BERITA TERKINI
Ahli Gizi Ingatkan Kental Manis Bukan Pengganti Susu, Risiko Mengintai dari Anak hingga Lansia

Ahli Gizi Ingatkan Kental Manis Bukan Pengganti Susu, Risiko Mengintai dari Anak hingga Lansia

Susu kental manis masih menjadi pilihan banyak keluarga di Indonesia karena harganya terjangkau, rasanya manis, dan mudah ditemukan di warung. Namun, anggapan bahwa kental manis setara dengan susu dinilai keliru dan berpotensi memicu masalah kesehatan, baik pada anak-anak maupun lansia.

Ahli Gizi Puskesmas Balong, Ponorogo, Mita Rukmawati, menyoroti praktik di masyarakat yang masih rutin menyeduh kental manis sebagai minuman tunggal pengganti susu. Menurut dia, kesalahan pemahaman ini dapat berujung pada persoalan kesehatan yang kompleks, mulai dari gangguan metabolik pada lansia hingga risiko stunting dan obesitas pada balita.

Mita menceritakan temuan di wilayah kerjanya ketika seorang kakek berstatus suspek Tuberkulosis (TBC) datang dengan kadar gula darah sangat tinggi. Setelah ditelusuri, kondisi tersebut tidak berkaitan dengan riwayat genetik, melainkan kebiasaan harian keluarga yang menyeduhkan kental manis dengan tujuan membantu pemulihan dan menaikkan berat badan.

“Orang yang TBC jika terkena diabetes akan mempersulit pengobatan. Apalagi semakin tua, metabolisme tubuh makin menurun,” ujar Mita. Ia menjelaskan konsumsi gula berlebih pada lansia, terutama bila dijadikan minuman harian, bisa mengubah hiperglikemia sementara menjadi Diabetes Melitus permanen. Diabetes juga disebut berbahaya karena dapat memicu komplikasi penyakit tidak menular lain, seperti hipertensi, penyakit jantung, hingga gagal ginjal.

Menurut Mita, bagi pasien dengan kerusakan sel seperti penderita TBC, asupan yang lebih krusial adalah protein nyata, bukan minuman tinggi gula yang dianggap sebagai susu.

Kelompok lain yang dinilai rentan adalah anak-anak. Mita mengutip survei dari Unisba yang menemukan 67% balita masih mengonsumsi kental manis sebagai susu harian. Ia menilai temuan itu menunjukkan pendidikan formal tidak selalu sejalan dengan pemahaman gizi dalam keluarga.

Mita menegaskan anak di bawah usia dua tahun tidak dianjurkan mengonsumsi gula tambahan. Pemberian kental manis sebagai “susu” dapat memicu masalah gizi karena anak cepat kenyang sebelum memperoleh nutrisi penting. “Karena didominasi gula, lambung anak yang masih kecil sudah keburu kenyang. Akibatnya, nutrisi penting seperti protein, karbohidrat kompleks, vitamin, dan mineral tidak bisa masuk, sehingga tumbuh kembang maksimal dan tinggi badannya tidak tercapai,” kata dia.

Di sisi lain, asupan kalori kosong dari kental manis juga dapat memicu lonjakan energi. Namun, ketika aktivitas fisik anak rendah, termasuk karena tingginya paparan gawai dan kemudahan layanan pesan antar makanan, energi tidak terpakai dan berpotensi menumpuk menjadi lemak sehingga memicu obesitas sejak dini.

Mita menilai kebiasaan konsumsi kental manis sulit diubah karena dua faktor. Pertama, sebagian masyarakat masih berpegang pada pedoman gizi lama yang menganggap makan belum lengkap jika tidak ditutup dengan susu. Keberadaan kata “susu” pada kental manis membuat sebagian orang mengira produk itu sudah memenuhi kebutuhan tersebut, padahal Kementerian Kesehatan telah memperbarui pedoman menjadi “Isi Piringku” dan Pedoman Gizi Seimbang sejak 2014.

Kedua, iklan yang masif selama puluhan tahun dinilai membentuk persepsi bahwa kental manis adalah sumber kesehatan untuk anak dan keluarga. “Iklan dari dulu sering membangun narasi bahwa tanpa susu, kita tidak sehat. Masyarakat kita, terutama orang tua, banyak yang termakan hal tersebut,” ujar Mita.

Untuk mengurangi risiko, Mita menyarankan edukasi dilakukan bertahap dan melibatkan seluruh anggota keluarga. Ia juga mendorong masyarakat mengalihkan anggaran belanja kental manis untuk membeli sumber protein dan pangan bergizi lain yang lebih bermanfaat, seperti telur, ikan lele, atau buah-buahan.

Jika masih ada stok di rumah, Mita menyarankan kental manis tidak lagi diseduh sebagai minuman tunggal. Produk tersebut sebaiknya digunakan sesuai peruntukannya sebagai pelengkap makanan, misalnya topping atau campuran dalam porsi terbatas.

Selain itu, orang tua diminta membiasakan diri membaca tabel informasi nilai gizi pada kemasan dan memahami batasan konsumsi gula harian untuk mencegah gangguan kesehatan di masa depan. Mita juga menyinggung adanya rasa gengsi atau takut dihakimi ketika orang tua mengakui pernah memberikan kental manis kepada anak.

“Tidak ada ilmu paten dalam menjadi orang tua, semuanya berproses. Lebih baik terbuka sekarang dan belajar memperbaiki pola makan anak demi investasinya di masa depan, daripada menyesal nanti ketika usia sudah menua dan penyakit metabolik mulai bermunculan,” kata Mita.

Menurutnya, memutus kebiasaan menjadikan kental manis sebagai susu harian menjadi langkah awal untuk mencegah stunting, menekan risiko obesitas pada anak, dan menjaga kesehatan metabolik saat memasuki usia lanjut.