Membangun bisnis minuman, khususnya jus, menuntut strategi yang tepat agar mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan. Jus Antara menjadi salah satu contoh brand lokal yang dalam waktu relatif singkat berkembang dari satu gerai menjadi lebih dari 20 cabang di wilayah Jabodetabek. Co-Founder Jus Antara, Reyner Iskandar, memaparkan sejumlah langkah yang mereka jalankan hingga ekspansi perusahaan mencapai 24 gerai dalam dua tahun.
Reyner bercerita, perjalanan bisnisnya di industri makanan dan minuman dimulai pada 2019 melalui usaha yogurt. Dari pengalaman tersebut, ia menangkap perubahan perilaku konsumen yang kian sadar terhadap gaya hidup sehat. Menurutnya, kondisi itu membuka peluang bagi produk minuman yang dinilai menyehatkan sekaligus terjangkau.
“Kesadaran akan pilihan minuman yang lebih sehat terus naik. Jus buah punya potensi market yang sangat besar, apalagi harga yang murah dan terjangkau membuatnya bisa dikonsumsi rutin,” ujar Reyner.
Gagasan menghadirkan Jus Antara, lanjutnya, lahir dari pengamatan terhadap kebutuhan konsumen yang dinilai belum sepenuhnya terlayani. Ia melihat celah pasar di luar dominasi kedai kopi.
“Kami melihat ada peluang menghadirkan konsep kedai dengan produk utama jus buah. Pasarnya sama besarnya dengan kopi di Indonesia,” tambahnya.
Dalam operasional bisnis F&B, Reyner menekankan pentingnya konsistensi rasa dan kualitas. Ia menyebut standar operasional perlu dijaga agar pelanggan mendapatkan pengalaman yang sama di setiap gerai.
“Kami percaya konsistensi produk adalah kunci keberhasilan brand F&B,” katanya.
Selain konsistensi, ekspansi cepat juga dikaitkan dengan kesiapan tim internal. Reyner menyebut pembentukan sumber daya manusia yang solid membuat perusahaan dapat bergerak lebih cepat sekaligus meningkatkan kepercayaan investor.
“Proses ekspansi bisa berjalan cepat karena kami berhasil membentuk tim yang solid. Itu membuat investor percaya dengan potensi Jus Antara,” jelasnya.
Jus Antara juga menonjolkan kolaborasi dengan petani lokal sebagai bagian dari rantai pasok. Buah-buahan dipasok langsung dari kebun untuk menjaga kesegaran, sekaligus ditujukan memberi manfaat berkelanjutan bagi petani.
“Setiap gelas jus yang dinikmati pelanggan adalah wujud kerja sama dengan petani lokal,” ungkap Reyner.
Untuk menjaga relevansi di pasar, perusahaan disebut terus menyiapkan inovasi menu. Reyner menyampaikan, jus alpukat dan kombinasi dua buah menjadi favorit, namun variasi baru tetap disesuaikan dengan tren.
“Kami menyesuaikan menu dengan tren kekinian agar tetap relevan,” ujarnya.
Bagi pihak yang ingin bermitra, Jus Antara menawarkan sistem kemitraan dengan skema autopilot. Reyner menyebut nilai investasi untuk satu gerai sekitar Rp 1,5 miliar, dengan target balik modal kurang dari dua tahun. Dalam skema tersebut, operasional dijalankan oleh manajemen dan hasilnya dibagi sesuai mekanisme bagi hasil.
“Seluruh operasional dijalankan manajemen, hasilnya dibagi sesuai skema bagi hasil,” jelasnya.
Pengalaman Jus Antara menunjukkan bahwa membaca tren, menjaga kualitas, membangun tim yang solid, serta berkolaborasi dengan ekosistem lokal dapat menjadi faktor pendorong pertumbuhan bisnis minuman sehat sekaligus menarik minat investor.

