BERITA TERKINI
Sleepmaxxing, Tren Viral “Memaksimalkan” Tidur: Mana yang Terbukti dan Apa Risikonya?

Sleepmaxxing, Tren Viral “Memaksimalkan” Tidur: Mana yang Terbukti dan Apa Risikonya?

Istilah sleepmaxxing belakangan ramai di media sosial, terutama TikTok. Tren ini merujuk pada upaya “memaksimalkan” kualitas dan durasi tidur lewat beragam teknik, produk, dan ritual malam. Namun, di balik popularitasnya, sleepmaxxing bukanlah konsep medis yang terdefinisi secara ilmiah, melainkan istilah populer yang lahir dari budaya biohacking dan self-optimization.

Fenomena ini juga menandai pergeseran cara pandang: jika dulu kurang tidur kerap dianggap sebagai “lencana kehormatan” produktivitas, kini tidur semakin dipahami sebagai pilar kesehatan yang penting. Meski begitu, para ahli mengingatkan bahwa tidak semua praktik yang viral benar-benar didukung bukti ilmiah, dan obsesi terhadap tidur “sempurna” justru bisa berdampak buruk.

Apa itu sleepmaxxing dan mengapa muncul?

Secara umum, sleepmaxxing mencakup berbagai strategi untuk mengoptimalkan tidur. Istilah ini banyak digunakan di kalangan Gen Z dan milenial yang menaruh perhatian besar pada kesehatan mental dan menganggap tidur berkualitas sebagai fondasi kesejahteraan.

Di media sosial, sejumlah influencer membagikan rutinitas yang mereka klaim dapat meningkatkan energi, daya ingat, suasana hati, hingga sistem kekebalan tubuh. Praktik yang sering muncul antara lain:

Rekayasa lingkungan: mengatur suhu kamar menjadi sangat dingin, memakai tirai blackout, mesin white noise, hingga selimut berbobot.

Konsumsi suplemen: seperti magnesium, melatonin, atau ramuan yang populer disebut “sleepy girl mocktail”.

Modifikasi rutinitas: mandi air hangat sekitar satu jam sebelum tidur, meditasi, atau membatasi kafein dan alkohol.

Praktik ekstrem: mouth taping (menutup mulut dengan plester saat tidur) yang viral, tetapi menuai kontroversi.

Sleepmaxxing vs sleep hygiene: mana yang berbasis bukti?

Pertanyaan kuncinya adalah apakah semua teknik sleepmaxxing efektif. Jawabannya tidak selalu. Sejumlah strategi yang dipromosikan sebenarnya merupakan praktik dasar kebersihan tidur (sleep hygiene) yang sudah lama dikenal dalam pengobatan tidur.

Istilah sleepmaxxing sendiri tidak ditemukan dalam basis data ilmiah seperti PubMed, sehingga konsepnya sebagai satu paket belum diuji secara klinis. Dr. Eric Zhou dari Harvard Medical School menilai beberapa rekomendasi memang sejalan dengan sains, seperti menjaga konsistensi jadwal tidur, mengurangi paparan layar pada malam hari, serta menciptakan kamar yang gelap dan sejuk. Namun, ia juga menyoroti bahwa banyak klaim lain hanya bertumpu pada testimoni dan berpotensi mengandung kekeliruan ilmiah.

Dokter spesialis tidur dari UW Medicine, Dr. Vishesh Kapur, mengelompokkan sejumlah praktik sebagai “sangat membantu” berdasarkan bukti. Sementara itu, ada pula praktik yang hanya “kadang membantu” atau bahkan “mungkin tidak berguna”, terutama jika diterapkan tanpa mempertimbangkan kondisi individu.

Praktik yang diperdebatkan dan potensi risikonya

Beberapa contoh praktik yang kerap dipromosikan tetapi dinilai belum memiliki bukti kuat untuk semua orang antara lain:

Mouth taping: tinjauan ilmiah disebut belum menemukan bukti kuat bahwa menutup mulut saat tidur bermanfaat secara umum. Praktik ini juga berisiko bagi orang dengan masalah pernapasan hidung atau sleep apnea.

Makan kiwi sebelum tidur: ada bukti awal dari studi kecil, tetapi belum cukup kuat untuk menjadi rekomendasi umum.

Sleep tracking: perangkat pelacak tidur populer, tetapi Dr. Kapur mengingatkan bahwa terlalu fokus pada data dapat memicu kecemasan dan justru merusak tidur.

Risiko di balik obsesi: orthosomnia

Salah satu dampak yang dikhawatirkan dari tren ini adalah munculnya orthosomnia, yakni obsesi tidak sehat untuk mencapai tidur yang “sempurna”. Orang yang mengalaminya bisa sangat terpaku pada data dari perangkat wearable, merasa gagal ketika skor tidur rendah, dan terdorong mencoba langkah-langkah ekstrem untuk “memperbaiki” tidur.

Paradoksnya, upaya mengontrol tidur secara berlebihan dapat menjadi sumber stres dan kecemasan yang justru menghambat proses tidur. Para ahli menekankan bahwa satu-dua malam tidur buruk adalah hal wajar dan tidak perlu dipanikkan. Targetnya bukan kesempurnaan, melainkan kebiasaan yang “cukup baik” dan fleksibel.

Kapan perlu bantuan profesional?

Jika seseorang sudah menerapkan dasar-dasar kebersihan tidur tetapi tetap mengalami kesulitan tidur yang signifikan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasi dengan tenaga profesional disarankan. Psikolog atau psikiater dapat melakukan asesmen menyeluruh untuk memahami kondisi dan langkah penanganan yang tepat.

Kembali ke dasar: langkah yang direkomendasikan

Para ahli menekankan bahwa mengelola tidur berkualitas merupakan perjalanan, bukan perlombaan menuju kesempurnaan. Alih-alih terjebak pada ritual rumit yang viral, fondasi yang didukung bukti ilmiah dinilai lebih relevan, antara lain:

Konsistensi jadwal: tidur dan bangun di jam yang sama setiap hari, termasuk akhir pekan, untuk membantu mengatur jam biologis.

Optimalkan lingkungan kamar: buat kamar gelap, tenang, dan sejuk. Suhu ideal tidur disebut berada pada kisaran 15,6–19,4°C.

Batasi stimulan dan alkohol: hindari kafein pada sore hari dan batasi alkohol menjelang tidur karena dapat mengganggu arsitektur tidur.

Aturan 80/20: psikolog Dr. Liora Kempler menyarankan pendekatan 80/20—menerapkan kebiasaan tidur baik 80% dari waktu, sementara 20% sisanya tidak akan merusak pola tidur secara keseluruhan. Pendekatan ini memberi ruang fleksibilitas, termasuk untuk bersosialisasi, tanpa rasa takut “gagal” tidur.

Jangan terobsesi pada data: pelacak tidur sebaiknya dipakai sebagai panduan kasar, bukan ukuran absolut kesehatan. Kondisi tubuh pada siang hari dapat menjadi indikator yang lebih bermakna.

Catatan: Informasi ini bersifat edukasi dan pengetahuan umum, bukan pengganti saran medis. Jika mengalami gangguan tidur yang parah atau berkepanjangan, disarankan berkonsultasi dengan dokter spesialis tidur atau psikolog untuk diagnosis dan penanganan yang tepat.