Jakarta — Kemunculan bahan bakar minyak (BBM) baru berbahan dasar nabati bernama “Bobibos” ramai diperbincangkan publik. Produk ini diklaim dibuat dari jerami hasil panen petani dan disebut sebagai bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi XII DPR RI Ramson Siagian menyatakan pihaknya akan mencermati perkembangan inovasi BBM Bobibos. Ia menegaskan Komisi XII membuka ruang bagi inovasi, namun setiap klaim harus dibuktikan melalui mekanisme pengujian resmi yang diakui negara.
“Setiap inovasi itu hal yang baik. Tapi semuanya perlu pembuktian apakah kualitasnya tepat untuk digunakan oleh masyarakat. Itu yang harus diuji,” ujar Ramson, Rabu (19/11/2025).
Ramson menambahkan, uji coba menjadi prasyarat agar BBM baru dapat digunakan secara aman dan memenuhi standar nasional. “Harus ada uji coba dan pembuktian bahwa produk tersebut benar-benar sesuai standar untuk digunakan di lapangan,” lanjutnya.
Ia juga menyampaikan Komisi XII akan memantau perkembangan Bobibos, termasuk hasil uji resmi dari lembaga di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Bobibos dikembangkan oleh PT Inti Sinergi Formula, bagian dari PT Sultan Sinergi Indonesia, sebuah holding company yang bergerak di sejumlah sektor, antara lain energi, infrastruktur, perhotelan, pertambangan, perkebunan, properti, dan transportasi. Direktur Utama PT Sultan Sinergi Indonesia sekaligus pembina Bobibos adalah Mulyadi, Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Gerindra.
Nama Bobibos merupakan singkatan dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos. Produk ini disebut hadir dalam dua varian, yakni warna putih untuk mesin bensin dan warna merah untuk mesin solar/diesel.
Founder Bobibos, M. Ikhlas, mengklaim jerami dari 1 hektare sawah dapat menghasilkan sekitar 3.000 liter BBM Bobibos. Ia menyebut pemanfaatan jerami dapat memberi nilai tambah ekonomi bagi petani tanpa mengganggu produksi beras. Menurut klaim perusahaan, Bobibos memiliki RON 98–98,1 dan tingkat emisi yang rendah.
Ikhlas juga menjelaskan jerami yang dikumpulkan akan melalui rangkaian proses teknologi biokimia (biochemistry extraction) hingga menjadi bahan bakar. Salah satu tahap yang disebut krusial adalah penyuntikan serum khusus yang diklaim dapat mengubah jerami menjadi energi, dengan total lima tahapan utama dalam proses tersebut. “Jerami dikelola untuk ekstraksi dengan biochemistry. Gunakan mesin yang kami rancang dari nol,” klaim Ikhlas.
Di tengah perdebatan publik, pemilik Bobibos menyatakan produk tersebut memiliki nilai oktan RON 98,1. Selain itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan pihak Bobibos disebut telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) sebagai kolaborasi awal dalam pengembangan bahan bakar alternatif tersebut.
Namun, Kementerian ESDM menegaskan Bobibos harus melalui uji kelayakan resmi sebelum dapat diproduksi massal dan dipasarkan secara luas, termasuk pengujian kualitas, keamanan, serta kesesuaian dengan standar nasional.

