Persoalan sampah di Lombok, Nusa Tenggara Barat, dapat dimulai dari langkah sederhana di rumah, khususnya di area dapur. Salah satunya dengan tidak mencampurkan sisa sayur dan sampah organik lainnya dengan botol plastik atau bahan anorganik. Pemilahan sejak awal membantu menjaga material yang masih bisa diolah agar tidak terlanjur menjadi tumpukan kotor.
Praktiknya, warga dapat menyiapkan wadah terpisah untuk sampah organik dan anorganik yang berpotensi didaur ulang. Wadah tersebut dapat diberi penanda agar penghuni rumah tidak keliru. Alih-alih membeli perlengkapan baru, keluarga juga bisa memanfaatkan wadah bekas yang masih layak, dengan catatan mudah dibersihkan dan dirawat secara rutin.
Sisa potongan sayur, kulit buah, dan bahan dapur yang mudah membusuk termasuk kategori organik. Sementara itu, botol plastik, kaleng, dan kemasan kaca dipisahkan berdasarkan jenis bahannya. Namun, tidak semua sampah anorganik otomatis dapat diterima untuk dijual atau disetorkan, karena penerimaan bergantung pada pengelola dan jalur pengolahan yang tersedia.
Untuk kemasan yang masih menyisakan makanan, isinya sebaiknya dikosongkan, dibersihkan seperlunya, lalu dikeringkan sebelum disimpan untuk disetor. Pecahan kaca juga perlu ditempatkan secara aman. Meski terlihat sederhana, kebiasaan mencampurkan kembali seluruh isi wadah saat pengangkutan dapat membuat upaya pemilahan dari rumah menjadi tidak berarti.
Bagi rumah tangga yang memiliki wadah, ruang, dan kesiapan merawat prosesnya, sampah organik dapat diolah melalui pengomposan. Pengolahan dapat dimulai dari bahan nabati seperti sisa sayuran dan kulit buah, sambil mengikuti panduan metode yang digunakan agar prosesnya berjalan terarah dan tidak sekadar menumpuk sampah.
Dorongan memilah sampah dari rumah juga mendapat dukungan melalui kegiatan PLN Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara bersama Komunitas Gerakan Lingkungan Sampah Nihil (Gelisah) di Mataram. Berdasarkan laporan ANTARA pada 30 Juni 2026, program tersebut berlangsung di Lingkungan Banjar, Kecamatan Ampenan.
Program tanggung jawab sosial dan lingkungan itu mengusung Print Daur Anti Sumbat dan digitalisasi bank sampah, disertai dukungan peralatan pengolahan sampah organik maupun anorganik. Penguatan fasilitas operasional komunitas juga dibarengi pengembangan platform digital, sehingga kegiatan tidak berhenti pada penyerahan alat.