Kebiasaan mengolah nasi sisa semalam yang disimpan di kulkas menjadi nasi goreng sudah lama menjadi tradisi di banyak rumah tangga. Nasi yang telah didinginkan kerap dikaitkan dengan kandungan pati resisten, yang disebut dapat membantu memperlambat lonjakan kadar gula darah. Namun, muncul pertanyaan: apakah manfaat tersebut masih ada setelah nasi dingin digoreng kembali?
Ahli gizi Adisty Pavitasari menjelaskan, pati resisten pada nasi dingin memiliki sifat termostabil atau cenderung tahan terhadap panas. Karena itu, proses menghangatkan atau mengolah kembali nasi tidak serta-merta menghilangkan seluruh pati resisten yang terbentuk saat nasi didinginkan.
“Pati resisten pada nasi dingin cenderung sangat tahan panas. Jika nasi dingin dipanaskan kembali dengan suhu penghangatan biasa, dan tanpa tambahan air, kandungan pati resistennya tidak sepenuhnya hilang,” kata Adisty.
Menurutnya, nasi dingin yang dihangatkan kembali, termasuk ketika diolah menjadi nasi goreng, masih berpotensi memiliki indeks glikemik (IG) yang lebih rendah dibandingkan nasi hangat yang baru matang dari rice cooker. Indeks glikemik merupakan indikator seberapa cepat karbohidrat dalam makanan memicu kenaikan kadar gula darah.
Meski demikian, Adisty menekankan bahwa nilai gizi dan kalori sepiring nasi goreng tidak hanya ditentukan oleh kondisi awal nasi—apakah dingin atau hangat—melainkan sangat dipengaruhi bahan tambahan selama memasak.
“Baik nasi dingin, nasi hangat, maupun nasi sisa, secara dasar tetap memiliki kandungan kalori dan karbohidrat yang kurang lebih sama,” sebutnya.
Ia mengingatkan, penggunaan nasi dingin tidak otomatis membuat nasi goreng menjadi menu rendah kalori. Kepadatan kalori justru dapat meningkat akibat tambahan lemak dari minyak goreng, mentega, serta bumbu-bumbu lain.
Untuk membuat nasi goreng yang lebih sehat dan dengan komposisi gizi lebih seimbang, Adisty menyarankan agar proses pengolahan dilakukan lebih bijak. Ia menganjurkan penggunaan minyak secukupnya, yakni sekitar satu hingga dua sendok teh, serta membatasi bumbu tinggi natrium seperti MSG, kecap, dan garam. Sebagai alternatif, ia menyarankan penggunaan bumbu alami seperti bawang, cabai, dan merica untuk memperkuat rasa.