Rasa lelah karena jadwal padat, notifikasi yang terus berbunyi, hingga tekanan untuk segera sukses di usia muda menjadi pengalaman yang banyak dirasakan. Di tengah kondisi itu, gaya hidup yang mengutamakan ketenangan belakangan ramai dibicarakan di media sosial.
Namun, dua istilah yang kerap muncul—slow living dan soft living—sering dianggap sama. Padahal, meski sama-sama identik dengan hidup yang lebih tenang dan tidak ingin terbebani stres, keduanya memiliki perbedaan konsep.
Slow living: hidup dengan kesadaran penuh
Konsep slow living berakar dari gerakan slow movement yang muncul di Italia pada akhir 1980-an. Gerakan ini awalnya merupakan respons terhadap budaya serba cepat, termasuk maraknya konsumsi makanan instan yang dinilai mengorbankan kualitas.
Seiring waktu, slow living berkembang menjadi gaya hidup yang mendorong seseorang menjalani hari-hari dengan kesadaran penuh. Stephanie O’dea dalam bukunya yang terbit pada 2024 menggambarkan slow living sebagai upaya membangun hidup yang bermakna di tengah dunia yang serba terburu-buru.
Dalam praktiknya, slow living bukan berarti bermalas-malasan. Pelakunya justru memilih melakukan sesuatu dengan sengaja dan terukur. Pendekatan ini dapat diwujudkan melalui manajemen waktu yang rapi, berani mengatakan “tidak” pada hal yang tidak penting, serta meninggalkan budaya kerja berlebihan atau hustle culture.
Gaya hidup ini dinilai cocok bagi mereka yang ingin hidup lebih terarah, tidak mudah terdistraksi, dan memiliki kendali atas prioritas hidup.

