Pangan lokal dinilai dapat menjadi solusi bagi keluarga untuk memenuhi kebutuhan gizi tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Berbagai bahan yang mudah ditemukan di pasar tradisional—mulai dari ikan kembung, tempe, tahu, singkong, ubi, daun kelor, hingga buah-buahan lokal—memiliki kandungan gizi yang mendukung pola makan sehat dan seimbang.
Hal itu disampaikan ahli gizi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Rahmi Dwi Hapsari dalam dialog bersama RRI pada Jumat, 16 Oktober 2026. Menurut Rahmi, anggapan bahwa makanan sehat harus mahal kerap muncul karena masyarakat lebih mengenal bahan pangan impor yang populer, seperti ikan salmon dan quinoa. Padahal, Indonesia memiliki beragam alternatif lokal dengan harga lebih terjangkau.
Rahmi mencontohkan ikan kembung sebagai pilihan sumber protein dan omega-3. Untuk buah, jambu merah dan pepaya dapat menjadi opsi guna memenuhi kebutuhan vitamin dan serat. Sementara dari kelompok sayuran, daun kelor dan daun singkong disebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber zat gizi.
Selain itu, tahu dan tempe juga dapat diandalkan sebagai sumber protein nabati dalam menu sehari-hari. Keduanya relatif mudah ditemukan dan dapat diolah menjadi beragam hidangan keluarga.
Dalam menyusun menu sehat dengan anggaran terbatas, Rahmi menyarankan penerapan prinsip Isi Piringku. Prinsip ini menganjurkan setengah bagian piring diisi sayuran dan buah-buahan, sedangkan seperempat bagian lainnya untuk sumber karbohidrat dan seperempat bagian untuk sumber protein.
Rahmi menekankan sumber karbohidrat tidak harus selalu berasal dari nasi. Masyarakat dapat memvariasikannya dengan ubi, singkong, atau jagung. Adapun sumber protein dapat diperoleh dari ikan, telur, tahu, maupun tempe. Menurutnya, variasi bahan pangan diperlukan agar kebutuhan zat gizi dapat terpenuhi lebih beragam.
Selain pemilihan bahan, cara pengolahan makanan juga perlu diperhatikan. Rahmi menyebut metode memasak seperti mengukus, memanggang, atau membuat pepes dapat membantu mengurangi penggunaan minyak. Ia mengingatkan penggunaan minyak berlebihan, terutama dari kebiasaan menggoreng, perlu dibatasi karena dapat meningkatkan asupan lemak.
Rahmi juga menyampaikan perubahan pola makan sebaiknya dilakukan bertahap sesuai kebiasaan dan kondisi masing-masing individu. Langkah awal dapat dimulai dengan menambah konsumsi sayuran, memilih buah yang mudah diperoleh, serta mengganti sebagian bahan pangan dengan alternatif lokal yang lebih sesuai kebutuhan.
Ia menambahkan, kebutuhan gizi setiap orang dapat berbeda, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Karena itu, konsultasi dengan ahli gizi dapat membantu menentukan pola makan yang sesuai.
Rahmi mengajak masyarakat memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar, baik dari pasar tradisional maupun hasil tanaman pekarangan rumah. Selain membantu keluarga memperoleh makanan bergizi dengan biaya terjangkau, pemanfaatan pangan lokal juga dinilai berpotensi mendukung petani dalam negeri.
Dengan pemilihan bahan lokal yang beragam, pengolahan yang tepat, serta pengaturan menu seimbang, pola makan sehat dinilai dapat diterapkan tanpa bergantung pada bahan pangan yang mahal.