Perkembangan tren yang kian cepat, terutama di era media sosial, membuat sebuah produk bisa mendadak viral dan menarik perhatian luas dalam waktu singkat. Namun, popularitas sesaat tidak selalu menjadi jaminan bisnis mampu bertahan dalam jangka panjang. Sejumlah pelaku usaha bahkan kesulitan mempertahankan pelanggan ketika tren mulai berganti.
Gusti Ian, pemilik Kebaya Mbok Dhe, menilai viralitas dapat membantu memperkenalkan merek, khususnya di industri fashion. Meski begitu, ia menekankan bahwa konsistensi dan inovasi tetap menjadi kunci agar bisnis berkelanjutan dan tidak hanya bergantung pada tren.
Manfaatkan viralitas untuk memperkuat branding
Menurut Gusti Ian, viral bisa menjadi peluang besar untuk membangun branding karena membuat lebih banyak orang mengenal nama dan karakter merek. Namun, perhatian dari tren viral sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya tujuan. Pelaku usaha tetap perlu memikirkan cara menjaga hubungan dengan pelanggan agar mereka kembali setelah popularitas mereda. “Sebetulnya viral tuh bagus ya untuk branding. Tapi gimana caranya kita untuk menjaga brand kita itu harus tetap diingat dan pelanggan itu harus tetap kembali ke kita,” ujarnya.
Jangan terpaku mengejar tren yang cepat berganti
Di sektor fashion, perubahan tren terjadi dalam waktu singkat. Gusti Ian mengingatkan bahwa tren viral umumnya punya masa populer yang terbatas. Karena itu, ia menilai pelaku bisnis perlu selektif memilih tren yang sesuai dengan karakter merek, agar strategi tidak menjadi tidak konsisten. “Jadi kalau tren viral, viral itu kan kayak fashion itu kan sebulan dua bulan kan pasti ganti. Ganti lagi... Kalau ini ikutin gitu terus lah, gimana? Pusing tuh kepala,” katanya.
Bangun identitas merek yang konsisten
Identitas merek yang kuat menjadi fondasi penting agar bisnis bertahan. Identitas ini tercermin dari karakter produk, gaya komunikasi, hingga nilai yang dibawa. Gusti Ian menekankan konsistensi agar merek tidak kehilangan ciri khas hanya karena mengikuti tren. “Jadi gimana kita ini konsisten untuk identitasnya tuh apa? Itu tuh harus ya. Konsistensi itu harus,” ujarnya.
Terus berinovasi agar produk tetap relevan
Konsistensi, menurutnya, tidak berarti produk harus selalu sama. Inovasi tetap dibutuhkan agar bisnis relevan dengan perubahan kebutuhan pelanggan. Ia mencontohkan inovasi dengan memadukan kebaya dengan elemen kebaya tim sebagai border. “Terus kemudian jangan lupa untuk berinovasi... mungkin aku bisa memadukannya dengan kebaya tim. Jadi kebaya itu baru tak mix dengan kebaya tim,” tuturnya.
Kembangkan produk sesuai kebutuhan pelanggan
Inovasi juga dapat dilakukan dengan membuat produk lebih praktis dan fleksibel digunakan. Gusti Ian memberi contoh pengembangan kebaya janggan yang biasanya berlengan panjang, lalu dibuat versi tanpa lengan agar lebih mudah dipakai dalam berbagai aktivitas. “Kebaya janggan kan terbiasa dengan lengannya panjang. Itu kita bikin yang tanpa lengan. Jadi bisa tetap jalan ke mana-mana... Dengan pakai celana panjang... bisa,” katanya.
Susun strategi jangka panjang untuk keberlanjutan
Pada akhirnya, bisnis yang berkelanjutan membutuhkan strategi yang melampaui popularitas sesaat. Gusti Ian menilai konsistensi dan inovasi perlu berjalan beriringan: identitas merek dijaga, sementara produk terus dikembangkan agar tidak tertinggal. Ia juga menyinggung tujuan jangka panjang untuk menjaga keberadaan kebaya agar tetap dikenal generasi muda. “Terus kemudian untuk gimana caranya ini tetap bertahan, ya. Itu pengen anak-anak muda itu juga bisa ngelihat ini,” ujarnya.
Rangkaian pandangan tersebut menegaskan bahwa viralitas dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan produk, tetapi keberlanjutan bisnis ditentukan oleh kemampuan membangun identitas merek, menjaga konsistensi, serta menghadirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan pelanggan.