Pola makan seimbang dan konsumsi pangan yang beragam disebut menjadi salah satu langkah penting untuk membantu mengurangi risiko kanker. Nutrisionis Ahli Muda Instalasi Gizi Rumah Sakit Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang, Ika Retno Wahyuni, menegaskan bahwa pencegahan kanker tidak bergantung pada satu jenis makanan, melainkan perlu didukung kebiasaan makan dan gaya hidup sehat secara konsisten.
Dalam dialog Indonesia Sehat di Pro 1 RRI Palembang, Jumat, 23 Oktober 2026, Ika menjelaskan konsep pangan fungsional, yakni bahan makanan yang tidak hanya menyediakan zat gizi, tetapi juga mengandung komponen yang berpotensi memberi manfaat tambahan bagi kesehatan. Ia menyebut sejumlah bahan pangan seperti sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan ikan memiliki kandungan zat yang dapat mendukung fungsi tubuh.
Ika mencontohkan tomat yang mengandung likopen, senyawa yang banyak diteliti karena potensinya dalam membantu mengurangi risiko penyakit tertentu, termasuk kanker prostat. Meski demikian, ia mengingatkan konsumsi tomat atau bahan makanan lain tidak dapat dianggap sebagai cara tunggal untuk mencegah kanker karena setiap bahan pangan memiliki kandungan gizi yang berbeda.
“Tidak ada satu bahan makanan di dunia ini yang punya lengkap nilai gizi, jadi makanlah bahan makanan itu dengan jumlah yang seimbang dan beraneka ragam,” ujar Ika. Ia menilai anggapan mengenai superfood perlu dipahami secara tepat, sebab tidak ada satu jenis makanan yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan gizi tubuh.
Menurutnya, konsumsi tomat tetap perlu diimbangi dengan sumber karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral lainnya agar kebutuhan gizi terpenuhi. Ia menyarankan masyarakat menerapkan prinsip Isi Piringku dengan memperbanyak sayur dan buah, serta melengkapi makanan dengan sumber karbohidrat dan protein hewani maupun nabati.
Selain keberagaman makanan, Ika mengingatkan pentingnya membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak secara berlebihan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan. Ia juga menekankan cara pengolahan makanan perlu diperhatikan, terutama menghindari daging yang dibakar hingga gosong dan penggunaan minyak goreng secara berulang, karena proses tersebut dapat menghasilkan senyawa yang berpotensi meningkatkan risiko kanker.
Bagi pasien kanker, pemenuhan gizi menjadi perhatian khusus, terutama selama menjalani kemoterapi atau radioterapi. Ika menjelaskan, sebagian pasien dapat mengalami mual, muntah, kesulitan makan, hingga gangguan menelan setelah terapi, sehingga berisiko mengalami penurunan berat badan dan massa otot.
Karena itu, kebutuhan gizi pasien perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing melalui pendampingan tenaga kesehatan. Ika juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga pola istirahat, melakukan aktivitas fisik secara rutin, serta memenuhi kebutuhan cairan sebagai bagian dari penerapan gaya hidup sehat.
Ia berharap masyarakat semakin memahami bahwa upaya mengurangi risiko kanker perlu dilakukan melalui kebiasaan hidup sehat, bukan dengan mengandalkan satu jenis makanan atau klaim manfaat pangan yang belum tentu terbukti. “Jangan lupa aktivitas fisik dan konsumsi cairan air putih delapan gelas sehari,” tutup Ika.