BERITA TERKINI
Tren Dessert Viral dan Asupan Gula: Apa yang Perlu Diwaspadai?

Tren Dessert Viral dan Asupan Gula: Apa yang Perlu Diwaspadai?

Tren makanan viral di TikTok dan Instagram kian memengaruhi pilihan konsumsi, terutama di kalangan Gen Z. Sejumlah dessert seperti dubai chewy cookie, dubai chocoberry, fruit cake, dan variasi lainnya ramai diburu karena tampilan yang menggoda—perpaduan cokelat, krim, isian manis, buah-buahan, hingga beragam topping. Namun, di balik popularitasnya, ada pertanyaan penting yang perlu diajukan: seberapa banyak gula yang masuk ke tubuh saat menikmati dessert semacam ini?

Makanan manis pada dasarnya bukan sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. Dessert masih bisa dinikmati sebagai bagian dari pola makan. Persoalan muncul ketika makanan tinggi gula dikonsumsi terlalu sering, dalam porsi besar, dan ditambah minuman manis atau camilan lain. Karena itu, memahami risiko konsumsi gula berlebih menjadi langkah yang lebih relevan daripada langsung menganggap semua jajanan viral berbahaya.

Untuk menilai risiko, salah satu istilah kunci yang perlu dikenali adalah “gula bebas”. Menurut World Health Organization (WHO) pada 2015, gula bebas mencakup gula yang ditambahkan oleh produsen, penjual, atau konsumen, serta gula yang secara alami terdapat dalam madu, sirop, dan jus buah. Sementara itu, gula yang secara alami ada dalam buah utuh tidak termasuk kategori gula bebas.

WHO merekomendasikan konsumsi gula bebas dibatasi kurang dari 10% dari total energi harian. Pengurangan hingga kurang dari 5% disebut dapat memberikan manfaat tambahan. Pada contoh pola makan 2.000 kilokalori per hari, batas 10% setara dengan kurang dari 50 gram gula bebas, sedangkan sasaran yang lebih ketat sekitar 25 gram. Meski begitu, kebutuhan kalori setiap orang berbeda-beda.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan RI juga menganjurkan batas konsumsi gula maksimal 50 gram atau sekitar empat sendok makan per orang per hari. Batas ini mencakup gula dari seluruh makanan dan minuman yang dikonsumsi, bukan hanya gula yang ditambahkan ke teh atau kopi. Artinya, gula dari dessert tetap perlu dihitung bersama gula dari minuman kemasan, roti manis, biskuit, saus, serta makanan lain yang masuk sepanjang hari.

Berbagai penelitian menunjukkan kaitan konsumsi gula berlebih dengan risiko kesehatan tertentu. Salah satunya adalah kenaikan berat badan. Tinjauan sistematis dan meta-analisis oleh Te Morenga, Mallard, dan Mann (2013) menemukan bahwa pengurangan konsumsi gula berkaitan dengan penurunan berat badan, sedangkan peningkatan konsumsi gula berkaitan dengan kenaikan berat badan pada orang dewasa. Efek ini terutama terkait keseimbangan energi: jika asupan energi terus-menerus melebihi kebutuhan tubuh, berat badan cenderung naik.

Penelitian Huang dan rekan-rekan (2023) juga melaporkan bahwa konsumsi gula tinggi berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan, terutama yang berhubungan dengan metabolisme dan penyakit kardiovaskular. Bukti ilmiah turut menunjukkan bahwa minuman berpemanis dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan. Dalam jangka panjang, kelebihan berat badan dan obesitas dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2. Meski demikian, diabetes tidak disebabkan oleh satu jenis dessert saja. Risiko penyakit ini juga dipengaruhi faktor genetik, usia, aktivitas fisik, pola makan secara keseluruhan, dan faktor metabolik lain.

Risiko lain yang memiliki bukti kuat adalah karies gigi atau gigi berlubang. Bakteri di plak gigi memanfaatkan gula dan menghasilkan asam yang dapat merusak mineral pada permukaan gigi. Jika paparan gula terjadi berulang kali, risiko kerusakan gigi meningkat. Penelitian Moores, Kelly, dan Moynihan (2022) menjelaskan hubungan konsumsi gula dengan karies gigi serta mendukung pentingnya pembatasan asupan gula. Risiko karies dilaporkan lebih rendah ketika asupan gula kurang dari 10% total energi harian.

Dalam konteks dessert viral, dubai chewy cookie dan dubai chocoberry dapat menjadi contoh mengapa tren makanan perlu disikapi secara kritis. Produk dari penjual yang berbeda dapat memiliki resep, berat porsi, dan komposisi yang tidak sama. Tanpa informasi nilai gizi atau pengujian laboratorium, kadar gula dalam satu porsi tidak bisa dipastikan hanya dari nama atau tampilan.

Meski begitu, dessert yang menggabungkan adonan krim, marshmallow, buah, dan cokelat dalam jumlah melimpah berpotensi menyumbang gula serta energi besar, tergantung resep dan porsinya. Risiko konsumsi berlebih menjadi lebih relevan ketika dessert semacam ini dimakan berulang kali dan disertai minuman tinggi gula.

Kondisi kesehatan di Indonesia turut menjadi latar penting. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi diabetes pada penduduk usia 15 tahun ke atas sebesar 11,7% berdasarkan pemeriksaan kadar glukosa darah, sedangkan berdasarkan diagnosis dokter sebesar 2,2% (BKPK, 2024). Kedua angka tersebut menggunakan ukuran berbeda sehingga tidak dapat disamakan. Data ini menunjukkan pentingnya perhatian terhadap diabetes di Indonesia, namun bukan bukti bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh dessert viral. Fokus utama tetap pada pembentukan kebiasaan makan yang mendukung kesehatan jangka panjang.

Lalu bagaimana cara menikmati dessert viral tanpa mengabaikan kesehatan? Salah satu langkah awal adalah memperhatikan porsi dan frekuensi. Jika ukurannya besar, dessert dapat dibagi dengan teman atau disisakan untuk waktu lain, sehingga tidak harus dihabiskan sekaligus.

Langkah berikutnya adalah menghitung gula dari keseluruhan makanan dan minuman dalam satu hari. Dessert manis yang dipadukan dengan minuman manis akan menambah asupan gula. Memilih air putih dapat menjadi cara sederhana untuk mengurangi konsumsi gula dari minuman.

Konsumen juga disarankan membiasakan membaca informasi nilai gizi pada produk kemasan, termasuk jumlah gula per sajian, ukuran sajian, dan jumlah sajian per kemasan. Untuk makanan tanpa label, pembeli dapat menanyakan komposisi kepada penjual, dengan pemahaman bahwa perkiraan tersebut belum tentu menggambarkan kadar gula secara akurat.

Selain itu, untuk menjaga kesehatan gigi, penggunaan pasta gigi berfluorida dua kali sehari dan pemeriksaan gigi sesuai kebutuhan tetap penting. Upaya lain yang mendukung kesehatan adalah menerapkan pola makan beragam, cukup beraktivitas fisik, serta memilih buah utuh sebagai bagian dari konsumsi harian.