BERITA TERKINI
Tren Gyaru Viral di Indonesia, dari Estetika hingga Jejak Subkultur Perlawanan

Tren Gyaru Viral di Indonesia, dari Estetika hingga Jejak Subkultur Perlawanan

Tren gyaru kembali ramai dibicarakan di Indonesia setelah pesta ulang tahun Hanum Mega yang mengusung tema gaya Jepang menyebar luas di media sosial. Banyak warganet kemudian meniru riasan tebal dan busana mencolok yang identik dengan gyaru. Namun, di balik euforia meniru tampilan, konteks sosial yang melahirkan subkultur ini kerap luput dari perhatian.

Selama ini, gyaru sering dibaca sebagai estetika instan: rambut bervolume dengan warna terang, aksesori berani, serta makeup yang sengaja dibuat “berlebihan”. Padahal, subkultur ini muncul sebagai bentuk negosiasi identitas di tengah standar kecantikan yang menuntut perempuan tampil natural, rapi, dan patuh.

Secara istilah, gyaru berasal dari pelafalan Jepang atas kata “gal”, yang mulanya merujuk pada perempuan muda. Seiring waktu, sebutan itu berkembang menjadi label komunitas dengan bahasa gaya, kebiasaan nongkrong, dan cara memandang diri yang khas.

Penelitian Shim Heechan dalam Japanese Cultural Studies (2026) menyebut benih gyaru tumbuh sejak 1970-an, saat pengaruh budaya Amerika bertemu dengan keresahan anak muda Jepang. Pengaruh tersebut tidak hanya hadir lewat pakaian, melainkan juga melalui imajinasi tentang kebebasan yang menantang kepatuhan sosial.

Gyaru kemudian berkembang sebagai antitesis terhadap standar kecantikan arus utama yang memuja kesan “alami” dan feminin yang tertib. Rambut diwarnai, eyeliner tebal, pakaian mencolok, hingga kulit yang dibuat lebih gelap pada varian tertentu, menjadi pernyataan visual yang sulit diabaikan.

Memasuki 1990-an, Shibuya di Tokyo disebut menjadi panggung penting karena ekosistemnya mendukung perputaran tren cepat. Pusat belanja, toko fashion, dan ruang publik anak muda membentuk semacam “laboratorium jalanan” yang membuat gaya pinggiran tampak sah dan layak dirayakan.

Penyebaran gyaru juga dipercepat oleh majalah egg yang terbit pada 1995 melalui foto-foto street style Shibuya. Media cetak pada masa itu bekerja dengan pola yang mirip algoritma media sosial saat ini: mengkurasi, mengulang, lalu mengubah gaya pinggiran menjadi aspirasi massal.

Di akhir 1990-an, variasi seperti ganguro muncul dengan kulit sangat kecokelatan, rambut terang, dan riasan ekstrem. Evolusi ini memperlihatkan bahwa gyaru tidak memiliki satu “kitab suci” tunggal, karena terus bergerak mengikuti keberanian pengikutnya bereksperimen.

Di tingkat komunitas, gyaru juga hidup lewat praktik sosial seperti gyaru-sa, purikura, dan budaya “para para”. Pada titik ini, gyaru menjadi sistem tanda: penampilan berfungsi sebagai bahasa untuk menyatakan “aku memilih caraku sendiri,” sekaligus penanda afiliasi di ruang publik.

Viralnya gyaru di Indonesia menunjukkan laju estetika global yang kerap lebih cepat dibanding pemahaman atas sejarahnya. Ketika gyaru masuk terutama sebagai “inspirasi konten”, ada risiko subkultur ini terpotong dari akar ketegangan sosial yang dulu melahirkannya.

Di era media sosial, gyaru juga mudah direduksi menjadi tema pesta yang ramai sesaat, lalu berganti dengan tren lain. Jika itu yang terjadi, nilai yang paling politis dari subkultur ini ikut memudar: keberanian menolak standar cantik yang seragam.

Di sisi lain, ada aspek yang dinilai perlu dibicarakan secara jujur, terutama terkait varian yang menonjolkan penggelapan kulit. Ketika dipindahkan lintas budaya tanpa diskusi kritis, ekspresi semacam itu dapat berubah menjadi persoalan representasi yang berpotensi melukai kelompok lain.

Karena itu, menghidupkan gyaru disebut tidak seharusnya berhenti pada meniru bentuk, melainkan memahami pesan. Jika yang ditiru hanya permukaan, gyaru berisiko berubah dari perlawanan menjadi komoditas yang jinak dan mudah dijual.

Pada akhirnya, gyaru dapat dibaca sebagai cermin tentang cara anak muda menegosiasikan kebebasan di tengah norma yang menekan. Ia bisa menjadi ruang bermain identitas, sekaligus pengingat bahwa tubuh kerap dijadikan medan aturan sosial. Pertanyaan yang tersisa: ketika tren gyaru dirayakan di Indonesia, apakah yang ikut dirayakan juga hak untuk berbeda, atau sekadar estetika yang sedang laku?