Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan peran jurnalis senior sebagai kunci dalam menjaga standar praktik jurnalistik di tengah perubahan cepat pola produksi berita pada era digital.
Meutya menilai tekanan kecepatan dan tuntutan viralitas dalam produksi informasi telah menggeser cara kerja jurnalisme yang sebelumnya memberi ruang verifikasi menjadi lebih cepat dan minim jeda. “Dulu kita membuat berita dengan jeda, ada waktu untuk riset dan verifikasi. Sekarang banyak yang berjalan hampir tanpa jeda karena mengejar kecepatan dan viralitas,” kata Meutya dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu (18/4/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Meutya dalam Deklarasi Serikat Wartawan Senior Indonesia di Jakarta Pusat. Ia menilai perubahan cara kerja di industri media perlu diimbangi dengan transfer pengalaman serta nilai-nilai jurnalistik dari generasi senior kepada jurnalis muda agar kualitas informasi tetap terjaga.
Menurut Meutya, alasan bahwa berita yang tidak viral tidak akan dibaca dapat dipahami, namun hal itu tidak boleh menghilangkan nilai-nilai dasar jurnalistik. “Alasan ‘tidak viral tidak dibaca’ bisa dipahami, tetapi nilai-nilai jurnalistik tidak boleh hilang,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa tanpa proses pewarisan pengalaman, akan muncul kesenjangan antara standar yang dibangun jurnalis senior dan praktik yang dijalankan generasi sekarang. “Kalau tidak ditularkan, akan ada jarak yang jauh antara pengalaman senior dan praktik jurnalisme generasi sekarang,” kata Meutya.
Meutya menegaskan perkembangan teknologi tidak boleh menggeser prinsip utama dalam profesi jurnalis. “Integritas, proses verifikasi, dan keberanian berdiri di sisi kebenaran adalah fondasi yang tidak boleh bergeser,” ungkapnya.
Di tengah perubahan ekosistem media, Meutya menilai kesinambungan antargenerasi menjadi faktor penting untuk menjaga kualitas informasi yang diterima publik.

