.

Kisah Yen Yen menunjukkan tugas kuliah dapat berkembang menjadi peluang usaha, sekaligus menegaskan pentingnya konsistensi dalam mempertahankan bisnis.