BERITA TERKINI
Viral: Pengertian, Sejarah Istilah, Ciri-ciri, dan Cara Membuat Konten Mudah Menyebar

Viral: Pengertian, Sejarah Istilah, Ciri-ciri, dan Cara Membuat Konten Mudah Menyebar

Perkembangan media sosial melahirkan banyak kreator yang berlomba membuat konten “viral” demi menjangkau penonton dan pengikut lebih luas. Istilah viral kini lazim dilekatkan pada konten, informasi, maupun tren yang cepat menyebar dan ramai dibicarakan di internet.

Namun, apa sebenarnya arti viral, bagaimana sejarah kemunculan istilah ini, dan faktor apa saja yang membuat sebuah konten cepat menyebar? Berikut rangkumannya.

Pengertian viral

Secara asal kata, “viral” berasal dari bahasa Inggris yang berarti “virus”. Dahulu, kata ini digunakan untuk menggambarkan penyakit yang mudah menular dari satu orang ke orang lain. Seiring perkembangan internet, maknanya bergeser menjadi sesuatu yang menyebar cepat melalui media sosial dan internet hingga menjangkau banyak orang secara daring.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), viral memiliki dua pengertian: pertama, segala sesuatu yang berhubungan dengan virus; kedua, penyebaran video, gambar, informasi, atau lainnya dari satu pengguna internet ke pengguna internet lain.

Adapun fenomena viral dijelaskan sebagai objek atau pola yang dapat “menggandakan diri” atau mengubah objek lain menjadi salinan dirinya ketika terpapar oleh sesuatu yang dinilai viral. Dalam konteks digital, ini merujuk pada pola penyebaran informasi yang meluas karena dibagikan berulang-ulang.

Awal kemunculan istilah viral di internet

Istilah viral disebut mulai populer pada 2009, salah satunya untuk menggambarkan video “David after Dentist”. Video itu diunggah oleh ayah dari David Devore Jr. yang merekam reaksi anaknya setelah mendapat anestesi usai operasi mulut. Video tersebut menarik perhatian luas dan menjadi bahan pembicaraan, lalu istilah “viral” semakin sering dipakai untuk menyebut konten yang menyebar cepat dan memantik minat publik.

Ciri-ciri fenomena viral

Ada sejumlah karakteristik yang kerap melekat pada konten atau tren yang viral.

Pertama, unik dan tidak umum. Fenomena yang dianggap tidak biasa cenderung lebih mudah menarik perhatian dan mendorong orang untuk membagikannya.

Kedua, dapat bernada positif maupun negatif. Tidak semua hal viral berdampak baik. Contoh yang disebutkan adalah tren remaja menghadang kendaraan besar yang dinilai berbahaya dan termasuk sisi negatif. Di sisi lain, ada pula tren positif seperti gerakan memberi kepada orang yang membutuhkan, yang mendorong banyak orang ikut melakukan hal serupa.

Ketiga, sedang hits. Konten viral umumnya menjadi topik hangat yang ramai diperbincangkan karena dianggap menarik, sedang “booming”, atau kekinian.

Keempat, berdurasi pendek. Video viral sering kali singkat. Disebutkan bahwa lebih dari 19% orang cenderung menutup video setelah 10 detik pertama, sehingga bagian awal yang menarik dapat meningkatkan peluang konten dibagikan.

Kelima, memicu emosi kuat. Mengacu pada penjelasan Jonah Berger dalam buku Contagious: Why Things Catch On (2019) yang dikutip, konten viral biasanya membangkitkan emosi kuat pada penonton atau pembaca—misalnya rasa bahagia atau tawa.

Keenam, diunggah pada momen yang tepat. Konten lebih berpeluang menyebar luas bila dipublikasikan saat relevan dengan peristiwa terkini atau topik budaya pop yang sedang mendominasi pembicaraan.

Ketujuh, terhubung dengan isu yang lebih luas. Konten yang terkait dengan peristiwa atau pembahasan yang menarik minat banyak orang dinilai memiliki peluang lebih besar menjangkau audiens luas.

Sejarah gagasan “viral” dan perkembangan penyebaran konten

Menurut rujukan yang disebutkan, istilah viral pertama kali diciptakan oleh Douglas Rushkoff. Ia menggunakan konsep “virus media” atau “media viral” untuk menjelaskan salah satu jenis kuda Troya: orang-orang dapat “tertipu” meneruskan agenda tersembunyi ketika mereka membagikan konten yang menarik.

Contoh lain dari informasi yang menyebar luas adalah meme. Istilah meme diperkenalkan Richard Dawkins pada 1976 dalam bukunya The Selfish Gene. Dawkins menjelaskan meme sebagai satuan makna budaya—misalnya gagasan atau nilai—yang diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pada masa ketika budaya tulis belum dominan, meme banyak menyebar dari mulut ke mulut melalui lagu rakyat, cerita rakyat, dan pantun.

Seiring waktu, penyebaran itu berkembang lewat media cetak. Disebutkan pula adanya penelitian tentang koran di Amerika Serikat sekitar 1800-an yang menemukan praktik saling salin dan menyalin cerita serta kabar melalui brosur yang beredar secara nasional. Pada 1900-an, surat berantai melalui pos juga menjadi salah satu bentuk penyebaran.

Masuknya internet mengubah lanskap penyebaran informasi karena pengguna dapat memilih dan membagikan konten secara elektronik dengan lebih mudah. Surel atau email kemudian menjadi salah satu sarana penyebaran yang disebut sebagai “surel viral”. Kemunculan perangkat lunak pengolah gambar seperti Photoshop mempermudah pembuatan gambar dengan teks humor yang dikenal sebagai meme internet. Setelah itu, platform seperti YouTube turut mendorong penyebaran video viral, yang umumnya ditandai oleh jumlah penayangan besar dan jangkauan pemirsa yang luas—baik berasal dari video amatir maupun produksi profesional.

Cara membuat konten lebih berpeluang viral

Meski konten viral sering sulit diprediksi—terutama karena perubahan algoritma mesin pencari dan media sosial—ada beberapa langkah yang disebut dapat meningkatkan peluang konten menyebar lebih luas.

Pertama, gunakan pembuka yang jelas, singkat, dan padat. Karena banyak pengguna hanya memperhatikan bagian awal, pembuka yang langsung mengarah pada inti dapat membantu menarik perhatian. Thumbnail yang menarik juga dapat memancing rasa ingin tahu.

Kedua, gunakan URL ringkas. URL yang pendek disebut dapat menarik minat pembaca lebih baik dibanding tautan yang panjang atau membingungkan. URL juga dapat dikaitkan dengan SEO dengan menyertakan kata kunci yang relevan.

Ketiga, manfaatkan angka ganjil pada judul. Disebutkan adanya temuan bahwa banyak artikel menggunakan angka pada headline, dan judul dengan angka ganjil memiliki CTR lebih tinggi dibanding angka genap. Angka membuat judul terlihat lebih spesifik dan menarik secara psikologis.

Keempat, gunakan tanda kurung pada judul. Disebutkan pula bahwa judul dengan tanda kurung dapat meningkatkan CTR. Tanda kurung biasanya berisi informasi tambahan yang membuat konten dinilai lebih bermanfaat.

Kelima, sertakan gambar. Penambahan gambar dengan elemen visual menarik disebut dapat meningkatkan ketertarikan pembaca. Hal ini juga menjelaskan mengapa platform berbasis visual seperti Instagram, TikTok, dan YouTube digemari.

Keenam, bangun kredibilitas melalui visual yang tepat. Pengguna internet cenderung lebih berhati-hati membagikan konten agar tidak dianggap menyebarkan informasi keliru. Karena itu, penggunaan foto atau gambar yang relevan, berkualitas, dan disertai sumber atau watermark dinilai dapat membantu membangun kepercayaan.

Ketujuh, buat tombol atau ajakan berbagi terlihat jelas. Ikon share yang menonjol atau ajakan membagikan konten di akhir unggahan dapat memudahkan dan mendorong pengguna untuk ikut menyebarkan.

Di tengah derasnya arus informasi, istilah viral bukan lagi sekadar soal popularitas sesaat. Ia juga menggambarkan cara sebuah ide, tren, atau pesan beredar cepat di ruang digital—dengan dampak yang bisa positif maupun negatif, tergantung konten dan konteksnya.