BERITA TERKINI
Surabi Bandung dan Pelajaran bahwa Gastronomi Tidak Harus Mewah untuk Menggerakkan Ekonomi Lokal

Surabi Bandung dan Pelajaran bahwa Gastronomi Tidak Harus Mewah untuk Menggerakkan Ekonomi Lokal

Aroma santan dari tungku tanah liat, surabi hangat bertekstur lembut, dan suasana akrab di depan lapak kecil masih menjadi bagian dari pengalaman kuliner yang hidup di Bandung. Gambaran sederhana ini menegaskan bahwa gastronomi tidak selalu identik dengan kemewahan, melainkan dapat hadir dalam keseharian masyarakat.

Di tingkat global, gastronomi berkembang menjadi strategi ekonomi dan pariwisata berbasis pengalaman. Thailand dan Vietnam kerap disebut sebagai contoh negara yang berhasil mengangkat makanan jalanan menjadi identitas nasional. Sementara itu, Indonesia yang memiliki keragaman kuliner tradisional lebih luas dinilai masih tertinggal dalam menjadikan makanan rakyat sebagai kekuatan utama pariwisata gastronomi.

Salah satu persoalan yang mengemuka adalah cara pandang terhadap gastronomi yang masih sering berpusat pada pengalaman kuliner kelas atas dan restoran mewah. Dalam berbagai diskursus pariwisata, gastronomi kerap diasosiasikan dengan fine dining dan pengalaman eksklusif. Akibatnya, kuliner tradisional seperti Surabi Bandung kerap diposisikan sebatas jajanan pinggir jalan, bukan sebagai bagian dari sistem ekonomi lokal yang memiliki mata rantai panjang.

Sejumlah temuan penelitian menunjukkan kuliner tradisional berpotensi menjadi penggerak ekonomi berbasis komunitas bila dikelola secara terintegrasi dengan sektor pariwisata. Dalam tren wisata modern, wisatawan juga tidak semata mencari makanan untuk mengenyangkan perut, melainkan pengalaman yang bermakna. Karena itu, storytelling atau penceritaan menjadi elemen penting dalam wisata gastronomi untuk menghubungkan makanan dengan identitas budaya, sejarah, dan kehidupan masyarakat lokal.

Surabi Bandung dinilai memiliki narasi yang kuat: penggunaan bahan lokal, teknik memasak tradisional dengan tungku tanah liat, hingga perannya dalam keseharian masyarakat Sunda. Tanpa cerita, surabi hanya dipahami sebagai makanan; dengan narasi, ia dapat menjadi pengalaman budaya yang memiliki nilai wisata.

Namun, upaya mengangkat kuliner tradisional ke panggung wisata gastronomi juga dihadapkan pada tantangan nyata. Persoalan higienitas, infrastruktur, dan kapasitas UMKM kerap menjadi hambatan. Keterbatasan fasilitas produksi dan minimnya pendampingan membuat pelaku kuliner tradisional dinilai sulit bersaing dalam industri pariwisata yang semakin kompetitif. Tantangan ini, dalam praktiknya, sering dijadikan alasan untuk mengesampingkan kuliner rakyat alih-alih meningkatkan kualitasnya melalui pendampingan dan inovasi yang tetap menghargai tradisi.

Padahal, Surabi Bandung dapat dilihat sebagai simpul ekonomi lokal. Satu porsi surabi melibatkan rantai produksi yang panjang, mulai dari petani padi dan kelapa, pengrajin peralatan tradisional, hingga pedagang UMKM berbasis keluarga. Jika diintegrasikan dalam wisata gastronomi, makanan tradisional seperti surabi berpotensi menciptakan efek pengganda ekonomi: memperluas lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, sekaligus menjaga keberlanjutan budaya kuliner lokal.

Karena itu, pengembangan Surabi Bandung dinilai tidak cukup hanya mengandalkan popularitasnya sebagai jajanan tradisional. Diperlukan strategi yang lebih terstruktur, misalnya tur gastronomi berbasis komunitas yang mengajak wisatawan melihat langsung proses pembuatan surabi, mengenal bahan baku lokal, hingga berinteraksi dengan pelaku UMKM. Pemerintah daerah dapat berperan melalui pelatihan higienitas, kurasi destinasi kuliner, serta penguatan promosi wisata gastronomi. Di sisi lain, generasi muda dapat membantu lewat dokumentasi digital dan penyebaran narasi di media sosial untuk memperkuat identitas kuliner lokal.

Surabi Bandung pada akhirnya memberi pengingat bahwa gastronomi tidak harus mewah untuk memiliki nilai ekonomi dan budaya yang tinggi. Selama mampu menghidupkan petani, UMKM, dan cerita lokal, kekuatan gastronomi justru dapat bertumpu pada dapur-dapur sederhana yang terus menyala di tengah masyarakat.