BERITA TERKINI
34 Sekolah Dampingan di Biak Numfor Ikuti Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat untuk 2026

34 Sekolah Dampingan di Biak Numfor Ikuti Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat untuk 2026

Sebanyak 34 sekolah dampingan di Kabupaten Biak Numfor mengikuti kegiatan Penyiapan Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat Tahun 2026 yang digelar di Swiss-Belhotel Cendrawasih Biak, Jumat (30/10/2026). Program ini merupakan kolaborasi Yayasan Jenewa Madani Indonesia, UNICEF Papua, dan Pemerintah Kabupaten Biak Numfor, dengan melibatkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pertanian, Dinas Kesehatan, para pengawas sekolah, serta kepala sekolah dari Distrik Biak Kota dan Samofa.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Biak Numfor, Kamaruddin, S.Pd., M.Ap., yang membuka kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Biak Numfor. Ia menilai kehadiran program pendampingan merupakan bentuk kepercayaan terhadap potensi daerah untuk berkembang.

Menurut Kamaruddin, kemajuan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh dinas, melainkan terutama oleh kepala sekolah, guru, dan seluruh warga sekolah. Ia juga menekankan peran strategis program ini dalam mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya melalui penguatan edukasi gizi.

“BGN datang dengan misi pemenuhan gizi, kita datang dengan misi edukasi gizi. Supaya ketika program selesai, yang tertinggal adalah literasi gizi anak-anak yang meningkat,” ujar Kamaruddin.

Dalam pelaksanaannya, sekolah diarahkan menghadirkan kembali kebun sekolah, peternakan skala kecil, serta praktik Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) sebagai satu kesatuan pembelajaran. Kamaruddin menyebut fokus utama bukan pada hasil produksi, melainkan pada nilai edukasi agar siswa memahami proses dari sumber pangan hingga menjadi makanan.

Sementara itu, Nutrition Manager Jenewa Institute, Shafa Syahrani, S.Gz., menjelaskan kegiatan ini dirancang sebagai paket terintegrasi untuk mendukung pelaksanaan MBG di sekolah. Paket tersebut mencakup tiga komponen utama, yaitu penyediaan fasilitas CTPS, peningkatan kantin sehat, serta pengembangan kebun gizi yang terintegrasi dengan kurikulum pembelajaran.

“Kebun gizi yang terintegrasi dengan pembelajaran ini merupakan inovasi yang belum ada di daerah lain di Indonesia. Hari ini kita bahkan melakukan soft launching pedomannya bersama-sama,” kata Shafa.

Program ini juga didukung pendanaan dari Pemerintah Jepang melalui UNICEF berupa dana pendampingan sebesar Rp5 juta per sekolah. Dana tersebut diperuntukkan bagi pengembangan kantin, kebun, dan Unit Kesehatan Sekolah (UKS), di luar dukungan pembangunan sarana CTPS yang juga menjadi bagian program.

Adapun tujuan kegiatan ini meliputi identifikasi kondisi dan kebutuhan sarana prasarana kantin sehat, kebun gizi, serta CTPS; penentuan prioritas pembangunan dan peningkatan sarana; penyepakatan bentuk dukungan pendanaan dan pembangunan; penguatan koordinasi serta pembagian peran antar-pihak terkait; hingga penyusunan rencana tindak lanjut pelaksanaan.

Setiap sekolah dijadwalkan menyusun rencana tindak lanjut masing-masing. Melalui konsep Lingkungan Sekolah Sehat, program ini diharapkan tidak hanya mendukung pemenuhan gizi anak, tetapi juga menumbuhkan budaya hidup bersih, sadar gizi, dan menghargai proses sejak usia dini.