Kompetisi Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Bidang Cookery tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) digelar di SMK Budi Mulia Dua, Rabu (8/4/2026). Sebanyak 13 SMK se-DIY mengirimkan perwakilan terbaik untuk menunjukkan kemampuan tata boga di ajang tersebut.
Sejumlah sekolah yang terlibat antara lain SMK 1 Panjatan, SMK N 6 Yogyakarta, SMK Ma’arif 2 Sleman, SMK Pembangunan Karangmojo, SMK Muhammadiyah Wonosari, dan SMK YPKK 2 Sleman. Peserta lainnya berasal dari SMK N 1 Kalasan, SMK BOPKRI 2 Yogyakarta, SMK N 4 Yogyakarta, SMK Budi Mulia Dua sebagai tuan rumah, SMK N 3 Wonosari, SMK N 1 Girisubo, serta SMK N 1 Sewon.
Ketua Panitia LKS DIY Bidang Cookery, Maman R. Rukmana, mengatakan peserta ditantang menampilkan keahlian teknis dan kreativitas dalam mengolah bahan mentah menjadi hidangan yang mengacu pada standar dapur profesional. Dalam lomba ini, peserta wajib menyelesaikan tiga kategori menu dalam waktu maksimal empat jam.
Tiga menu tersebut terdiri atas sup berbahan dasar labu atau jamur, hidangan utama (main course) berbahan dasar daging sapi, serta hidangan penutup (dessert) berbahan dasar tepung atau kue. “Waktunya empat jam dari bahan mentah, kemudian dimasak sampai disajikan,” kata Maman.
Maman menilai kualitas karya peserta—yang mayoritas duduk di kelas XI dan XII—menunjukkan perkembangan yang menonjol, terutama dari sisi penyajian. Menurutnya, tampilan hidangan para siswa cenderung modern karena banyak terinspirasi dari media sosial dan platform digital.
Ia juga menyampaikan keyakinannya bahwa para peserta memiliki potensi besar untuk terjun ke dunia kerja sektor kuliner. Maman menyebut pengalaman magang turut membantu siswa lebih siap menghadapi standar industri, bahkan membuat mereka mulai dilirik hotel dan restoran sebelum lulus.
Pelaksanaan LKS kali ini juga dinilai berbeda dibanding beberapa tahun sebelumnya yang kerap berpusat di sekolah negeri. Menurut Maman, penyelenggaraan yang tersebar di sejumlah sekolah swasta menjadi langkah positif untuk menunjukkan kesiapan fasilitas dan kompetensi sekolah swasta sebagai tuan rumah kegiatan.
Untuk menjaga objektivitas penilaian, panitia menghadirkan tiga juri profesional dari unsur industri dan akademisi. Para peserta dinilai tidak hanya dari rasa, tetapi juga higienitas, teknik memotong, serta estetika penyajian yang menjadi aspek penting dalam standar industri perhotelan dan restoran internasional.
Maman menambahkan, kompetisi ini juga dimanfaatkan sebagai ruang berbagi wawasan bagi siswa dan guru pendamping. Kehadiran praktisi industri sebagai juri, menurutnya, memberi kesempatan bagi peserta untuk memperoleh koreksi dan masukan langsung terkait standar kerja di dapur profesional.

