Program Nutrition Goes to School (NGTS) yang dijalankan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui SEAMEO RECFON (Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition) memasuki satu dekade pelaksanaan. Program ini mendorong pendidikan gizi tidak berhenti pada materi di kelas, melainkan diterapkan menjadi praktik nyata yang berlangsung rutin dan membudaya di sekolah.
Selama 10 tahun, NGTS telah memberikan pelatihan gizi dan kesehatan kepada lebih dari 3.500 guru dan tenaga kependidikan dari 2.430 sekolah. Selain itu, 279 sekolah/madrasah memperoleh pendampingan teknis di Indonesia maupun Asia Tenggara, serta terbentuk 42 Model Sekolah/Madrasah NGTS Mandiri yang tersebar di tujuh wilayah dampingan di Indonesia.
Di Jawa Timur, salah satu praktik penerapan NGTS dilakukan di SMA Negeri 1 Singosari. Guru Biologi sekaligus tim NGTS, Zainal Fanani, menyebut sekolahnya mengembangkan berbagai kegiatan terintegrasi dengan pendidikan gizi, mulai dari kantin sehat, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), edukasi gizi, kebun sekolah, hingga kewirausahaan. “Implementasi NGTS yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Singosari meliputi kantin sehat, pembiasaan praktik gizi baik, edukasi gizi, kebun sekolah, serta kewirausahaan,” ujar Zainal Fanani saat ditemui dalam kegiatan 10 tahun NGTS (23/8).
Melalui kebun sekolah, peserta didik tidak hanya mengenal tanaman, tetapi juga belajar mengolah hasil panen. Pembiasaan hidup sehat juga dilakukan secara rutin melalui kegiatan senam sehat setiap Jumat. Sementara itu, kantin sekolah disebut berhasil meraih penghargaan sebagai kantin sehat nasional juara dua di regional barat. “Di kebun sekolah, kita menyediakan tanaman, termasuk pengolahan pasca panennya,” tuturnya.
Kepala SMA Negeri 1 Singosari, Sri Endang Hidajati, mengatakan keberhasilan pendidikan gizi tidak hanya diukur dari pemahaman peserta didik di sekolah. Menurutnya, pengetahuan dan kebiasaan baik terkait gizi perlu dibawa ke lingkungan keluarga dan kehidupan sehari-hari dengan melibatkan orang tua. “Harapan saya, edukasi gizi kepada murid-murid SMA Negeri 1 Singosari tidak hanya terbatas di ruang sekolah, tetapi juga bisa diimplementasikan di mana pun anak-anak berada, termasuk bekerja sama dengan orang tua untuk mendukung pelaksanaan edukasi gizi ini,” ujar Sri.
Pendekatan berbasis praktik menjadi bagian penting dalam perjalanan NGTS selama satu dekade. Direktur SEAMEO RECFON, Rini Sekartini, menekankan bahwa NGTS tidak hanya berfokus pada edukasi, tetapi juga mendorong sekolah menghasilkan praktik baik yang dapat dilakukan secara reguler. “Hari ini adalah 10 tahun perjalanan NGTS. Tadi kita ketahui bersama bahwa programnya intinya adalah gizi pada anak sekolah, bukan hanya edukasi, tetapi juga praktik baik yang bisa dilakukan, terutama oleh sekolah,” ujarnya.
Rini juga menyebut guru dan kepala sekolah sebagai penggerak utama karena sekolah menjadi motor pelaksanaan program. “Karena penggeraknya ada di sekolah dan dipelopori oleh para guru dan kepala sekolah,” katanya.
Menurut Rini, implementasi program dapat hadir dalam berbagai bentuk, termasuk kebun dan peternakan yang hasilnya dapat dimanfaatkan untuk mendukung asupan gizi anak. “Jadi, semuanya bervariasi, bukan hanya edukasi tetapi juga implementasi. Seperti ada yang membuat kebun, kemudian ada peternakan yang hasilnya bisa digunakan oleh anak-anak untuk mendapatkan asupan nutrisi yang baik,” tuturnya.
Ia menegaskan gizi merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang anak sekaligus investasi untuk masa depan. “Gizi itulah pondasi utama untuk tumbuh kembang anak dan menjadi investasi untuk masa depan, supaya anaknya sehat, kreatif, dan juga memiliki jiwa besar untuk memajukan Indonesia nantinya,” ujarnya.
Kolaborasi Kemendikdasmen melalui SEAMEO RECFON menegaskan peran strategis sekolah sebagai agen perubahan dalam membangun kebiasaan hidup sehat. Memasuki dekade kedua, NGTS diharapkan tidak hanya memperluas praktik baik di Indonesia, tetapi juga membuka ruang berbagi pengalaman dengan negara-negara Asia Tenggara agar praktik gizi dan kesehatan berbasis sekolah terus berkembang dan berkelanjutan.