BERITA TERKINI
Ahli Gizi Ingatkan Kental Manis Bukan Pengganti Susu, Konsumsi Berlebihan Berisiko bagi Anak dan Lansia

Ahli Gizi Ingatkan Kental Manis Bukan Pengganti Susu, Konsumsi Berlebihan Berisiko bagi Anak dan Lansia

Kebiasaan mengonsumsi susu kental manis (SKM) sebagai minuman harian masih ditemukan di masyarakat. Harga yang relatif terjangkau dan rasa manis membuat produk ini kerap dipilih sebagai pengganti susu. Namun, ahli gizi mengingatkan bahwa kandungan gula yang tinggi dan keterbatasan nutrisi di dalamnya dapat menimbulkan risiko kesehatan bila dikonsumsi secara tidak tepat.

Ahli Gizi Puskesmas Balong, Ponorogo, Mita Rukmawati, mengatakan masih banyak warga yang menyeduh kental manis sebagai minuman tunggal dengan anggapan dapat memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Menurut dia, kesalahpahaman ini berpotensi memicu persoalan kesehatan pada anak-anak maupun kelompok lanjut usia (lansia), mulai dari gangguan metabolisme, obesitas, hingga masalah pertumbuhan anak.

Mita mencontohkan kasus yang ditemuinya di wilayah kerja Puskesmas Balong. Seorang lansia berstatus suspek tuberkulosis (TBC) diketahui memiliki kadar gula darah sangat tinggi. Setelah ditelusuri, kondisi tersebut diduga berkaitan dengan kebiasaan keluarga yang rutin menyajikan kental manis setiap hari. Istri pasien bermaksud membantu meningkatkan berat badan suaminya agar kembali sehat, tetapi anggapan bahwa kental manis bisa menjadi sumber nutrisi utama dinilai berisiko.

Menurut Mita, kental manis memiliki kandungan gula tinggi dan tidak dapat menggantikan sumber protein maupun zat gizi penting lainnya. “Orang yang TBC jika terkena diabetes akan mempersulit pengobatan. Apalagi semakin tua, metabolisme tubuh makin menurun,” ujar Mita dalam keterangan tertulis, Selasa (21/10/2026).

Ia menambahkan, konsumsi gula berlebihan perlu menjadi perhatian terutama bagi lansia yang rentan mengalami gangguan metabolisme. Kadar gula darah yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko diabetes dan berbagai komplikasi, termasuk penyakit jantung serta gangguan ginjal. Pada pasien TBC, pemenuhan gizi yang memadai juga penting untuk mendukung pemulihan, sehingga asupan protein dari makanan bergizi lebih dibutuhkan dibandingkan minuman tinggi gula yang tidak memberikan keseimbangan nutrisi.

Masalah serupa juga disorot pada kelompok anak. Survei Universitas Islam Bandung (Unisba), sebagaimana dikutip dalam materi sumber, menemukan 67 persen balita masih mengonsumsi kental manis sebagai susu harian. Temuan ini menunjukkan kesalahpahaman mengenai kandungan gizi produk tersebut masih terjadi di masyarakat, termasuk pada keluarga dengan orang tua berpendidikan tinggi.

Mita menegaskan anak berusia di bawah dua tahun tidak dianjurkan mendapatkan gula tambahan. Pemberian kental manis sebagai pengganti susu dapat membuat anak lebih cepat kenyang tanpa memperoleh nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan. “Karena didominasi gula, lambung anak yang masih kecil sudah keburu kenyang. Akibatnya, nutrisi penting seperti protein, karbohidrat kompleks, vitamin, dan mineral tidak bisa masuk, sehingga tumbuh kembang maksimal dan tinggi badannya tidak tercapai,” katanya.

Ia menjelaskan, pola makan yang tidak seimbang dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko masalah pertumbuhan, termasuk stunting. Di sisi lain, konsumsi gula berlebihan juga dapat meningkatkan asupan kalori. Jika tidak diimbangi aktivitas fisik yang cukup, kelebihan energi berpotensi menumpuk sebagai lemak tubuh dan meningkatkan risiko obesitas. Mita turut menyoroti kebiasaan anak yang kurang bergerak, tingginya penggunaan gawai, serta kemudahan akses makanan melalui layanan pesan antar sebagai faktor yang perlu diperhatikan dalam membangun pola hidup sehat.

Menurut Mita, kuatnya kebiasaan menjadikan kental manis sebagai pengganti susu tidak lepas dari pemahaman gizi yang keliru dan pengaruh iklan selama bertahun-tahun. Sebagian masyarakat masih menganggap konsumsi susu sebagai bagian wajib dari pola makan sehat. Keberadaan kata “susu” pada nama produk kental manis kemudian membuat sebagian konsumen mengira produk tersebut setara dengan susu yang kandungan gizinya lebih lengkap.

Padahal, pemenuhan gizi perlu dipahami secara menyeluruh melalui pola makan beragam dan seimbang. Pedoman gizi saat ini menekankan pemenuhan nutrisi dari berbagai kelompok pangan, sebagaimana konsep Isi Piringku dan Pedoman Gizi Seimbang. Mita menilai promosi produk yang berlangsung lama turut membentuk persepsi bahwa kental manis merupakan pilihan untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga. “Iklan dari dulu sering membangun narasi bahwa tanpa susu, kita tidak sehat. Masyarakat kita, terutama orang tua, banyak yang termakan hal tersebut,” ujarnya.

Untuk mengurangi risiko kesehatan, Mita mendorong masyarakat mengevaluasi kebiasaan mengonsumsi kental manis sebagai minuman harian. Ia menyarankan anggaran yang biasa dipakai membeli produk tersebut dialihkan untuk pangan yang lebih bergizi, seperti telur, ikan lele, dan buah-buahan. “Daripada membelanjakan uang untuk membeli kaleng atau saset kental manis, anggaran tersebut jauh lebih bermanfaat jika dialihkan untuk membeli sumber protein sejati yang lebih murah namun kaya gizi, seperti telur, ikan lele, atau buah-buahan,” katanya.

Bagi keluarga yang masih memiliki persediaan kental manis di rumah, ia menyarankan agar produk tersebut tidak disajikan sebagai minuman tunggal pengganti susu. Penggunaannya dapat dibatasi sebagai pelengkap makanan, misalnya untuk topping atau tambahan dalam hidangan tertentu. Orang tua juga diimbau membiasakan membaca tabel informasi nilai gizi pada kemasan, terutama untuk mengetahui kandungan gula.

Mita menekankan pentingnya membangun lingkungan edukasi gizi tanpa menyalahkan orang tua yang sebelumnya belum memahami risiko konsumsi kental manis. “Tidak ada ilmu paten dalam menjadi orang tua, semuanya berproses. Lebih baik terbuka sekarang dan belajar memperbaiki pola makan anak demi investasinya di masa depan, daripada menyesal nanti ketika usia sudah menua dan penyakit metabolik mulai bermunculan,” ujarnya.

Ia berharap masyarakat semakin memahami bahwa kental manis bukan pengganti susu maupun sumber utama pemenuhan gizi. Perubahan kebiasaan konsumsi, disertai penerapan pola makan bergizi seimbang, dinilai menjadi langkah penting untuk mendukung pertumbuhan anak dan menjaga kesehatan keluarga dalam jangka panjang.