BERITA TERKINI
Tren Viral di Media Sosial dan FoMO: Pentingnya Sikap Kritis serta Literasi Digital

Tren Viral di Media Sosial dan FoMO: Pentingnya Sikap Kritis serta Literasi Digital

Media sosial kini tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menjadi ruang utama munculnya berbagai tren. Hampir setiap hari, warganet disuguhi hal-hal baru yang cepat menjadi viral, mulai dari gaya berpakaian, makanan, bahasa, tantangan, tempat nongkrong, hingga perilaku tertentu. Dalam waktu singkat, sesuatu yang awalnya tidak dikenal dapat berubah menjadi perbincangan luas, terutama di kalangan anak muda yang merasa perlu mengikuti arus agar tidak dianggap tertinggal.

Mengikuti tren pada dasarnya tidak selalu keliru. Sejumlah tren bahkan dapat berdampak positif, misalnya konten pendidikan, kesehatan, kreativitas, kegiatan sosial, atau informasi yang menambah wawasan. Namun, persoalan muncul ketika seseorang mengikuti sesuatu semata-mata karena viral tanpa mempertimbangkan kesesuaian dengan kebutuhan, nilai, dan kondisi diri. Dalam situasi ini, “viral” kerap dianggap sebagai penanda bahwa sesuatu pasti menarik, benar, dan layak dilakukan, padahal popularitas tidak otomatis berbanding lurus dengan dampak yang baik.

Salah satu faktor yang membuat seseorang mudah terseret tren adalah rasa takut tertinggal atau Fear of Missing Out (FoMO). Perasaan ini muncul ketika seseorang khawatir kehilangan pengalaman atau informasi yang sedang dinikmati orang lain. Sejumlah penelitian terhadap remaja di Indonesia menunjukkan FoMO dapat mendorong individu untuk terus mengikuti perkembangan media sosial dan mencari validasi dari lingkungan. Temuan lain pada remaja awal di tingkat sekolah menengah pertama juga mengindikasikan kecenderungan mengikuti tren dan mencari pengakuan dari teman sebagai bentuk FoMO.

Masalahnya tidak berhenti pada keputusan mengikuti tren, tetapi juga pada kemampuan menentukan batas. Ketika banyak orang melakukan suatu hal di media sosial, tindakan tersebut sering dianggap wajar hanya karena dilakukan secara massal. Padahal, jumlah pengikut sebuah tren tidak dapat dijadikan ukuran baik atau buruknya tindakan. Ada tren yang sekadar menghibur, tetapi ada pula yang berpotensi merugikan, seperti tindakan berbahaya, perilaku konsumtif, penyebaran informasi yang belum jelas kebenarannya, hingga tindakan yang merendahkan orang lain demi perhatian.

Kondisi ini menegaskan pentingnya literasi digital. Literasi digital tidak sebatas kemampuan menggunakan media sosial, melainkan juga kemampuan memahami, menilai, serta mempertimbangkan informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Penelitian mengenai literasi media sosial pada remaja menyimpulkan bahwa informasi yang viral tetap perlu dibaca dan dianalisis secara kritis, karena dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi palsu maupun praktik penipuan.

Selain itu, tren viral juga kerap mendorong perilaku konsumtif. Tidak sedikit orang membeli sesuatu bukan karena kebutuhan, melainkan karena takut dianggap tidak mengikuti perkembangan. Ketika suatu produk ramai dipakai influencer atau berulang kali muncul di linimasa, keinginan untuk memiliki bisa muncul meski barang tersebut sebenarnya tidak diperlukan. Dalam situasi seperti ini, keputusan membeli lebih dipengaruhi tekanan sosial dan kebutuhan akan pengakuan.

Fenomena tersebut semakin kuat ketika media sosial menjadi ruang perbandingan diri. Penelitian pada remaja Indonesia menunjukkan perbandingan sosial di media online dapat membuat seseorang melihat jarak antara dirinya dan gambaran kehidupan yang dianggap ideal. Dampaknya, cara memandang diri dapat terpengaruh dan kebutuhan terhadap validasi lingkungan dapat meningkat.

Karena itu, sikap kritis dinilai penting sebelum mengikuti sesuatu yang sedang viral. Pertanyaan sederhana dapat membantu menahan diri agar tidak mudah terbawa arus: apakah hal ini benar-benar bermanfaat, aman dilakukan, sesuai dengan nilai yang dipegang, serta dilakukan karena keinginan pribadi atau semata-mata karena takut ketinggalan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi filter awal sebelum ikut terlibat dalam tren tertentu.

Pada akhirnya, media sosial semestinya menjadi alat, bukan sesuatu yang mengendalikan perilaku penggunanya. Tidak mengikuti semua tren bukan berarti ketinggalan zaman. Justru kemampuan memilih mana yang layak diikuti dan mana yang sebaiknya dilewati dapat menunjukkan penggunaan media sosial yang lebih bijak. Tren akan terus berganti dan apa yang ramai hari ini bisa cepat dilupakan, tetapi dampak dari keputusan saat mengikuti tren bisa bertahan lebih lama.