Bisnis kuliner kerap disebut sebagai salah satu bidang usaha yang tidak pernah sepi peminat. Namun, membangun usaha kuliner agar bertahan dan berkembang tidak hanya bergantung pada urusan operasional dan teknis semata.
Pemilik Best Friend Forever Chips (BFF Chips), Nurchaeti, membagikan tiga kunci dasar yang menurutnya perlu dimulai dari diri sendiri. BFF Chips merupakan usaha keripik pisang lokal yang disebut telah merambah pasar luar negeri.
1. Tidak terjebak tren
Nurchaeti menilai banyak perintis usaha kuliner yang mengembangkan produk hanya dengan mengikuti tren sesaat. Ia menyarankan pelaku usaha menentukan produk utama yang ingin dijual dan menjaga fokus tersebut.
Menurutnya, mengikuti tren bukan hal yang keliru. Namun, jika ingin membangun bisnis yang lebih mapan dan berkelanjutan, pelaku usaha perlu memastikan merek dan produk tidak bergeser dari fokus awal hanya karena tren sementara.
2. Konsisten memasarkan produk
Selain fokus, konsistensi dinilai penting dalam membangun usaha kuliner. Nurchaeti menekankan perlunya menjaga standar yang sama sejak awal, lalu terus mengembangkannya menjadi lebih baik.
Ia mencontohkan konsistensi dalam promosi, seperti membuat konten pemasaran di media sosial secara rutin, konsisten dalam jumlah produksi, serta konsisten menawarkan produk kepada sejumlah orang.
3. Disiplin menjalankan bisnis
Kunci berikutnya adalah disiplin, yang menurut Nurchaeti sering terasa berat bagi pemula. Disiplin dimaksud mencakup pengelolaan keuangan, pengaturan waktu, dan aspek lain yang terkait dengan menjalankan usaha.
Ia menyarankan disiplin diterapkan pada diri sendiri sekaligus ditanamkan kepada pihak yang terlibat membantu merintis usaha, termasuk keluarga maupun pekerja.
Nurchaeti menambahkan, tiga hal tersebut merupakan dasar yang perlu dimiliki pelaku UMKM kuliner dan sangat bergantung pada niat serta kemauan pribadi. Sementara urusan teknis seperti pemasaran, menurutnya, dapat dipelajari dan dikerjakan bersama tim.
Ia juga menekankan pentingnya kepemimpinan melalui teladan. Menurutnya, dalam usaha yang masih dirintis—termasuk yang melibatkan keluarga—pemilik usaha berperan sebagai pemimpin yang akan menentukan ritme kerja tim. Jika pemimpin tidak disiplin, ia menilai semangat kerja orang-orang di sekitarnya berisiko ikut menurun.

