Tren viral di media sosial kerap berumur pendek, sehingga mengangkat fenomena internet ke layar lebar menyimpan risiko besar. Jika tidak berhasil dikembangkan menjadi cerita yang utuh, film berpotensi terasa seperti rangkaian meme yang dipanjangkan. Film Cek Khodam mencoba menghindari jebakan itu dengan menjadikan tren “cek khodam” sebagai pintu masuk untuk menyindir masyarakat modern yang perlahan kehilangan rasa takut terhadap hal-hal gaib.
Diproduksi Dee Company dan disutradarai Jeropoint, Cek Khodam dirilis di bioskop Indonesia pada 16 Juli 2026 dengan durasi sekitar 110 menit. Film ini dibintangi Jirayut Afisan, Saputra Kori, Benidictus Siregar, Angie Williams, Adi Sudirja, Cetul Leatherart, serta penampilan Kak Gem dan Tante Lala. Deretan pemain yang didominasi komedian dan kreator konten membuat film ini terlihat memahami identitasnya sejak awal sebagai komedi horor yang dekat dengan budaya internet.
Cerita mengikuti Sakti, Wira, dan Bima—tiga sahabat yang mendadak terkenal lewat konten “cek khodam”. Mereka mengubah dunia mistis menjadi hiburan yang mengundang jutaan penonton. Namun, masalah muncul ketika popularitas itu ternyata berdampak pada dunia gaib.
Film menggambarkan ketakutan manusia yang terus menurun. Orang-orang tidak lagi gentar melihat pocong, genderuwo, atau khodam karena hidup mereka dipenuhi kecemasan yang dianggap lebih nyata: tagihan listrik, cicilan, harga kebutuhan pokok, dan tekanan ekonomi. Gagasan ini menjadi fondasi satir yang berpotensi kuat, meski pelaksanaannya dinilai belum sepenuhnya maksimal.
Di paruh awal, ritme komedi film terjaga dengan cukup baik. Candaan mengalir ringan, ditopang chemistry Jirayut, Saputra Kori, dan Benidictus Siregar yang terlihat nyaman bermain bersama. Sejumlah dialog terasa spontan, dengan penampilan Jirayut yang disebut cukup mengejutkan.
Namun seiring cerita berjalan, kelemahan mulai terasa. Banyak lelucon dibangun dengan pola serupa: hantu digambarkan kikuk, manusia panik, lalu situasi berakhir kacau. Formula itu efektif memancing tawa di awal, tetapi kehilangan tenaga ketika terus diulang. Dampaknya, beberapa adegan terasa seperti sketsa komedi yang disusun berurutan, alih-alih perkembangan cerita yang mendorong konflik menuju klimaks.
Eksplorasi dunia gaib juga dinilai belum dimanfaatkan optimal. Film membuka peluang konsep yang lebih liar, misalnya menggambarkan dunia para khodam sebagai birokrasi yang krisis karena kehilangan “pelanggan”. Namun film cenderung bermain aman, dengan dunia gaib lebih sering menjadi latar untuk melontarkan lelucon ketimbang dibangun sebagai bagian penting dari cerita.
Pilihan tersebut membuat kritik sosialnya terasa setengah matang. Film berulang kali menegaskan bahwa manusia masa kini lebih takut pada tekanan ekonomi daripada hantu. Meski idenya kuat, penyampaiannya kerap berhenti sebagai punchline, padahal tema ini bisa berkembang menjadi komentar yang lebih tajam tentang tekanan hidup masyarakat, budaya viral, hingga industri konten yang mengejar angka penonton.
Dari sisi visual, film disebut tidak menawarkan sesuatu yang istimewa. Efek visualnya cukup untuk mendukung cerita, tetapi tidak meninggalkan kesan mendalam. Desain makhluk gaib pun cenderung aman. Meski begitu, karena film lebih menekankan komedi ketimbang kengerian, kekurangan ini tidak terlalu mengganggu pengalaman menonton.
Di sisi lain, Cek Khodam dinilai berhasil memahami target penontonnya. Film tidak mengejar status sebagai horor paling menyeramkan atau komedi paling lucu, melainkan berupaya menjadi hiburan yang dekat dengan budaya internet Indonesia. Banyak referensi media sosial terasa akrab bagi penonton yang mengikuti tren beberapa tahun terakhir.
Namun kedekatan dengan tren juga menjadi pedang bermata dua. Humor yang bergantung pada fenomena viral memiliki umur yang pendek; apa yang lucu hari ini belum tentu relevan beberapa tahun mendatang. Risiko itu membuat film berpotensi cepat kehilangan daya tariknya. Pada akhirnya, film dinilai menghibur, tetapi dianggap terlalu puas menjadi lucu ketika sebenarnya memiliki kesempatan untuk tampil lebih cerdas.