BERITA TERKINI
Tren “AI Yearbook” Viral di Media Sosial, Anak Muda Ubah Foto Jadi Gaya Buku Tahunan Era 90-an

Tren “AI Yearbook” Viral di Media Sosial, Anak Muda Ubah Foto Jadi Gaya Buku Tahunan Era 90-an

Tren “AI Yearbook” belakangan ramai diperbincangkan di media sosial dan diikuti anak muda di berbagai negara, termasuk Indonesia. Melalui tren ini, pengguna dapat mengubah foto biasa menjadi potret bergaya buku tahunan sekolah ala era 1990-an hingga awal 2000-an dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI). Hasilnya kerap dianggap unik karena menghadirkan nuansa nostalgia, meski banyak penggunanya tidak mengalami langsung periode tersebut.

Tren ini umumnya dibuat lewat aplikasi seperti Remini dan Lensa AI. Pengguna cukup mengunggah beberapa foto selfie, lalu sistem AI akan memproses wajah dan menempatkannya ke dalam beragam template buku tahunan. Template tersebut biasanya mencakup pilihan pakaian, latar belakang, hingga ekspresi yang identik dengan gaya foto siswa sekolah pada masa lalu, mulai dari tampilan kutu buku, atlet populer, hingga gaya “cool kid”.

Penyebarannya berlangsung cepat, terutama di platform seperti TikTok dan Instagram. Banyak pengguna membagikan hasil transformasi dalam format slide maupun video, bahkan ada yang membuat narasi seolah-olah mereka benar-benar hidup pada era tersebut. Konten semacam ini kerap mendapat respons tinggi karena dinilai menghibur dan terasa dekat dengan pengalaman banyak orang.

Salah satu faktor yang membuat tren ini diminati adalah ruang berekspresi yang ditawarkan. Pengguna dapat melihat versi lain dari diri mereka tanpa perlu mengubah penampilan secara nyata. Di sisi lain, visual yang dihasilkan AI juga semakin realistis sehingga tampak menyerupai foto asli, bukan sekadar hasil suntingan sederhana.

Meski demikian, tren “AI Yearbook” juga memunculkan sejumlah kekhawatiran. Salah satunya terkait privasi data, karena pengguna perlu mengunggah foto wajah ke sistem AI. Hal ini memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana data disimpan dan digunakan oleh pihak aplikasi. Sejumlah ahli pun menyarankan pengguna membaca kebijakan privasi sebelum memakai layanan serupa.

Diskusi lain yang muncul berkaitan dengan standar kecantikan. Beberapa hasil AI dinilai “terlalu sempurna” karena sistem dapat memperhalus kulit, mengubah bentuk wajah, atau menyesuaikan fitur tertentu agar tampak lebih ideal. Kondisi ini dikhawatirkan berpengaruh pada kepercayaan diri, terutama bagi remaja yang masih berada dalam proses mencari jati diri.

Di tengah pro dan kontra tersebut, tren “AI Yearbook” tetap menjadi salah satu fenomena digital yang menonjol. Banyak orang menilainya sebagai hiburan kreatif sekaligus cara mengikuti perkembangan teknologi, dan tidak sedikit kreator konten memanfaatkannya untuk meningkatkan interaksi di media sosial.