BERITA TERKINI
Warteg Legendaris di Jogja Tutup Setelah 25 Tahun, Potret Beratnya Bertahan di Bisnis Kuliner

Warteg Legendaris di Jogja Tutup Setelah 25 Tahun, Potret Beratnya Bertahan di Bisnis Kuliner

Bisnis kuliner di Yogyakarta kerap dibayangkan menjanjikan, namun kenyataannya tidak selalu demikian. Sejumlah pelaku usaha menilai persaingan dan karakter konsumen di kota ini membuat banyak bisnis harus berjuang keras untuk bertahan. Salah satu contohnya adalah sebuah warteg legendaris yang disebut sebagai warteg pertama di Jogja, yang akhirnya menutup usaha setelah puluhan tahun beroperasi.

Muhammad Cholid (41) menceritakan perjalanan warteg milik keluarganya yang berawal dari perantauan keluarga asal Tegal. Sejak awal 1990-an, keluarganya sempat membuka usaha kuliner di beberapa kota sekitar Jakarta, dengan lokasi terakhir di Bekasi yang berada dekat sebuah pabrik.

Menurut Cholid, membuka usaha kuliner di sekitar pabrik menuntut penyesuaian dengan kebutuhan pasar utama, yakni para buruh. Warteg dinilai cocok karena menawarkan banyak variasi lauk, porsi besar, dan harga yang masih terjangkau.

Namun, krisis moneter pada akhir 1990-an menjadi titik balik. Pabrik di sekitar lokasi usaha disebut memberhentikan lebih dari separuh buruhnya. Kondisi itu mendorong keluarga Cholid memutuskan memindahkan usaha ke Yogyakarta.

Sebelum memulai di Jogja, keluarga Cholid mengaku melakukan riset kecil-kecilan dan menemukan bahwa warteg belum berkembang di kota tersebut pada masa itu. Dari situ, mereka melihat peluang untuk tumbuh.

Meski begitu, Cholid menilai ada perbedaan signifikan antara pasar Jogja dan Jabodetabek. Di Yogyakarta, mereka lebih menyasar kalangan pelajar dan mahasiswa. Konsekuensinya, harga jual menu harus ditekan agar lebih terjangkau dibanding saat berjualan di Bekasi dan Jakarta.

Cholid mengatakan ibunya memegang prinsip bahwa margin keuntungan yang tipis tidak menjadi masalah selama perputaran penjualan cepat. Pengalaman melayani buruh pabrik sebelumnya dianggap membantu memahami kebutuhan konsumen yang mengutamakan harga terjangkau dan layanan cepat.

Warteg tersebut sempat berkembang hingga membuka cabang dalam perjalanan sekitar 25 tahun. Namun, bisnis itu akhirnya resmi gulung tikar pada Jumat, 31 Mei 2024. Cholid menyebut kondisi usaha sudah tidak stabil sejak pandemi dan tidak kunjung membaik setelahnya.

“Banyak faktor. Mungkin masanya memang cuma sampai di sini. Semoga ini yang terbaik,” ujar Cholid.

Penutupan Warteg Glagahsari yang sempat bertahan lebih dari dua dekade menjadi salah satu potret beratnya mempertahankan usaha kuliner di Yogyakarta, kota yang sering dipersepsikan ramah bagi bisnis makanan, tetapi tetap menuntut adaptasi dan daya tahan tinggi dari para pelakunya.