Semarang — Momentum Hari Anak Nasional yang diperingati setiap 23 Juli dimanfaatkan Alfamart untuk menegaskan komitmennya mendukung percepatan penanganan stunting melalui Program Satu Telur Sehari (STS). Program ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan perusahaan dalam membantu intervensi gizi anak sekaligus meningkatkan pemahaman keluarga mengenai pentingnya pola hidup sehat.
Memasuki tahun keempat pelaksanaan, Program STS menargetkan 2.700 anak terindikasi stunting di 39 kabupaten/kota. Selama enam bulan, program ini menyalurkan lebih dari 510.000 butir telur kepada penerima manfaat.
Selain bantuan telur, Alfamart melengkapi program dengan edukasi pencegahan stunting sejak dini serta praktik cuci tangan pakai sabun (CTPS) untuk mengurangi risiko diare dan memutus rantai kuman. Langkah tersebut ditujukan agar intervensi gizi dapat berjalan lebih optimal melalui perubahan pola asuh, kebiasaan makan, dan pemahaman keluarga tentang pemenuhan gizi seimbang sejak dini.
Dalam rangka Hari Anak Nasional, Alfamart menghadirkan edukasi langsung dari tenaga kesehatan atau ahli gizi kepada para orang tua penerima manfaat Program STS. Salah satu kegiatan dilakukan di Kabupaten Kendal, di mana 100 anak penerima manfaat bersama orang tuanya mengikuti edukasi gizi di Aula Puskesmas Boja I, Kamis.
Ahli Gizi Puskesmas Boja I Kendal, Wahyusari, A.Md, menjelaskan bahwa stunting dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kurangnya pasokan gizi, infeksi berulang, lingkungan yang kurang sehat, pola asuh yang belum optimal, hingga terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan. Ia menekankan bahwa Periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan fase paling krusial dalam pencegahan stunting karena menjadi fondasi utama tumbuh kembang anak.
“Seribu Hari Pertama Kehidupan merupakan waktu terbaik untuk mencegah stunting. Sejak anak masih dalam kandungan, kebutuhan gizi ibu harus terpenuhi selama masa kehamilan. Setelah lahir, pemenuhan gizi seimbang pada anak juga menjadi faktor penting agar tumbuh kembangnya berlangsung optimal,” ujar Wahyusari.
Ia menambahkan, rentang usia 6 hingga 24 bulan merupakan periode penting untuk memperbaiki status gizi anak. Pada fase tersebut, pemberian protein hewani, termasuk telur, menjadi salah satu sumber nutrisi yang mendukung pertumbuhan, disertai konsumsi makanan bergizi seimbang lainnya. Orang tua juga diberikan contoh menu sederhana berbahan dasar telur yang tetap mempertahankan kandungan gizinya, seperti omelet sayur, sup telur, semur telur, hingga telur gulung sayuran.
Program Satu Telur Sehari menyasar anak usia 1 hingga 3 tahun yang terdata terindikasi stunting berdasarkan pendataan bersama Dinas Kesehatan dan kader Posyandu di masing-masing daerah. Selama enam bulan pelaksanaan yang dimulai sejak Mei 2026, setiap anak menerima bantuan satu butir telur setiap hari. Penyaluran dilakukan secara periodik melalui Dinas Kesehatan maupun kader Posyandu setempat agar pendampingan terhadap penerima manfaat dapat berjalan berkelanjutan.
Perjalanan program menunjukkan peningkatan jangkauan dari tahun ke tahun. Pada 2022, Alfamart mendistribusikan 177.000 butir telur kepada 1.000 anak di 10 kabupaten/kota. Program berlanjut pada 2024 dengan penyaluran 103.000 butir telur kepada 591 anak di 12 kabupaten/kota. Setahun berikutnya, jangkauan diperluas menjadi 25 kabupaten/kota melalui distribusi 189.000 butir telur kepada 1.000 anak. Pada 2026, program mencapai pelaksanaan terbesar sejak pertama kali dijalankan, dengan distribusi lebih dari 510.000 butir telur kepada 2.700 anak di 39 kabupaten/kota.
General Manager Corporate Communications Alfamart, Rani Wijaya, mengatakan Program STS terus dikembangkan berdasarkan evaluasi dari pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya. “Program ini terus berkembang dari tahun ke tahun. Perluasan ini menunjukkan bahwa kolaborasi lintas pihak mampu menghadirkan dampak yang semakin besar dalam mendukung upaya penurunan stunting di Indonesia,” ujarnya.
Menurut Rani, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah telur yang disalurkan atau luas wilayah jangkauan, tetapi juga dari perubahan perilaku keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak. Berdasarkan hasil monitoring internal tahun 2025, sekitar 72 persen anak penerima manfaat mengalami peningkatan berat badan sebagai salah satu indikator perbaikan status gizi.
“Intervensi gizi akan lebih optimal ketika dibarengi dengan peningkatan pengetahuan orang tua. Karena itu, kami tidak hanya memberikan telur, tetapi juga menghadirkan edukasi langsung dari para ahli agar keluarga memahami pentingnya gizi seimbang, pola makan yang tepat, serta pola asuh yang mendukung tumbuh kembang anak melalui kegiatan pemberdayaan. Harapannya, Program Satu Telur Sehari membentuk kebiasaan hidup sehat dalam keluarga dan berkontribusi pada upaya nasional menekan angka stunting,” kata Rani.

