BERITA TERKINI
Vietnam Kukuh Jadi Eksportir Lada Terbesar Dunia, Posisi Indonesia Tertinggal

Vietnam Kukuh Jadi Eksportir Lada Terbesar Dunia, Posisi Indonesia Tertinggal

Lada hitam kerap hadir tanpa banyak disadari di dapur modern—ditaburkan di atas steak, dicampur ke sup, atau menjadi bagian dari saus. Namun di balik perannya yang tampak sederhana, perdagangan lada dunia kini didominasi Vietnam.

Vietnam saat ini berdiri sebagai eksportir lada terbesar di dunia. Negara tersebut sempat menguasai sekitar 55% pasokan lada global. Pada 2022, Vietnam diproyeksikan mengekspor 220 ribu ton lada dengan nilai US$962 juta. Dalam 11 bulan pertama tahun itu saja, pengiriman sudah melampaui 212 ribu ton ke lebih dari 80 negara dan wilayah.

Dengan skala itu, pasokan lada untuk restoran di Eropa maupun industri makanan di Amerika Serikat disebut berpeluang besar berasal dari kebun-kebun Vietnam.

Menurut Hanfimex, keunggulan Vietnam ditopang kombinasi faktor alam, industri, dan kebijakan dagang. Iklim tropis lembap dinilai memberi kondisi ideal bagi tanaman lada, sementara tanah subur di wilayah Gia Lai, Dak Lak, hingga Ba Ria Vung Tau mendukung produktivitas tinggi. Kawasan Phu Quoc juga dikenal memiliki aroma lada yang khas.

Di sisi pasokan, Vietnam disebut mampu menjaga ketersediaan yang lebih konsisten dibanding negara yang lebih bergantung pada musim. Dalam perdagangan global, stabilitas pasokan menjadi nilai penting selain volume.

Vietnam juga bergerak cepat dalam pengolahan. Lada dipanen, dijemur, dibersihkan, dipilah, lalu diproses mengikuti standar ekspor. Pembeli besar umumnya menuntut ukuran seragam, kadar air terukur, residu rendah, serta pengiriman tepat waktu. Penyesuaian terhadap kebutuhan ini membuat lada Vietnam diposisikan bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan produk pangan dengan spesifikasi yang jelas.

Faktor lain datang dari diplomasi dagang. Perjanjian perdagangan bebas Vietnam dengan Uni Eropa memberi akses tarif yang lebih ringan dibanding sejumlah pesaing regional. Penurunan tarif membuat harga akhir lebih kompetitif—hal yang krusial dalam bisnis rempah dengan margin ketat. Kondisi ini membantu Vietnam memperluas pasar ke Eropa, Amerika Serikat, Timur Tengah, hingga India.

Dalam catatan yang disebutkan, Vietnam membukukan ekspor senilai US$171,6 juta dengan volume 29,8 juta kilogram. Jaraknya lebar dibanding India di posisi berikutnya yang mencatat US$38,8 juta. Uni Eropa, Jerman, dan Amerika Serikat disebut menyusul di bawahnya.

Sementara itu, Indonesia pada kategori yang sama mencatat ekspor sekitar US$5,59 juta dengan volume 1,03 juta kilogram pada 2023. Indonesia masih masuk peta perdagangan lada global, namun skalanya jauh di bawah Vietnam.

Padahal secara historis, Nusantara pernah menjadi salah satu penguasa lada dunia. Pada era perdagangan rempah selama berabad-abad, wilayah Indonesia bersama India menjadi pemasok utama lada global. Pada abad ke-16 hingga ke-18, lada dari Banten, Lampung, dan Sumatra menjadi komoditas yang diburu bangsa Eropa dan turut mendorong ekspedisi dagang besar ke Asia Tenggara.

Pada masa Dutch East India Company, perdagangan lada Nusantara semakin dominan karena perusahaan dagang Belanda itu menguasai jalur distribusi rempah dan menjadikan lada sebagai salah satu komoditas utama. Memasuki abad ke-19, posisi Indonesia masih kuat meski pamor lada mulai tersaingi komoditas lain seperti kopi, gula, dan karet. Namun pada abad ke-20, dominasi tersebut perlahan memudar seiring munculnya pesaing baru seperti Vietnam dan Brazil.

Dalam artikel tersebut, ketertinggalan Indonesia dikaitkan dengan sejumlah persoalan, mulai dari produktivitas kebun, kualitas pascapanen, fragmentasi petani kecil, hilirisasi yang belum kuat, hingga konsistensi standar ekspor. Di pasar global, pembeli disebut lebih menitikberatkan pada mutu yang seragam, harga yang kompetitif, serta suplai yang dapat diprediksi.