Alfamart memanfaatkan momentum Hari Anak Nasional untuk memperkuat upaya pencegahan stunting melalui Program Satu Telur Sehari (STS). Memasuki tahun keempat pelaksanaannya, program ini menjangkau 2.700 anak yang terindikasi stunting di 39 kabupaten dan kota, dengan penyaluran lebih dari 510.000 butir telur selama enam bulan.
Pada 2026, Alfamart tidak hanya melanjutkan pemberian bantuan telur sebagai intervensi gizi, tetapi juga melengkapi program dengan edukasi gizi bagi para orangtua. Edukasi ini melibatkan tenaga kesehatan dan ahli gizi, dengan tujuan mendukung perubahan pola asuh dan kebiasaan makan, sekaligus meningkatkan pemahaman keluarga mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang sejak dini agar intervensi berjalan lebih optimal.
Salah satu kegiatan edukasi digelar di Mikro Cinema Layar Digi Alfamart, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (8/7/2026). Sebanyak 35 anak penerima manfaat beserta orangtuanya mengikuti kegiatan tersebut. Dalam kesempatan itu, Dietisien Bangun Hidup Sehat Wellness Center, Aqila Maharani, menjelaskan bahwa stunting merupakan kondisi yang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kurangnya asupan gizi, infeksi berulang, lingkungan yang kurang sehat, pola asuh yang belum optimal, hingga terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan.
Aqila menyampaikan bahwa pemenuhan protein hewani, termasuk telur, dapat menjadi salah satu sumber nutrisi yang mendukung pertumbuhan anak apabila dikonsumsi bersama makanan bergizi seimbang lainnya. Ia juga meluruskan anggapan yang masih banyak dipercaya masyarakat bahwa konsumsi telur dapat menyebabkan bisulan pada anak. Menurutnya, bisulan bukan disebabkan terlalu banyak makan telur, melainkan akibat infeksi bakteri, sehingga orangtua tidak perlu khawatir memberikan telur kepada anak selama sesuai kebutuhan gizinya.
Selain pemahaman mengenai gizi, para orangtua juga diperkenalkan dengan contoh menu sederhana berbahan dasar telur yang tetap mempertahankan kandungan gizinya. Menu yang dikenalkan antara lain omelet sayur, sup telur, semur telur, hingga telur gulung sayuran, sebagai alternatif menu bergizi yang diharapkan lebih menarik bagi anak.
Kegiatan edukasi serupa juga diselenggarakan di sejumlah daerah lain, seperti Kabupaten Tegal, Sumedang, Jember, Serang, serta berbagai kota pelaksanaan Program Satu Telur Sehari lainnya. Kota Sorong disebut sebagai salah satu kota penyelenggaraan program tersebut.
Program Satu Telur Sehari menyasar anak berusia 1 hingga 3 tahun yang terdata terindikasi stunting berdasarkan pendataan bersama Dinas Kesehatan dan kader Posyandu di masing-masing daerah. Selama enam bulan pelaksanaan yang dimulai sejak Mei 2026, setiap anak menerima bantuan satu butir telur setiap hari. Penyaluran dilakukan secara berkala melalui Dinas Kesehatan atau kader Posyandu setempat agar pendampingan terhadap keluarga penerima manfaat dapat berlangsung berkelanjutan.
Sejak pertama kali dijalankan pada 2022, jangkauan program terus diperluas. Pada tahun pertama, Alfamart mendistribusikan 177.000 butir telur kepada 1.000 anak di 10 kabupaten dan kota. Program berlanjut pada 2024 dengan penyaluran 103.000 butir telur kepada 591 anak di 12 kabupaten dan kota. Pada 2025, cakupan program diperluas menjadi 25 kabupaten dan kota melalui distribusi 189.000 butir telur kepada 1.000 anak. Sementara pada 2026, pelaksanaan program menjadi yang terbesar dengan distribusi lebih dari 510.000 butir telur kepada 2.700 anak di 39 kabupaten dan kota.
General Manager Corporate Communications Alfamart, Rani Wijaya, mengatakan perluasan jangkauan program merupakan hasil evaluasi dari pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, hal tersebut menjadi wujud komitmen Alfamart untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, Dinas Kesehatan, kader Posyandu, serta berbagai mitra.
Rani menambahkan, keberhasilan Program Satu Telur Sehari tidak hanya diukur dari jumlah telur yang disalurkan atau luasnya wilayah yang dijangkau, tetapi juga dari perubahan perilaku keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak. Berdasarkan hasil monitoring internal pada 2025, sekitar 72 persen anak penerima manfaat mengalami peningkatan berat badan sebagai salah satu indikator perbaikan status gizi. Temuan tersebut menjadi dasar untuk memperkuat kualitas program melalui pendampingan dan edukasi kepada para orangtua.
Ia berharap, manfaat Program Satu Telur Sehari tidak hanya dirasakan selama program berlangsung, tetapi juga mampu membentuk kebiasaan hidup sehat dalam keluarga serta berkontribusi pada upaya nasional menekan angka stunting.

