BERITA TERKINI
TikTok dan Pertukaran Budaya: Tren Digital yang Menghubungkan Pengguna Lintas Negara

TikTok dan Pertukaran Budaya: Tren Digital yang Menghubungkan Pengguna Lintas Negara

Tren TikTok dari luar negeri yang mendadak ramai diikuti pengguna Indonesia—atau sebaliknya—menunjukkan bagaimana globalisasi dan kemajuan media digital mengubah cara masyarakat berinteraksi sekaligus bertukar budaya. Batas geografis kian memudar ketika ekspresi, cerita, dan nilai budaya dapat berpindah dari satu negara ke negara lain hanya melalui video singkat. TikTok pun menjadi salah satu ruang digital yang mempertemukan budaya, mendorong interaksi, dan memicu transformasi bentuk-bentuk ekspresi budaya dalam format yang lebih partisipatif.

Sun (2024) menilai fenomena ini sebagai penanda pergeseran dari komunikasi antarbudaya yang sebelumnya cenderung formal melalui media tradisional, menjadi interaksi digital yang lebih cair. Di TikTok, pertukaran budaya dapat terjadi spontan melalui kreativitas pengguna, terutama lewat tren yang menyebar cepat dan melintasi berbagai komunitas.

Skala pengaruh TikTok didukung oleh jumlah penggunanya. DataReportal (2024) mencatat TikTok memiliki lebih dari 1,5 miliar pengguna aktif di dunia. Indonesia disebut menempati posisi ketiga jumlah pengguna terbanyak setelah Amerika Serikat dan Brasil. Dengan algoritma yang mampu menyebarkan konten lintas wilayah, video dari satu tempat dapat muncul di layar pengguna di belahan dunia lain. Karakter ini membedakan TikTok dari media tradisional karena komunikasi berlangsung lebih horizontal: pertukaran budaya tidak harus melalui institusi formal, melainkan dibentuk dari interaksi pengguna sehari-hari.

Ratri dan Aviyanti (2025) menyebut platform seperti TikTok bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga jendela global yang memungkinkan orang mempelajari budaya berbeda tanpa perlu bepergian. Konten yang viral—meski terlihat ringan—dapat berfungsi sebagai media komunikasi antarbudaya. Kreator dapat mengenalkan tradisi lokal, bahasa, musik, hingga kebiasaan sehari-hari kepada audiens global, tanpa dibatasi usia, latar belakang, atau lokasi. Dalam konteks ini, siapa pun berpeluang menjadi agen budaya melalui ruang virtual.

Sejumlah contoh menunjukkan bagaimana ekspresi lokal dapat menjangkau audiens internasional. Niken Salindry, sinden muda asal Kediri, menarik perhatian penonton dari berbagai negara lewat aksi panggung yang diiringi musik campursari berbahasa Jawa. Sejumlah lagu yang dibawakannya bahkan dijadikan tren tarian oleh kreator luar negeri. Fenomena lain terlihat pada tradisi Pacu Jalur, lomba mendayung khas Riau. Video singkat yang menampilkan seorang anak kecil menari di ujung perahu mengikuti irama dayungan timnya menjadi viral dan menarik perhatian audiens dari berbagai negara, termasuk pesepak bola dan pembalap terkenal yang menirukan gerakan tersebut untuk selebrasi. Keviralan dua contoh ini memperlihatkan bagaimana media sosial dapat mengubah ekspresi lokal menjadi rujukan yang dipahami lintas bahasa dan negara.

Arus pertukaran budaya di TikTok juga bergerak sebaliknya. Berbagai tren global masuk ke Indonesia dan cepat diadaptasi kreator lokal, mulai dari parodi pembuatan mochi Jepang, ungkapan “Yareu”, hingga tarian kaki dari Thailand yang sempat viral. Jia dan Liang (2021) menempatkan TikTok sebagai ruang sosial global tempat ekspresi lintas budaya saling bertemu dan memengaruhi. Adaptasi kreator Indonesia juga kerap tidak berhenti pada peniruan, melainkan menambahkan sentuhan khas seperti humor lokal. Pola ini mencerminkan cultural remix, yakni pencampuran elemen global dan lokal yang muncul secara alami di ekosistem digital.

Sun (2024) menyatakan tren global di TikTok dapat berdampak pada peningkatan wawasan dan toleransi antarbudaya karena masyarakat bisa mengenal budaya lain melalui layar ponsel. Dalam konteks Indonesia, konten viral seperti Niken Salindry dan Pacu Jalur juga dipandang bukan semata hiburan, melainkan dapat berperan sebagai soft diplomacy—cara memperkenalkan budaya bangsa melalui kreativitas digital. Ratri dan Aviyanti (2025) menambahkan, viralnya konten lokal dapat memberi dampak nyata bagi kreator, mulai dari peningkatan popularitas, peluang kolaborasi internasional, akses penghasilan tambahan, hingga membuka ruang kajian akademik terkait budaya. Dampak ini menunjukkan adanya efek sosial dan ekonomi yang dapat dirasakan, terutama bagi komunitas kreatif di daerah.

Namun, pertukaran budaya melalui TikTok juga menyisakan tantangan. Ratri dan Aviyanti (2025) menyoroti risiko penyederhanaan makna budaya menjadi sekadar tren sementara. Nilai dalam tradisi dapat tereduksi menjadi estetika visual tanpa konteks, misalnya penggunaan pakaian adat untuk tantangan tertentu tanpa memahami makna simbolisnya. Tantangan lain adalah dominasi budaya populer dari negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang, yang berpotensi membuat budaya kurang populer sulit mendapat perhatian. Selain itu, adaptasi tren global tanpa memahami konteks asalnya dapat memunculkan distorsi budaya dan penggambaran yang tidak akurat.

Untuk merespons tantangan tersebut, peran kreator dinilai penting dalam menyajikan budaya lokal secara lebih jelas dan informatif, misalnya dengan menambahkan penjelasan singkat mengenai konteks dan hal-hal penting yang perlu diketahui audiens. Pengguna juga dituntut menonton, menghargai, dan membagikan konten secara bijak, termasuk memberi komentar yang membangun dan menghindari penyebaran konten menyesatkan. Dengan keterlibatan yang bertanggung jawab, konten viral dapat berfungsi tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik.

Di sisi lain, platform TikTok juga dipandang memiliki peran dalam mendukung komunikasi budaya yang lebih efektif. Upaya yang disebut dapat dilakukan antara lain menghadirkan fitur literasi digital, kampanye kesadaran budaya, serta pengaturan algoritma agar konten lokal dan global tampil lebih seimbang sehingga tren tidak hanya didominasi budaya besar. Kolaborasi antara kreator, pengguna, dan platform dinilai dapat menjaga keberagaman budaya tetap terlihat serta diapresiasi.

Pesatnya perkembangan tren di TikTok memperlihatkan bahwa globalisasi membuat pertukaran budaya berlangsung semakin cepat, sekaligus menuntut kesadaran untuk menjaga identitas budaya. Konten viral dapat memunculkan kebanggaan, tetapi tetap perlu disikapi kritis agar makna budaya tidak hilang dalam arus tren. Dengan penggunaan yang bijak, kreativitas yang bertanggung jawab, dan dukungan platform, TikTok berpotensi menjadi jembatan komunikasi lintas budaya yang inklusif dan relevan bagi masyarakat global.