BERITA TERKINI
Desa Wisata Sait Buttu Dorong Bahasa Prancis Dasar untuk Perkuat Layanan Kuliner

Desa Wisata Sait Buttu Dorong Bahasa Prancis Dasar untuk Perkuat Layanan Kuliner

Desa wisata di Indonesia kini tidak lagi hanya mengandalkan panorama alam. Di Desa Wisata Sait Buttu, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, pengalaman kuliner menjadi bagian penting dari interaksi antara warga lokal dan wisatawan mancanegara.

Dalam ulasan yang ditulis Wirnawati Br Sinaga dari Politeknik Pariwisata Medan, kemampuan bahasa asing—khususnya Bahasa Prancis—dinilai berperan dalam mendukung pelayanan makan dan minum di desa tersebut. Selama ini, pelaku usaha setempat, mulai dari pemilik kedai kopi hingga pengelola homestay, masih mengandalkan bahasa isyarat atau aplikasi penerjemah saat melayani tamu asing. Meski kerap dibantu pemandu wisata, warga disebut memiliki keinginan untuk dapat menyapa dan berkomunikasi langsung dengan wisatawan Eropa yang berkunjung.

Wirnawati menekankan bahwa kebutuhan utama masyarakat bukanlah penguasaan tata bahasa yang rumit, melainkan kemampuan berbahasa yang fungsional dan kontekstual. Menurutnya, ungkapan sederhana dan praktis sudah cukup untuk mendukung layanan dasar, seperti menyapa tamu, menawarkan menu, hingga menanyakan kepuasan pelanggan setelah makan.

Penggunaan Bahasa Prancis dasar dalam layanan kuliner dipandang dapat menciptakan suasana yang lebih hangat dan personal. Dalam ulasan tersebut, hal ini ditekankan bukan sebagai simbol modernitas, melainkan sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan keramahan khas masyarakat desa kepada wisatawan.

Sejumlah poin yang disoroti dalam temuan tersebut antara lain potensi peningkatan efektivitas pelayanan melalui pengurangan miskomunikasi saat pemesanan, strategi pengembangan sumber daya manusia lewat pelatihan bahasa yang praktis tanpa menghilangkan karakter lokal, serta peningkatan pengalaman wisatawan melalui interaksi budaya yang lebih intim.

Ulasan itu juga menegaskan bahwa pengembangan desa wisata ke depan tidak cukup bertumpu pada keindahan alam. Keramahan yang komunikatif dinilai menjadi kunci. Dengan membekali warga kemampuan dasar Bahasa Prancis, Desa Wisata Sait Buttu disebut berpeluang memperkuat daya tariknya bagi wisatawan mancanegara, tidak hanya melalui pemandangan dan kuliner, tetapi juga lewat komunikasi yang lebih dekat.