Menanam cabai di pekarangan rumah kian diminati, terutama di lingkungan perkotaan. Selain membantu menghemat kebutuhan dapur, perawatan tanaman cabai juga memberi kepuasan tersendiri ketika memasuki masa panen. Sejumlah bahan yang umum ditemukan di dapur ternyata dapat dimanfaatkan untuk membantu menyuburkan tanaman cabai, sehingga tidak selalu bergantung pada pupuk kimia sintetis.
Pemanfaatan sisa bahan organik dari dapur sekaligus menjadi cara mengelola limbah rumah tangga dan mendukung praktik berkebun yang lebih ramah lingkungan. Limbah dapur diketahui mengandung makronutrien penting seperti nitrogen, fosfor, dan kalium yang dibutuhkan tanaman sejak fase pertumbuhan hingga pembuahan. Berikut beberapa bahan dapur yang bisa dimanfaatkan untuk membantu pertumbuhan cabai di rumah.
1. Cangkang telur
Cangkang telur mengandung kalsium karbonat yang dibutuhkan tanaman cabai untuk membantu memperkuat struktur dinding sel, sehingga tanaman tidak mudah patah saat terkena angin. Kalsium juga disebut berperan dalam mencegah blossom end rot atau kebusukan pada ujung buah. Cara penggunaannya: cangkang telur dicuci, dikeringkan, ditumbuk halus, lalu ditaburkan di sekitar pangkal tanaman.
2. Ampas kopi
Ampas kopi mengandung nitrogen yang penting untuk merangsang pertumbuhan daun dan batang agar lebih rimbun. Selain menambah nutrisi, ampas kopi dapat membantu memperbaiki struktur kepadatan tanah dan mengundang cacing tanah sebagai penggembur alami. Ampas kopi bisa dicampurkan sedikit demi sedikit ke media tanam atau dijadikan bahan campuran kompos.
3. Kulit pisang
Kulit pisang dikenal sebagai sumber kalium alami yang dibutuhkan tanaman cabai untuk mendukung pembentukan bunga dan buah serta membantu mencegah bunga rontok. Pemanfaatannya dapat dilakukan dengan memotong kulit pisang kecil-kecil lalu menguburnya di dekat akar. Alternatif lain, kulit pisang dapat direndam beberapa hari untuk dijadikan pupuk cair.
4. Air cucian beras
Air cucian beras, terutama dari bilasan pertama dan kedua, mengandung vitamin B, karbohidrat, serta mineral yang dapat merangsang pertumbuhan akar. Kandungan tersebut juga membantu bakteri baik di dalam tanah berkembang. Air cucian beras dapat disiramkan secara rutin sekitar satu hingga dua kali seminggu.
5. Kulit bawang merah dan putih
Kulit bawang mengandung antioksidan, kalsium, zat besi, dan kalium. Selain berfungsi sebagai sumber nutrisi, bahan ini juga disebut memiliki aroma dan senyawa yang dapat membantu mengusir hama. Penggunaannya dapat dilakukan dengan merendam segenggam kulit bawang selama 24 jam, lalu air rendamannya disaring untuk disemprotkan ke daun atau disiramkan ke tanah.
6. Garam Epsom
Garam Epsom (magnesium sulfat) digunakan sebagai sumber magnesium yang dibutuhkan tanaman untuk mendukung fotosintesis dan penyerapan nutrisi. Tanda kekurangan magnesium pada cabai disebut dapat berupa daun menguning sementara urat daun tetap hijau. Larutan dapat dibuat dengan mencampurkan satu sendok teh garam Epsom ke dalam satu liter air, lalu disemprotkan pada daun setiap dua minggu.
7. Kantong teh bekas
Kantong teh bekas mengandung asam tanat dan sejumlah nutrisi mikro yang dapat membantu memperbaiki porositas serta kualitas tanah. Ampas teh yang membusuk secara perlahan akan melepaskan nutrisi bertahap. Ampasnya dapat ditaburkan ke tanah, dengan catatan kantong teh yang digunakan berbahan kertas atau organik dan tidak mengandung plastik agar mudah terurai.
8. Sisa susu cair
Susu cair yang tidak habis atau sudah lewat masa kedaluwarsa dapat dimanfaatkan karena mengandung kalsium dan protein. Dalam penggunaan yang disebut tepat, susu dapat membantu mencegah penyakit jamur pada daun serta memperkuat daya tahan tanaman. Namun susu murni berisiko menimbulkan bau dan mengundang bakteri, sehingga dianjurkan untuk diencerkan dengan air perbandingan satu banding satu sebelum disiramkan perlahan ke area perakaran.
9. Air rebusan sayur
Air rebusan sayuran hijau, kentang, atau pasta dapat mengandung vitamin dan mineral yang larut selama proses perebusan. Air ini bisa dimanfaatkan sebagai pupuk cair, dengan syarat telah dingin pada suhu ruang serta tidak mengandung garam atau bumbu penyedap. Air rebusan tersebut dapat digunakan untuk menyiram media tanam sebagai pengganti jadwal penyiraman biasa.
Catatan penggunaan
Untuk air cucian beras, frekuensi yang disebutkan adalah satu hingga dua kali seminggu. Ampas kopi dapat ditaburkan langsung, tetapi tipis agar tidak menggumpal dan memicu jamur; lebih baik dicampur dengan tanah atau dijadikan kompos. Sementara itu, air rebusan sayur yang sudah diberi garam tidak disarankan karena kandungan natrium dapat merusak perakaran.