Kenaikan harga bahan pokok turut berdampak pada telur, salah satu sumber protein yang banyak dikonsumsi rumah tangga dan pelaku usaha kuliner. Di tengah kondisi tersebut, sebagian konsumen mulai melirik telur cair (liquid eggs) sebagai alternatif yang dinilai lebih praktis dan lebih terjangkau dibanding telur utuh bercangkang.
Telur cair adalah telur yang sudah dikeluarkan dari cangkangnya dan dikemas dalam bentuk cair siap pakai. Produk ini umumnya tersedia dalam varian telur utuh (campuran kuning dan putih) atau putih telur saja.
Dalam proses produksinya, telur cair biasanya melalui tahap pasteurisasi untuk membunuh bakteri berbahaya seperti Salmonella. Sejumlah produsen juga menambahkan bahan pengawet makanan yang aman, seperti asam sitrat, untuk menjaga kesegaran warna dan memperpanjang masa simpan. Dari sisi penggunaan, telur cair menawarkan kepraktisan karena tidak perlu memecahkan cangkang, memisahkan kuning dan putih telur, maupun membersihkan sisa lengket di tangan.
Meski sudah diproses, harga telur cair bisa lebih murah dibanding telur utuh. Perbedaan harga ini disebut berkaitan dengan efisiensi produksi dan logistik. Salah satu faktornya adalah pemanfaatan telur yang secara fisik kurang sempurna untuk dijual eceran—misalnya bentuk cangkang tidak standar atau ukuran terlalu kecil atau besar—namun isi telur masih layak dan bernutrisi.
Faktor lain adalah efisiensi logistik. Karena cangkang tidak ikut dikirim, volume dan berat produk berkurang sehingga biaya transportasi dan penyimpanan lebih hemat. Selain itu, produksi dalam skala besar turut menekan biaya. Disebutkan, di Indonesia harga telur cair berada di kisaran Rp 16.000 hingga Rp 28.000 per kilogram, sementara telur utuh (negeri) berfluktuasi sekitar Rp 28.000 hingga Rp 40.000 per kilogram.
Dari sisi kuantitas, satu kemasan telur cair disebut dapat setara dengan sekitar 20 butir telur, lebih banyak dibanding satu karton telur utuh yang biasanya berisi 12 butir. Di luar harga, telur cair juga menawarkan keunggulan lain, terutama bagi kebutuhan produksi makanan.
Telur cair dinilai memberi konsistensi rasa dan tekstur karena diproduksi massal dengan takaran seragam, sehingga hasil masakan—terutama kue dan roti—lebih stabil. Produk ini juga disebut lebih tahan lama serta mudah dibekukan tanpa merusak kualitas, berbeda dengan telur utuh yang sulit disimpan di freezer.
Bagi usaha katering, toko roti, atau restoran yang membutuhkan kecepatan, penggunaan telur cair dianggap lebih efisien karena tinggal dituangkan dari kemasan tanpa harus memecahkan banyak butir telur satu per satu.
Adapun pilihan antara telur cair dan telur utuh kembali pada kebutuhan. Telur cair dapat menjadi opsi bagi pelaku usaha yang memerlukan volume besar, konsistensi, dan efisiensi biaya. Sementara untuk kebutuhan rumah tangga harian yang membutuhkan fleksibilitas, seperti membuat telur mata sapi, atau bagi yang ingin mengontrol kesegaran bahan sejak awal, telur utuh tetap menjadi pilihan.

