Alfamart memanfaatkan momentum Hari Anak Nasional untuk memperkuat komitmennya dalam mendukung percepatan penanganan stunting melalui Program Satu Telur Sehari (STS). Program yang telah memasuki tahun keempat ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan perusahaan dalam membantu intervensi gizi anak sekaligus meningkatkan pemahaman keluarga mengenai pentingnya pola hidup sehat.
Pada pelaksanaan 2026, STS menargetkan 2.700 anak usia 1 hingga 3 tahun yang terdata terindikasi stunting di 39 kabupaten/kota. Selama enam bulan pelaksanaan yang dimulai sejak Mei 2026, program ini menyalurkan lebih dari 510.000 butir telur, dengan skema pemberian satu butir telur per anak per hari.
Selain bantuan telur, Alfamart melengkapi program dengan edukasi gizi bagi orang tua serta demo masak kudapan bergizi berbahan dasar telur. Upaya tersebut ditujukan agar intervensi gizi berjalan lebih optimal melalui perubahan pola asuh, kebiasaan makan, serta pemahaman keluarga terhadap pentingnya pemenuhan gizi seimbang sejak dini.
Hari Anak Nasional yang diperingati setiap 23 Juli dimanfaatkan untuk menghadirkan edukasi langsung dari tenaga kesehatan dan ahli gizi kepada para orang tua penerima manfaat. Salah satu kegiatan digelar di Kota Batam. Sebanyak 25 anak penerima manfaat bersama orang tuanya mengikuti edukasi gizi di Puskesmas Kampung Jabi, Jumat (24/7/2026).
Dalam sesi tersebut, dr. Irene menjelaskan stunting merupakan kondisi yang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kurangnya asupan gizi, infeksi berulang, lingkungan yang kurang sehat, pola asuh yang belum optimal, hingga terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan. Ia menekankan Periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai fase paling krusial dalam pencegahan stunting karena menjadi fondasi utama tumbuh kembang anak.
“Seribu Hari Pertama Kehidupan merupakan waktu terbaik untuk mencegah stunting. Sejak anak masih dalam kandungan, kebutuhan gizi ibu harus terpenuhi selama masa kehamilan. Setelah lahir, pemenuhan gizi seimbang pada anak juga menjadi faktor penting agar tumbuh kembangnya berlangsung optimal,” ujar dr. Irene.
Ia menambahkan, rentang usia 6 hingga 24 bulan merupakan periode penting untuk memperbaiki status gizi anak. Pada fase tersebut, pemberian protein hewani, termasuk telur, dinilai dapat mendukung pertumbuhan, disertai konsumsi makanan bergizi seimbang lainnya.
Kepala Puskesmas Kampung Jabi, dr. Ade Safitri, MM, dalam kesempatan yang sama meluruskan anggapan yang masih banyak dipercaya masyarakat bahwa konsumsi telur dapat menyebabkan bisulan pada anak. “Bisulan bukan disebabkan karena terlalu banyak makan telur, melainkan akibat infeksi bakteri. Jadi, orang tua tidak perlu khawatir memberikan telur kepada anak selama dikonsumsi sesuai kebutuhan gizinya,” jelasnya.
Para orang tua juga dibekali demo masak contoh kudapan sederhana berbahan dasar telur yang tetap mempertahankan kandungan gizi agar lebih menarik bagi anak.
Dalam pelaksanaan program, penyaluran telur dilakukan secara periodik melalui Dinas Kesehatan maupun kader Posyandu setempat. Mekanisme ini ditujukan agar pendampingan terhadap penerima manfaat dapat berjalan secara berkelanjutan.
Alfamart mencatat jangkauan program meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2022, perusahaan mendistribusikan 177.000 butir telur kepada 1.000 anak di 10 kabupaten/kota. Program kemudian berlanjut pada 2024 dengan penyaluran 103.000 butir telur kepada 591 anak di 12 kabupaten/kota. Pada 2025, jangkauan diperluas menjadi 25 kabupaten/kota melalui distribusi 189.000 butir telur kepada 1.000 anak. Sementara pada 2026, program mencapai pelaksanaan terbesar dengan distribusi lebih dari 510.000 butir telur kepada 2.700 anak di 39 kabupaten/kota.
General Manager Corporate Communications Alfamart, Rani Wijaya, mengatakan Program Satu Telur Sehari terus dikembangkan berdasarkan evaluasi pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya. “Program ini terus berkembang dari tahun ke tahun. Perluasan ini menunjukkan bahwa kolaborasi lintas pihak mampu menghadirkan dampak yang semakin besar dalam mendukung upaya penurunan stunting di Indonesia,” ujarnya.
Rani menilai keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah telur yang disalurkan atau luasnya wilayah jangkauan, tetapi juga dari perubahan perilaku keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak. Berdasarkan hasil monitoring internal tahun 2025, sekitar 72 persen anak penerima manfaat mengalami peningkatan berat badan sebagai salah satu indikator perbaikan status gizi. Capaian tersebut, menurutnya, menjadi dasar untuk memperkuat kualitas program melalui pendampingan dan edukasi kepada orang tua.
“Intervensi gizi akan lebih optimal ketika dibarengi dengan peningkatan pengetahuan orang tua. Karena itu, kami tidak hanya memberikan telur, tetapi juga menghadirkan edukasi langsung dari para ahli agar keluarga memahami pentingnya gizi seimbang, pola makan yang tepat, serta pola asuh yang mendukung tumbuh kembang anak melalui kegiatan pemberdayaan. Harapannya, Program Satu Telur Sehari membentuk kebiasaan hidup sehat dalam keluarga dan berkontribusi pada upaya nasional menekan angka stunting,” tutup Rani.

