Masyarakat diimbau mulai membiasakan pola makan sehat dengan mengutamakan pangan bergizi dan memanfaatkan bahan makanan lokal. Perubahan kebiasaan ini dapat dilakukan secara bertahap tanpa harus mengeluarkan biaya besar atau mengubah seluruh pola makan sekaligus.
Imbauan tersebut disampaikan ahli gizi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Rahmi Dwi Hapsari. Ia menjelaskan, kebiasaan mengonsumsi makanan instan atau cepat saji kerap menjadi pilihan karena praktis dan mudah diperoleh. Namun, masyarakat perlu memperhatikan kualitas makanan agar kebutuhan gizi tubuh tetap terpenuhi.
Rahmi menekankan pentingnya membangun kesadaran untuk menjaga kesehatan sebelum penyakit muncul. Menurutnya, kesadaran ini dapat mendorong masyarakat lebih cermat dalam memilih makanan sehari-hari.
“Jangan sampai menunggu kita sakit dulu baru kita berpikir harus mengubah persepsi,” ujar Rahmi dalam wawancara bersama RRI, Jumat, 16 Oktober 2026.
Ia menambahkan, perubahan pola makan sebaiknya disesuaikan dengan kebiasaan dan kebutuhan masing-masing individu. Bagi mereka yang memiliki keterbatasan waktu untuk memasak, pilihan sayuran yang mudah diolah bisa menjadi solusi untuk tetap memenuhi kebutuhan gizi.
Sementara itu, bagi masyarakat yang menyukai makanan bertekstur renyah seperti gorengan, Rahmi menyarankan mencoba metode memasak alternatif, misalnya memanggang menggunakan teflon atau air fryer dengan penggunaan minyak seminimal mungkin.
Untuk masyarakat yang belum terbiasa mengonsumsi buah, Rahmi menyarankan memilih buah yang praktis dimakan, seperti pisang, agar proses membangun kebiasaan baru terasa lebih mudah.
Selain memperbaiki kebiasaan makan, Rahmi juga mendorong pemanfaatan bahan pangan lokal yang mudah ditemukan dan relatif terjangkau. Ia menyebut ikan kembung dapat menjadi alternatif ikan salmon. Sumber protein lain seperti tahu dan tempe juga dapat dipilih, sementara ubi, singkong, dan jagung bisa menjadi variasi sumber karbohidrat.
Sayuran seperti daun kelor dan daun singkong, serta buah lokal seperti pepaya dan jambu merah, juga dapat menjadi bagian dari menu harian keluarga.
Dalam menyusun menu sehat, Rahmi mengingatkan prinsip Isi Piringku, yakni setengah piring diisi sayuran dan buah-buahan, serta masing-masing seperempat piring diisi sumber karbohidrat dan protein. Ia juga menekankan pentingnya konsumsi makanan yang bervariasi agar asupan zat gizi lebih beragam sesuai kebutuhan tubuh.
Rahmi menegaskan kebutuhan gizi setiap orang berbeda-beda, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Karena itu, ia menyarankan konsultasi dengan ahli gizi untuk membantu menentukan pola makan yang sesuai.
Melalui perubahan kebiasaan secara bertahap dan pemanfaatan pangan lokal, masyarakat diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada makanan instan serta menerapkan pola makan yang lebih sehat, seimbang, dan ekonomis bagi keluarga.