BERITA TERKINI
Tren Viral di Media Sosial dan Dampaknya pada Gaya Hidup Remaja

Tren Viral di Media Sosial dan Dampaknya pada Gaya Hidup Remaja

Media sosial membuat sesuatu yang sebelumnya hanya dikenal oleh segelintir orang dapat dengan cepat menjadi pembicaraan banyak orang. Makanan, pakaian, tempat berkumpul, hingga berbagai aktivitas bisa tiba-tiba populer setelah muncul berulang kali di linimasa. Bagi remaja yang lekat dengan media sosial, perubahan tren yang serba cepat ini menjadi bagian dari keseharian.

Penyebaran tren kian mudah terjadi seiring besarnya penggunaan internet di Indonesia. Laporan DataReportal Digital 2026: Indonesia mencatat sekitar 230 juta pengguna internet di Indonesia pada akhir 2025. Pada periode yang sama, terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial. Luasnya ruang digital ini membuat arus informasi—termasuk tren—bergerak lebih cepat dan menjangkau lebih banyak orang.

Selain cepat menyebar, tren juga cepat berganti. Saat satu produk atau aktivitas sedang ramai dibicarakan, tidak lama kemudian perhatian publik dapat beralih ke tren lain. Kondisi ini membuat remaja semakin mudah mengetahui apa yang sedang populer di lingkungan mereka, bahkan terkadang baru menyadari sebuah tren setelah melihatnya berulang kali di beranda media sosial.

Mengikuti tren tidak selalu berdampak negatif. Sejumlah tren dapat membuka pengalaman baru. Tren olahraga, misalnya, bisa mendorong seseorang mencoba aktivitas yang sebelumnya tidak pernah dilakukan. Tren membaca dapat memperkenalkan buku kepada pembaca baru, sementara tren membuat konten dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kreativitas.

Namun, ada sisi lain yang patut dicermati. Paparan berulang terhadap barang atau aktivitas tertentu di media sosial dapat memunculkan dorongan untuk memiliki atau mencobanya, meski sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Penelitian yang diterbitkan pada 2026 terhadap 208 pengguna media sosial di Indonesia menemukan adanya hubungan antara paparan media sosial, fear of missing out (FOMO), dan kecenderungan melakukan pembelian tidak direncanakan. Penelitian tersebut juga menyebut kelompok usia yang lebih muda menunjukkan reaksi psikologis yang lebih kuat dalam hubungan tersebut. (Jurnal Indonesia Banking School)

Temuan itu tidak serta-merta berarti setiap remaja yang mengikuti tren akan menjadi konsumtif. Namun, penelitian tersebut menunjukkan media sosial dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan keputusan pembelian. Dalam kehidupan sehari-hari, pengaruh ini dapat terlihat ketika seseorang membeli barang karena sedang viral atau merasa perlu memilikinya agar tidak tertinggal dari lingkungan sekitar.

Pengaruh tren juga berhubungan dengan cara remaja memandang gaya hidup. Apa yang sering terlihat di media sosial dapat membuat suatu barang, tempat, atau kegiatan tampak lebih menarik dibanding sebelumnya. Dalam kondisi tertentu, seseorang bahkan bisa merasa tertinggal ketika tidak mengikuti tren yang sedang populer.

Meski demikian, mengikuti tren bukan sesuatu yang harus dihindari. Hal yang lebih penting adalah kemampuan menentukan batas. Sebelum membeli barang yang sedang viral atau mencoba sesuatu yang sedang ramai, seseorang dapat mempertimbangkan manfaatnya, kebutuhannya, serta kemampuan untuk mendapatkannya. Dengan pertimbangan tersebut, keputusan yang diambil tidak semata didorong oleh apa yang sedang banyak dilakukan orang lain.

Remaja juga perlu memahami bahwa tren bersifat sementara. Sesuatu yang ramai dibicarakan hari ini belum tentu tetap populer beberapa minggu atau beberapa bulan kemudian. Karena itu, mengikuti semua tren berisiko membuat seseorang terus mengejar hal baru tanpa mempertimbangkan apa yang sebenarnya diperlukan.

Pada akhirnya, tren viral menjadi bagian dari perkembangan media sosial yang semakin dekat dengan kehidupan remaja. Besarnya penggunaan internet dan media sosial di Indonesia membuat tren lebih cepat menyebar. Tren dapat memberi inspirasi, memperkenalkan pengalaman baru, dan membuka ruang berkreasi. Namun, keputusan untuk mengikutinya tetap berada di tangan masing-masing individu—mengikuti perkembangan zaman boleh, tetapi memiliki pertimbangan sendiri tetap menjadi kunci.